GAZA (Arrahmah.id) - Ali al-Amoudi merupakan salah satu tokoh berpengaruh dalam struktur Hamas di Jalur Gaza. Pria kelahiran Khan Yunis, 24 Februari 1975, ini bergabung dengan Hamas sejak muda dan menghabiskan hampir 20 tahun di penjara 'Israel'.
Namanya semakin menonjol setelah pecahnya perang di Gaza pada Oktober 2023. Setelah Yahya Sinwar dan wakilnya, Rawhi Mushtaha, gugur pada 2024, al-Amoudi mengambil sejumlah tanggung jawab penting dalam kepemimpinan Hamas di Gaza.
Sumber-sumber Hamas yang dikutip Anadolu menyebut al-Amoudi sebagai "orang kuat" dalam struktur internal gerakan tersebut. Ia juga dipandang sebagai salah satu kandidat penerus Sinwar dalam memimpin Hamas di Gaza.
Hampir 20 Tahun di Penjara 'Israel'
Al-Amoudi mulai aktif dalam berbagai kegiatan Hamas pada 1990-an. Ia kemudian ditangkap 'Israel' dan menjalani hukuman penjara selama hampir dua dekade.
Selama berada di penjara, ia disebut menjalin hubungan dekat dengan Yahya Sinwar yang juga pernah menjadi tahanan 'Israel'.
Pada Oktober 2011, al-Amoudi dibebaskan dalam pertukaran tahanan melalui kesepakatan Wafa al-Ahrar. Dalam kesepakatan tersebut, 1.027 tahanan Palestina dibebaskan sebagai imbalan pembebasan tentara 'Israel' Gilad Shalit.
Setelah bebas, karier organisasinya di Hamas berkembang secara bertahap. Pada 2015-2017, ia dipercaya mengawasi biro media militer Brigade Izzuddin al-Qassam.
Ketika Sinwar terpilih memimpin Hamas di Gaza pada 2017, al-Amoudi menjadi kepala kantornya. Posisi tersebut membuatnya terlibat dalam berbagai urusan penting organisasi.
Pada pertengahan 2021, ia kemudian memimpin biro media Hamas di Gaza.
Naik dalam Struktur Kepemimpinan Hamas
Setelah Sinwar dan Rawhi Mushtaha gugur pada 2024, al-Amoudi mengambil peran yang lebih besar dalam mengelola urusan internal Hamas di tengah perang.
Ia kemudian menjadi wakil kepala Hamas di Gaza, ketika posisi tersebut dipegang Khalil al-Hayya.
Setelah al-Hayya terpilih sebagai kepala biro politik Hamas pada Juli 2026, al-Amoudi disebut menjadi pelaksana kepemimpinan Hamas di Gaza sekaligus pejabat sementara kepala gerakan tersebut di wilayah itu hingga pemimpin baru dipilih.
Sumber-sumber Hamas juga menyebut al-Amoudi terlibat dalam sejumlah keputusan terkait perang dan usulan gencatan senjata. Ia disebut termasuk tokoh yang mendorong penerimaan kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada Oktober 2025.
Pada dini hari 3 Oktober 2026, 'Israel' melancarkan serangan udara terhadap sebuah apartemen di kawasan barat Gaza City.
Serangan tersebut menewaskan sedikitnya lima warga Palestina dan melukai sejumlah lainnya. Empat korban gugur merupakan perempuan, termasuk seorang ibu dan putrinya yang beragama Kristen.
Militer 'Israel' kemudian mengonfirmasi bahwa serangan itu menargetkan Ali al-Amoudi. Namun, hingga beberapa jam setelah serangan, 'Israel' belum dapat memastikan apakah al-Amoudi gugur.
Radio Militer 'Israel' bahkan melaporkan bahwa penilaian sementara mengarah pada kesimpulan bahwa upaya pembunuhan tersebut kemungkinan gagal. Channel 12 juga melaporkan bahwa 'Israel' kesulitan memperoleh konfirmasi mengenai keberhasilan operasi tersebut.
Kelima korban dalam serangan itu disebut sebagai Maisa Abu Daoud (55), putrinya Maria (36), Yasmin al-Boubou (48), Haloum al-Boubou (23), dan Bilal Ali Ouda (20).
Hamas mengecam serangan tersebut dan menyoroti gugurnya seorang ibu dan putrinya yang disebut sebagai bagian dari komunitas Kristen Palestina. Hamas juga menyerukan kepada mediator dan pemerintah Amerika Serikat untuk mengambil langkah guna menghentikan pelanggaran terhadap gencatan senjata.
Hingga laporan terbaru, belum ada konfirmasi independen bahwa Ali al-Amoudi gugur dalam serangan tersebut. 'Israel' sendiri masih menyatakan hasil operasi dalam tahap pemeriksaan. (zarahamala/arrahmah.id)
