Memuat...

Laporan Dewan Keamanan Menyoroti Perbedaan Pendapat Mengenai Afghanistan

Hanin Mazaya
Rabu, 3 Juni 2026 / 18 Zulhijah 1447 15:15
Laporan Dewan Keamanan Menyoroti Perbedaan Pendapat Mengenai Afghanistan
(Foto: Tolo News)

JENEWA (Arrahmah.id) - Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dalam laporan terbarunya, telah menyoroti perbedaan di antara anggota tetapnya mengenai Afghanistan.

Menurut laporan tersebut, meskipun anggota tetap memiliki pandangan yang sama tentang isu-isu seperti pembentukan pemerintahan inklusif, kepatuhan terhadap komitmen internasional, dan pencegahan Afghanistan menjadi sumber terorisme, mereka berbeda pendapat tentang bagaimana tujuan-tujuan ini harus dicapai.

Laporan tersebut menyatakan bahwa Rusia dan Cina mendukung keterlibatan dan dialog dengan Afghanistan tanpa meningkatkan tekanan politik dan telah menyerukan pencabutan sanksi terhadap aset dan pejabat Imarah Islam, lansir Tolo News (3/6/2026).

Namun, Amerika Serikat telah mengidentifikasi prioritas utamanya di Afghanistan sebagai perlindungan warga negara Amerika, pengurangan ancaman terorisme, dan pembebasan warga negara AS yang ditahan.

Laporan Dewan Keamanan menyatakan: “Cina dan Rusia, pada bagian mereka, berpendapat bahwa komunitas internasional harus memberikan bantuan ekonomi dan pembangunan kepada Afghanistan tanpa mengaitkannya dengan isu-isu lain, seperti hak-hak perempuan dan anak perempuan, dan mendukung keterlibatan dan dialog tanpa peningkatan tekanan.”

Mengomentari masalah ini, analis politik Sangar Amirzadeh mengatakan: “Perbedaan antara Amerika Serikat, Rusia, dan Cina sangat signifikan. Akan bermanfaat jika mereka dapat fokus pada titik temu terkait Afghanistan dan mengambil langkah-langkah yang melayani kepentingan semua pihak.”

Laporan tersebut juga membahas isu-isu lain, termasuk keamanan, hak asasi manusia, ketegangan antara Afghanistan dan Pakistan, krisis kemanusiaan, dan pemulangan migran ke Afghanistan.

Dewan Keamanan menekankan bahwa salah satu isu utama dalam pertemuan mendatangnya adalah perpanjangan mandat UNAMA, yang sebelumnya hanya diperpanjang selama tiga bulan atas permintaan Amerika Serikat.

Analis politik Sayed Qaribullah Sadat mengatakan: “Afghanistan telah melewati fase krisis dan sekarang membutuhkan kerja sama dan dukungan dari komunitas internasional. Harapan kami adalah negara-negara pasca-konflik harus didukung, bukan dijadikan arena persaingan.”

Imarah Islam belum memberikan komentar baru-baru ini mengenai laporan tersebut. Namun, mereka secara konsisten mendukung posisi Rusia dan Cina terkait keterlibatan dengan Afghanistan dan pencabutan sanksi terhadap aset dan pejabat Imarah Islam. (haninmazaya/arrahmah.id)