Memuat...

Tak Punya Pilihan, Warga Gaza Terpaksa Huni Bangunan Rusak yang Terancam Runtuh

Zarah Amala
Rabu, 15 Juli 2026 / 1 Safar 1448 11:36
Tak Punya Pilihan, Warga Gaza Terpaksa Huni Bangunan Rusak yang Terancam Runtuh
Warga Gaza bertahan di tengah reruntuhan, reptil, dan ancaman serangan (Foto: tangkapan video)

GAZA (Arrahmah.id) - Krisis tempat tinggal di Kota Gaza semakin memburuk, memaksa puluhan keluarga untuk menempati lantai atas bangunan-bangunan yang rusak parah dan terancam roboh. Minimnya bantuan, kelangkaan tenda, serta ketiadaan alternatif hunian membuat warga terjebak dalam kondisi memprihatinkan di tengah ancaman serangan udara yang terus berlangsung.

Salah seorang warga bernama Fadhl Rahim menuturkan bahwa ia terpaksa membawa keluarganya tinggal di dalam rumahnya yang rusak karena tidak memiliki akses terhadap tenda, kasur, maupun selimut. Ia mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi yang sulit mencegahnya membeli perlengkapan hunian dasar.

"Anak-anak saya hidup di bawah ancaman runtuhan bangunan, ditambah dengan keberadaan reptil dan hewan pengerat di dalam rumah," ujar Fadhl kepada Al Jazeera Mubasher. Ia menambahkan bahwa wilayah tempat tinggalnya berada di dekat zona infiltrasi militer 'Israel' yang sering kali menjadi sasaran penembakan. Ketakutan akan tertimpa reruntuhan saat tidur menjadi bagian dari keseharian mereka, terlebih karena sebagian besar harta benda keluarga masih terkubur di bawah puing-puing bangunan.

Fadhl menyatakan bahwa seluruh kamp pengungsian di sekitar wilayahnya sudah penuh sesak dan tidak lagi mampu menerima pengungsi baru. Selain itu, minimnya penerangan dan tumpukan puing yang menutupi jalanan membuat mobilitas warga menjadi sangat sulit jika sewaktu-waktu mereka harus mengungsi kembali. Ia mendesak adanya penyaluran bantuan segera berupa tenda, perlengkapan tidur, air bersih, serta kebutuhan dasar lainnya agar keluarga-keluarga di Gaza dapat hidup dalam kondisi yang lebih aman.

Senada dengan Fadhl, seorang warga bernama Majid al-Khuli menceritakan bahwa apartemen empat lantainya telah hancur total. Dengan upaya mandiri, ia mencoba membersihkan puing-puing untuk membangun ruang terbatas seluas 60 hingga 70 meter persegi sebagai tempat bernaung keluarganya. Namun, struktur bangunan tersebut sangat tidak stabil dan sering kali menjatuhkan bebatuan.

"Momen paling berbahaya adalah saat serangan udara terjadi. Bangunan akan berguncang dan batu-batu berjatuhan. Saya terpaksa membawa istri dan anak-anak keluar rumah karena takut bangunan ini runtuh menimpa kami," jelas Majid.

Majid menyoroti berbagai tantangan hidup di tengah puing-puing, mulai dari wabah hewan pengerat hingga harus menempuh jarak jauh hanya untuk mendapatkan air bersih akibat rusaknya jaringan pipa. Ia mendesak pihak berwenang untuk menyediakan unit hunian sementara atau karavan, serta suplai energi dasar seperti panel surya. Meski berada dalam kondisi yang sangat ekstrem, Majid menegaskan bahwa warga Gaza tetap memilih untuk bertahan di tanah kelahiran mereka sembari menanti situasi membaik. (zarahamala/arrahmah.id)