ILLINOIS (Arrahmah.id) -- Pemerintah daerah Bridgeview, Negara Bagian Illinois, Amerika Serikat, secara resmi mengabadikan nama bocah Palestina-Amerika Wadea Al-Fayoume sebagai nama sebuah ruas jalan untuk mengenang korban kebencian anti-Muslim yang tewas akibat penikaman pada Oktober 2023.
Dilansir TRT World (12/7/2026), peresmian Wadea Al-Fayoume Street dilakukan dalam sebuah upacara pada Ahad (12/7) waktu setempat dan dihadiri keluarga korban, pejabat daerah, tokoh masyarakat, serta komunitas Palestina di Amerika Serikat. Langkah tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap Wadea sekaligus seruan untuk melawan kejahatan berbasis kebencian.
Wadea Al-Fayoume yang saat itu berusia enam tahun meninggal dunia setelah ditikam puluhan kali oleh pemilik rumah tempat ia dan ibunya menyewa kamar di Plainfield, Illinois, pada 14 Oktober 2023.
Penyelidikan aparat penegak hukum menyimpulkan bahwa serangan tersebut dipicu sentimen anti-Muslim dan anti-Palestina yang meningkat setelah pecahnya perang di Gaza.
Ibunya, Hanaan Shahin, mengalami luka serius namun berhasil selamat dari serangan itu. Peristiwa tersebut memicu kecaman luas di Amerika Serikat dan dunia internasional.
Ruas jalan yang kini menggunakan nama Wadea berada di kawasan Little Palestine, Bridgeview, komunitas yang dikenal sebagai salah satu pusat diaspora Palestina terbesar di Amerika Serikat.
Pemerintah setempat menyatakan penamaan jalan itu merupakan bentuk penghormatan kepada Wadea sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga toleransi, keberagaman, dan perlindungan terhadap seluruh warga tanpa memandang latar belakang agama maupun etnis.
Dalam upacara peresmian, ibu Wadea, Hanaan Shahin, menyampaikan rasa harunya atas penghormatan tersebut.
“Nama Wadea kini akan terus hidup di tempat ini. Saya berharap setiap orang yang melihat nama jalan ini akan mengingat bahwa cinta dan kemanusiaan harus selalu mengalahkan kebencian,” kata Hanaan Shahin dalam pidatonya.
Wali Kota Bridgeview, Steven Landek, mengatakan penamaan jalan tersebut bukan sekadar mengganti papan nama, melainkan bentuk komitmen pemerintah daerah untuk menolak segala bentuk kebencian.
“Wadea menjadi simbol kepolosan yang direnggut oleh kebencian. Kota ini ingin memastikan kisahnya tidak pernah dilupakan dan menjadi pengingat bahwa tidak ada tempat bagi kebencian di komunitas kami,” ujar Steven Landek.
Peresmian jalan itu mendapat sambutan dari organisasi masyarakat Palestina dan kelompok hak sipil di Amerika Serikat. Mereka menilai langkah tersebut sebagai bentuk pengakuan terhadap penderitaan yang dialami keluarga Wadea sekaligus pesan bahwa korban kejahatan kebencian tidak boleh dilupakan.
Sejumlah tokoh masyarakat juga berharap nama Wadea dapat menjadi simbol perdamaian di tengah meningkatnya polarisasi akibat konflik Israel-Palestina.
Kasus pembunuhan Wadea Al-Fayoume menjadi perhatian internasional setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat menetapkannya sebagai kejahatan bermotif kebencian.
Tersangka, Joseph Czuba, telah didakwa atas pembunuhan tingkat pertama, percobaan pembunuhan, serta kejahatan kebencian dan dijatuhi hukuman penjara setelah dinyatakan bersalah oleh pengadilan Illinois.
Penamaan Wadea Al-Fayoume Street menjadi salah satu bentuk penghormatan paling nyata yang diberikan kepada korban sejak tragedi tersebut terjadi.
Bagi komunitas Palestina di Amerika Serikat, jalan itu tidak hanya mengenang seorang anak yang kehilangan nyawanya akibat kebencian, tetapi juga menjadi simbol perjuangan melawan diskriminasi, intoleransi, dan kekerasan berbasis identitas yang masih terjadi di berbagai belahan dunia. (hanoum/arrahmah.id)
