WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kampanye tekanan ekonomi baru terhadap Iran yang disebutnya sebagai “Economic D-Day”, dengan tujuan mempersempit akses Tehran terhadap perdagangan, minyak, keuangan, dan dukungan internasional. Langkah tersebut menandai pergeseran penekanan Washington dari operasi militer menuju tekanan ekonomi untuk memaksa Iran mengubah sikapnya dalam konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan.
Dilansir Time (20/8/2026), Trump mengumumkan kebijakan tersebut pada Rabu (19/8) melalui pernyataan di media sosial. Ia memperingatkan negara maupun perusahaan yang tetap melakukan transaksi dengan Iran akan menghadapi konsekuensi berat.
Washington terutama berupaya menghentikan jalur perdagangan, penyelundupan minyak, transfer uang, serta jaringan perusahaan yang membantu Tehran mempertahankan perekonomiannya di tengah sanksi Amerika Serikat.
Trump menyebut operasi tersebut sebagai “operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun”. Pemerintah AS juga meminta negara-negara sekutu dan Cina ikut memberikan tekanan kepada Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan mengatakan Washington berupaya mengisolasi perekonomian Iran secara lebih luas.
“Ini adalah Economic D-Day,” kata Trump dalam pengumumannya, seraya memperingatkan pihak-pihak yang membantu Iran akan menghadapi “konsekuensi yang sangat besar”.
Iran menolak ancaman tersebut. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menggambarkan tekanan ekonomi baru Washington sebagai kebijakan yang telah gagal dan menuduh Amerika Serikat berusaha mengalihkan perhatian dari persoalan domestiknya.
Associated Press melaporkan Teheran tetap menolak tuntutan Washington dan mempertahankan posisi bahwa tekanan ekonomi tidak akan memaksa Iran menyerah.
Tekanan ekonomi itu juga datang ketika Selat Hormuz menjadi titik utama perselisihan. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute terpenting bagi perdagangan energi dunia. Data pelacakan kapal yang dikutip Reuters menunjukkan hanya sembilan kapal komoditas yang melintasi selat tersebut pada Selasa dan Rabu, jauh di bawah kondisi normal sebelum konflik. Washington dan Tehran juga masih berbeda pendapat mengenai apakah Selat Hormuz terbuka atau tertutup.
Efeknya mulai meluas ke negara-negara yang memiliki hubungan ekonomi dengan Iran. Uni Emirat Arab, yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu jalur perdagangan penting Iran, menghentikan transaksi perdagangan dan keuangan dengan Teheran hingga pemberitahuan lebih lanjut. Kebijakan tersebut berpotensi semakin mempersempit akses Iran terhadap impor, ekspor produk minyak dan jaringan finansial internasional.
Namun, efektivitas strategi tersebut masih menjadi pertanyaan. Iran telah hidup di bawah berbagai rezim sanksi Barat selama bertahun-tahun dan mengembangkan jaringan perdagangan alternatif, termasuk perdagangan minyak secara terselubung. (hanoum/arrahmah.id)
