SANAA (Arrahmah.id) -- Milisi Syiah Houthi Yaman meluncurkan serangan rudal dan drone ke wilayah Arab Saudi setelah Bandara Internasional Sanaa yang mereka kuasai dihantam serangan udara. Eskalasi terbaru ini mengancam gencatan senjata tidak resmi yang telah menjaga relatif tenangnya perbatasan Saudi-Yaman selama sekitar empat tahun terakhir dan memicu kekhawatiran akan kembalinya konflik berskala besar di kawasan.
Menurut otoritas pemerintah Yaman, seperti dilansir Al Jazeera (14/7/2026), serangan terhadap bandara dilakukan untuk mencegah pendaratan pesawat Iran yang membawa delegasi Houthi. Beberapa jam setelah insiden tersebut, Houthi mengumumkan peluncuran rudal balistik dan drone ke Bandara Internasional Abha di Arab Saudi sebagai aksi balasan.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa kelompoknya tidak akan tinggal diam atas serangan yang mereka sebut sebagai agresi terhadap Yaman.
"Serangan terhadap Bandara Sanaa merupakan agresi terang-terangan dan fase deeskalasi telah berakhir. Arab Saudi harus menanggung konsekuensi dari tindakan ini," kata Saree dalam pernyataannya.
Pihak Saudi menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal-rudal yang diluncurkan dari wilayah Yaman menuju kawasan selatan kerajaan.
Juru bicara koalisi militer pimpinan Saudi, Turki al-Malki, mengatakan rudal tersebut diarahkan ke wilayah Saudi dan berhasil dihancurkan sebelum mencapai target. Tidak ada laporan korban jiwa dalam insiden tersebut.
Menurut laporan Associated Press dan Al Jazeera, serangan balasan Houthi terhadap Bandara Abha menjadi salah satu konfrontasi lintas batas paling serius sejak gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai berlaku pada 2022.
Bandara Abha sebelumnya beberapa kali menjadi sasaran serangan Houthi selama perang Yaman, namun intensitas serangan menurun drastis dalam beberapa tahun terakhir.
Ketegangan meningkat setelah muncul sengketa terkait penerbangan Iran menuju Sanaa. Pemerintah Yaman yang didukung Saudi menuduh Iran menggunakan penerbangan tersebut untuk memperkuat pengaruhnya di wilayah yang dikuasai Houthi.
Wakil Presiden Yaman Abdullah al-Alimi menyebut penerbangan Iran sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negaranya.
"Penerbangan-penerbangan ini merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan Yaman dan digunakan untuk mendukung kelompok Houthi," ujarnya.
PBB menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi terbaru tersebut dan menyerukan semua pihak untuk menahan diri. Dewan Keamanan PBB bahkan menggelar pertemuan darurat guna membahas perkembangan situasi yang dikhawatirkan dapat menyeret Yaman kembali ke perang terbuka setelah beberapa tahun mengalami penurunan intensitas konflik. (hanoum/arrahmah.id)
