Memuat...

The Guardian: Trump "Senjata Pemusnah Massal" dan Ancaman Terbesar bagi Dunia

Samir Musa
Ahad, 19 Juli 2026 / 5 Safar 1448 12:59
The Guardian: Trump "Senjata Pemusnah Massal" dan Ancaman Terbesar bagi Dunia
Tisdall menilai perang yang kembali berkobar melawan Iran merupakan akibat dari keputusan-keputusan tergesa-gesa yang diambil Trump. (Reuters)

LONDON (Arrahmah.id) — Kolumnis urusan luar negeri The Guardian, Simon Tisdall, melontarkan kritik keras terhadap kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam menghadapi konflik dengan Iran. Ia menilai ancaman terbesar dalam krisis tersebut bukan hanya berasal dari kekuatan lawan, tetapi juga dari gaya kepemimpinan Trump yang dinilai tidak memiliki strategi jelas untuk mengakhiri konflik.

Dalam tulisannya di The Guardian, Tisdall menyebut ambisi pribadi Trump sebagai salah satu faktor utama yang mendorong eskalasi perang menjadi semakin sulit dikendalikan.

“Cinta Trump terhadap dirinya sendiri adalah musuh global nomor satu. Itu adalah alasan utama mengapa perang ini kembali meningkat secara tidak terkendali. Dia adalah senjata pemusnah massal yang bergerak,” tulis Tisdall sebagaimana dikutip dalam artikelnya.

Menurutnya, cara Trump menangani krisis Iran telah membawa Amerika Serikat dan dunia ke dalam situasi politik, ekonomi, dan militer yang semakin rumit.

Klaim kemenangan dinilai tidak sesuai realitas

Tisdall menyoroti kembalinya serangan Amerika Serikat terhadap Iran, termasuk terhadap fasilitas dan infrastruktur sipil. Ia menilai serangan tersebut belum menghasilkan tujuan strategis yang diinginkan Washington.

Menurutnya, serangan militer justru berpotensi memperkuat kelompok garis keras di Iran karena dapat digunakan sebagai alat propaganda untuk membangkitkan dukungan domestik dan membenarkan kebijakan keamanan pemerintah.

Ia juga mengkritik pernyataan Trump dan Menteri Perang AS Pete Hegseth yang menyebut telah meraih “kemenangan besar”. Menurut Tisdall, klaim tersebut tidak sesuai dengan kondisi di lapangan karena Amerika Serikat belum mencapai tujuan utama, sementara biaya kemanusiaan, ekonomi, dan politik terus meningkat.

Tisdall menilai tujuan paling realistis bagi Amerika saat ini adalah mengendalikan atau membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.

Sementara itu, target awal yang pernah diumumkan Amerika Serikat dan "Israel", seperti menghancurkan program nuklir Iran, melemahkan jaringan sekutu Teheran di kawasan, hingga menggulingkan pemerintahan Iran, justru semakin sulit dicapai.

Terjebak dalam perang atrisi

Dalam artikelnya, Tisdall membandingkan pendekatan Trump dengan mantan Presiden AS George W. Bush saat invasi Irak.

Ia menyebut Bush mengambil keputusan perang darat penuh karena menganggap Irak sebagai ancaman besar, meskipun perang tersebut kemudian menjadi bencana besar bagi Amerika. Sementara Trump, menurutnya, tidak ingin menanggung konsekuensi perang besar di Iran, tetapi juga tidak mau mengakui kegagalan strategi yang telah dipilih.

Akibatnya, Trump disebut terjebak dalam perang berkepanjangan tanpa jalan keluar yang jelas.

Tisdall menilai keputusan Trump lebih banyak dipengaruhi keinginan menunjukkan kekuatan dan meraih kemenangan politik dibandingkan pertimbangan strategi jangka panjang.

Menurutnya, persoalan utama bukan hanya mengenai Iran, tetapi juga cara kepemimpinan Amerika yang mendorong eskalasi tanpa rencana penyelesaian.

Pola yang sama dalam isu Gaza dan Ukraina

Tisdall juga mengaitkan pola kebijakan Trump dengan sejumlah konflik internasional lainnya, termasuk Gaza dan perang Rusia-Ukraina.

Dalam isu Gaza, ia menilai rencana perdamaian yang diajukan Trump belum menghasilkan kemajuan berarti. Masalah rekonstruksi, pelucutan senjata, dan pengaturan keamanan masih belum terselesaikan, sementara situasi kemanusiaan dan politik terus memburuk.

Sedangkan dalam perang Rusia-Ukraina, Tisdall mengkritik pendekatan Trump yang menurutnya lebih banyak memberikan tekanan kepada Ukraina dibandingkan menghadapi kebijakan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Ia menyebut hal tersebut sebagai pola keputusan yang terburu-buru dan kurang mempertimbangkan dampak jangka panjang.

“Siapa yang bisa menghentikan Trump?”

Di bagian akhir artikelnya, Tisdall memperingatkan bahwa konflik yang terus meningkat dapat membawa dampak global.

Ketegangan di kawasan Teluk disebut berpotensi mengganggu jalur perdagangan dan energi dunia. Selain itu, gangguan di Laut Merah akibat aktivitas kelompok Houthi yang didukung Iran dapat memicu kenaikan harga minyak serta memperbesar tekanan ekonomi terhadap negara-negara berkembang.

Ia juga menyebut sejumlah sekutu Eropa Amerika Serikat mulai khawatir terhadap arah kebijakan Washington, sementara Rusia dan China dapat mengambil keuntungan dari melemahnya citra Amerika di dunia internasional.

Tisdall kemudian mengakhiri artikelnya dengan pertanyaan: “Siapa yang bisa menghentikan Trump?”

Menurutnya, pemerintahan Trump tidak menunjukkan tanda-tanda tunduk pada tekanan Kongres maupun kritik publik terkait biaya perang. Sementara para sekutu Amerika dinilai enggan mengambil sikap keras karena khawatir berhadapan langsung dengan Trump.

Ia memperingatkan bahwa jika eskalasi terus berlanjut, konflik yang awalnya terbatas dapat berubah menjadi krisis global yang berdampak besar terhadap keamanan dan ekonomi dunia.

(Samirmusa/arrahmah.id)