Memuat...

Pemuda Muhammadiyah Jatiasih Gelar KAM Academy, Bedah Fikih Informasi dan Literasi Digital di Era Luapan Informasi

Ameera
Senin, 5 Oktober 2026 / 24 Rabiulakhir 1448 22:19
Pemuda Muhammadiyah Jatiasih Gelar KAM Academy, Bedah Fikih Informasi dan Literasi Digital di Era Luapan Informasi
Pemuda Muhammadiyah Jatiasih Gelar KAM Academy, Bedah Fikih Informasi dan Literasi Digital di Era Luapan Informasi

BEKASI (Arrahmah.id) — Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Jatiasih, Kota Bekasi, kembali menggelar KAM Academy, program pelatihan yang dirancang sebagai ruang belajar dan pengembangan kapasitas generasi muda.

Kegiatan berlangsung pada Ahad (4/10) di Gedung BLK Masjid Abdullah AbdulAziz Almani.

Pada sesi kali ini, KAM Academy mengangkat tema “Pengantar Literasi Digital: Bagaimana Informasi Membentuk Cara Kita Berpikir?” dengan menghadirkan jurnalis dan pegiat literasi, Fajar Shadiq, S.Pd.I., S.Sos., M.Si., sebagai narasumber utama.

Dalam pemaparannya, Fajar mengajak peserta membedah secara kritis dinamika ruang digital yang saat ini dipenuhi luapan informasi. Menurutnya, kondisi tersebut membuat kemampuan memilah, memahami, dan memverifikasi informasi menjadi semakin penting.

Ia juga menekankan perlunya membangun benteng etika dalam mengonsumsi dan menyebarkan informasi dengan berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Dari Kelangkaan Menuju Kelimpahan Informasi

Mengawali materi, Fajar menjelaskan bahwa masyarakat modern tengah mengalami perubahan besar dalam cara memperoleh informasi. Jika sebelumnya masyarakat menghadapi keterbatasan sumber informasi atau information scarcity, kini mereka justru hidup dalam situasi information abundance, yakni kelimpahan informasi.

“Dalam 24 jam terakhir, berapa banyak informasi yang masuk ke kepala kita? Masalah literasi digital saat ini bukan lagi sekadar akses terhadap informasi, melainkan kemampuan dalam mengelola informasi tersebut,” ujar Fajar.

Menurutnya, derasnya arus informasi tidak secara otomatis membuat seseorang semakin berpengetahuan. Informasi yang diterima tetap perlu diproses agar dapat menghasilkan pemahaman dan penilaian yang matang.

Fajar menjelaskan, masyarakat perlu mampu membedakan antara data mentah, informasi, pengetahuan, hingga penilaian sebelum mengambil keputusan.

Dengan demikian, kemampuan literasi digital bukan hanya persoalan bisa menggunakan perangkat teknologi atau mengakses media sosial, tetapi juga kemampuan berpikir kritis terhadap informasi yang diterima.

Algoritma Tidak Selalu Netral

Fajar kemudian mengajak peserta melihat kembali kebiasaan mereka dalam menggunakan gawai dan media sosial.

Menurutnya, layar yang setiap hari ditatap pengguna bukanlah jendela informasi yang sepenuhnya netral. Apa yang muncul di layar merupakan hasil interaksi yang kompleks antara pengguna, platform, algoritma, dan konteks sosial.

Kondisi tersebut dapat memunculkan fenomena filter bubble, yakni keadaan ketika seseorang semakin banyak menerima informasi yang sesuai dengan preferensi dan perilaku digitalnya.

Selain itu, terdapat pula echo chamber, yaitu lingkungan digital yang cenderung terus memperkuat pandangan tertentu karena seseorang lebih banyak berinteraksi dengan orang atau kelompok yang memiliki pandangan serupa.

Jika tidak disadari, kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa bahwa informasi yang muncul di beranda media sosial merupakan gambaran keseluruhan realitas.

Padahal, informasi yang diterima setiap orang dapat berbeda karena dipengaruhi oleh algoritma dan pola interaksi masing-masing.

Viral Bukan Berarti Benar

Dalam sesi tersebut, Fajar juga mengingatkan peserta agar tidak menjadikan jumlah tayangan, komentar, maupun penyebaran sebuah konten sebagai ukuran kebenaran.

“Virality adalah ukuran penyebaran, bukan ukuran kebenaran,” tegas Fajar.

Menurutnya, sebuah informasi dapat menjadi viral karena menarik perhatian, memancing emosi, kontroversial, atau dikemas dengan cara yang membuat orang terdorong untuk membagikannya. Hal tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa informasi tersebut benar.

Karena itu, pengguna media digital perlu membangun kebiasaan berhenti sejenak sebelum mempercayai maupun menyebarkan sebuah informasi.

Kenali Ciri Informasi yang Perlu Diperiksa

Fajar kemudian memaparkan sejumlah ciri informasi yang patut diwaspadai dan diperiksa kembali kebenarannya.

Di antaranya adalah judul clickbait, klaim yang terlalu absolut, informasi yang tidak mencantumkan sumber secara jelas, screenshot tanpa konteks, serta potongan video yang telah kehilangan konteks dari peristiwa sebenarnya.

Ia juga mengingatkan mengenai informasi lama yang kembali diunggah seolah-olah merupakan peristiwa baru. Praktik semacam ini dapat membuat masyarakat salah memahami waktu dan konteks sebuah kejadian.

Karena itu, menurut Fajar, proses verifikasi perlu menjadi kebiasaan sebelum seseorang menyimpulkan atau menyebarkan informasi.

Literasi digital juga perlu ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab moral. Dalam perspektif keislaman, informasi tidak hanya berkaitan dengan benar atau salah secara faktual, tetapi juga menyangkut tanggung jawab ketika seseorang menyampaikannya kepada orang lain.

Membangun Etika di Tengah Banjir Informasi

Melalui materi “Fikih Informasi” dan literasi digital, KAM Academy mendorong peserta untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang aktif, tetapi juga pengguna yang kritis dan bertanggung jawab.

Kemampuan menyaring informasi menjadi semakin penting karena setiap orang kini bukan hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga dapat menjadi produsen dan penyebar informasi.

Satu unggahan, komentar, maupun pesan yang diteruskan dapat menjangkau banyak orang dalam waktu singkat. Karena itu, kemampuan memastikan informasi sebelum menyebarkannya menjadi bagian penting dari etika bermedia digital.

Kegiatan KAM Academy ini sekaligus memperkuat misi Katanya Anak Muda (KAM) sebagai ruang belajar yang mempertemukan isu-isu aktual dengan kebutuhan generasi muda.

Melalui pendekatan literasi digital yang kritis dan berbasis nilai, Pemuda Muhammadiyah Jatiasih berharap generasi muda tidak mudah terseret arus informasi, tetapi mampu memahami bagaimana informasi bekerja, mengenali bias, melakukan verifikasi, serta mengambil keputusan secara lebih bijak.

Dengan demikian, literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, melainkan kemampuan menjaga cara berpikir, sikap, dan tanggung jawab di tengah derasnya arus informasi.

(ameera/arrahmah.id)