RIYADH (Arrahmah.id) -- Arab Saudi tengah menyiapkan kemungkinan operasi militer melalui laut dan darat untuk merebut kembali kawasan strategis Selat Bab el-Mandeb dari milisi Syiah Houtsi di Yaman. Menurut laporan eksklusif Reuters (2/10/2026), operasi yang direncanakan dalam beberapa pekan mendatang itu dapat melibatkan lebih dari 100.000 personel pasukan Yaman yang didukung serangan udara Saudi.
Reuters, yang mengutip enam pejabat regional dan Barat, melaporkan bahwa Riyadh mempertimbangkan dua skenario. Opsi pertama adalah operasi terbatas untuk merebut kembali wilayah pesisir di sekitar Bab el-Mandeb. Opsi kedua berupa serangan yang lebih luas dan terkoordinasi di sejumlah front, termasuk Provinsi Al-Bayda, Marib, Taiz, dan Al-Jawf.
Salah satu tujuan utama rencana tersebut adalah memulihkan akses pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Selat ini merupakan bagian penting dari rute perdagangan antara Eropa dan Asia.
Menurut pejabat yang dikutip Reuters, kemajuan militer Houtsi di sepanjang pesisir barat Yaman pada September telah meningkatkan kekhawatiran Riyadh terhadap keamanan pelayaran dan pengiriman minyak melalui Laut Merah.
Ketegangan meningkat setelah Houtsi mengumumkan blokade terhadap kapal-kapal Saudi pada Juli lalu. Kelompok tersebut juga melancarkan serangan menggunakan rudal dan pesawat nirawak terhadap sasaran yang terkait dengan Arab Saudi.
Riyadh memandang kendali Houtsi atas kawasan Bab el-Mandeb sebagai hambatan bagi dimulainya kembali perundingan perdamaian dengan kelompok tersebut.
Dalam persiapan menghadapi kemungkinan eskalasi, Arab Saudi juga memperoleh dukungan dari sejumlah mitra internasional. Amerika Serikat dilaporkan menyediakan informasi intelijen, termasuk informasi untuk membantu penentuan sasaran serangan udara.
Turki dan Pakistan telah memasok peralatan militer, sedangkan Prancis mengumumkan bantuan sistem pertahanan untuk melindungi pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Namun, sumber Reuters menyebut negara-negara mitra Saudi tidak diperkirakan terlibat langsung dalam pertempuran di Yaman.
Meski demikian, rencana tersebut menghadapi tantangan besar. Pasukan anti-Houtsi di Yaman terdiri atas berbagai faksi yang tidak selalu memiliki kepentingan dan komando yang sama. Analis Yaman Mohammed Albasha mengatakan kepada Reuters bahwa sejumlah kelompok anti-Houtsi belum terorganisasi atau siap menjalankan ofensif berkelanjutan terhadap pasukan Houtsi. (hanoum/arrahmah.id)
