AL-QUDS (Arrahmah.id) – Knesset atau parlemen "Israel" mengumumkan bahwa pemilu legislatif akan digelar pada 27 Oktober 2026, yang merupakan batas waktu terakhir sesuai ketentuan hukum. Pemilu ini dipandang sebagai referendum politik terhadap kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sejak meletusnya perang Gaza pada 7 Oktober 2023.
Masa jabatan Knesset saat ini akan berakhir pada 17 Juli, sehingga koalisi pemerintahan memiliki kesempatan untuk menuntaskan masa baktinya selama empat tahun.
Netanyahu (76), yang merupakan perdana menteri dengan masa jabatan terlama dalam sejarah "Israel", telah memastikan akan kembali maju dalam pemilu mendatang. Bulan lalu ia menyatakan ingin membentuk "pemerintahan nasional yang luas", bukan pemerintahan sayap kanan maupun kiri yang bergantung pada partai-partai Arab.
Namun, sejumlah survei terbaru menunjukkan mayoritas warga "Israel" menginginkan Netanyahu lengser dari kekuasaan. Sejumlah tokoh politik pun mulai menguat sebagai penantangnya.

Gadi Eisenkot
Mantan Kepala Staf Militer Gadi Eisenkot (66) menjadi salah satu kandidat terkuat. Popularitasnya meningkat setelah putranya, Gal Eisenkot, gugur dalam agresi militer "Israel" di Jalur Gaza, disusul dua keponakannya yang juga tewas.
Eisenkot pernah menjadi sekretaris militer bagi mantan Perdana Menteri Ehud Barak dan Ariel Sharon sebelum memasuki dunia politik pada 2022 bersama Benny Gantz. Ia juga sempat menjadi anggota kabinet perang Netanyahu hingga mengundurkan diri pada Juni 2024.
Pada 2025, ia mendirikan partai baru bernama Yashar (Lurus). Beberapa survei bahkan menempatkannya untuk pertama kalinya unggul atas Netanyahu sebagai figur yang paling layak menjadi perdana menteri.

Naftali Bennett
Mantan Perdana Menteri Naftali Bennett (54) juga disebut sebagai pesaing utama Netanyahu. Tokoh sayap kanan nasionalis itu sebelumnya dikenal sebagai pengusaha di sektor teknologi dan pernah memimpin Dewan Yesha, organisasi utama yang mewakili permukiman Yahudi di Tepi Barat yang diduduki.
Pada 2021, Bennett membentuk koalisi pemerintahan yang berhasil mengakhiri 12 tahun pemerintahan Netanyahu. Meski pemerintahannya hanya bertahan sekitar satu tahun, Bennett kini kembali aktif di panggung politik setelah perang Gaza.
Meski tetap menolak pembentukan negara Palestina dan memiliki sikap keras dalam isu keamanan, sebagian pemilih menilai Bennett lebih pragmatis dan tidak terlalu memecah belah dibanding Netanyahu.

Yair Lapid
Ketua oposisi Yair Lapid (62) juga tetap menjadi salah satu tokoh sentral dalam persaingan politik "Israel". Mantan jurnalis dan pembawa acara televisi itu mendirikan Partai Yesh Atid pada 2012 dan telah lama menjadi rival utama Netanyahu.
Lapid pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan, Menteri Luar Negeri, serta sempat menjadi perdana menteri pada 2022 melalui kesepakatan rotasi dengan Bennett.
Sebagai tokoh liberal dan sekuler, Lapid dikenal memimpin penolakan terhadap reformasi sistem peradilan yang memicu perpecahan besar di tengah masyarakat "Israel".

Avigdor Lieberman
Nama lain yang diperkirakan akan meramaikan persaingan adalah Avigdor Lieberman (67), pendiri Partai Yisrael Beiteinu.
Lahir di Moldova saat masih menjadi bagian dari Uni Soviet, Lieberman hijrah ke "Israel" pada akhir 1970-an dan pernah menjadi orang dekat Netanyahu, bahkan menjabat sebagai kepala staf kantornya.
Sepanjang karier politiknya, ia pernah memimpin tiga kementerian penting, yakni Kementerian Luar Negeri, Pertahanan, dan Keuangan.
Lieberman dikenal berhaluan nasionalis sekuler dan kerap mengkritik Netanyahu, termasuk terkait kebijakan yang dinilai terlalu mengakomodasi komunitas Yahudi ultra-Ortodoks (Haredi). Ia juga terus mendorong wajib militer bagi kalangan Haredi.

Mantan Rabi Agung Sebut Netanyahu "Pembohong"
Di tengah persiapan pemilu, mantan Rabi Agung "Israel", Yitzhak Yosef, melontarkan kritik keras terhadap Netanyahu. Dalam percakapan tertutup yang dikutip Radio Militer "Israel", Yosef menyebut Netanyahu sebagai "pembohong yang tidak dapat dipercaya."
Menurut Yosef, Netanyahu telah mengingkari janji kepada partai-partai Haredi, terutama terkait rancangan undang-undang yang membebaskan pelajar agama dari wajib militer.
Ia bahkan mengisyaratkan kemungkinan mendukung Partai Yashar yang dipimpin Gadi Eisenkot pada pemilu mendatang, alih-alih kembali memberikan dukungan kepada Netanyahu.
Sementara itu, Partai Likud dijadwalkan menggelar pemilihan pendahuluan pada 4 Agustus untuk menentukan daftar calon anggota Knesset sekaligus memilih ketua partai menjelang pemilu Oktober.
(Samirmusa/arrahmah.id)
