WASHINGTON (Arrahmah.id) — Tantangan yang baru-baru ini dialami kapal induk USS Abraham Lincoln menyoroti rumitnya sistem logistik Angkatan Laut Amerika Serikat dalam menyediakan makanan bagi ribuan pelaut selama menjalankan misi panjang di tengah laut.
Kapal induk AS yang dikerahkan dalam berbagai misi militer pada dasarnya merupakan kota terapung. Kapal-kapal raksasa kelas Nimitz dan Ford, termasuk USS Abraham Lincoln, dapat membawa lebih dari 5.000 personel yang terdiri atas pelaut dan personel penerbangan.
Menjaga kesiapan operasional kapal induk bertenaga nuklir tersebut membutuhkan dukungan logistik yang sangat besar. Salah satu tantangan terbesarnya adalah memastikan setiap orang di dalam kapal mendapatkan tiga kali makan setiap hari selama berbulan-bulan di tengah lautan.
Dilansir dari The National Interest, Kamis (20/8/2026), dalam laporan yang ditulis jurnalis pertahanan dan keamanan nasional Harrison Kass, awak kapal induk membutuhkan sekitar 15.000 porsi makanan setiap hari.
Jumlah itu dapat meningkat ketika makanan untuk personel yang bertugas pada malam hari, awak jaga, maupun pilot yang sedang menjalankan misi penerbangan turut diperhitungkan.
Dengan kebutuhan tersebut, Angkatan Laut AS harus menyediakan sekitar 450.000 porsi makanan setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan awak USS Abraham Lincoln.
Lantas, bagaimana seluruh persediaan tersebut disiapkan dan dikirim ke kapal yang beroperasi jauh dari daratan?

Berapa Banyak Makanan yang Dibawa Kapal Induk?
Kebutuhan makanan di atas kapal induk umumnya dihitung dalam satuan ton.
Menurut The National Interest, awak kapal yang berjumlah sekitar 5.000 orang mengonsumsi sekitar 15.000 hingga 20.000 pon makanan setiap hari. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 6,8 hingga 9,1 ton, atau secara kasar mendekati 10 ton per hari.
Dalam sebulan, ratusan ton bahan makanan harus melewati sistem pelayanan makanan untuk menyediakan kebutuhan makan seluruh awak kapal.
Persediaan tersebut mencakup berbagai jenis bahan makanan, mulai dari daging, unggas, ikan, telur, beras, pasta, kentang, buah-buahan, sayuran, roti hingga berbagai bahan makanan kering.
Karena kapal biasanya menerima pasokan jauh sebelum memulai penugasan panjang, kapal induk dapat membawa persediaan makanan dalam jumlah sangat besar untuk mendukung operasi selama berada di laut.
Bahan-bahan tersebut disimpan di berbagai fasilitas penyimpanan yang tersedia di dalam kapal, termasuk gudang bahan makanan kering, ruang pendingin, dan fasilitas pembekuan.
Dapur dan Ruang Makan Beroperasi Hampir 24 Jam
Kapal induk tidak memiliki satu kantin yang melayani seluruh awak sekaligus. Kapal ini dilengkapi sejumlah dapur dan fasilitas ruang makan sehingga pelayanan makanan dapat dibagi ke berbagai bagian kapal.
Para pelaut umumnya makan di ruang makan utama, sedangkan perwira dan kelompok tertentu memiliki fasilitas makan tersendiri.
Menurut The National Interest, personel layanan makanan bekerja hampir sepanjang waktu karena kapal induk tidak pernah benar-benar berhenti beroperasi.
Penerbangan, pemeliharaan pesawat dan kapal, serta pergantian jadwal penjagaan tetap berlangsung pada malam hari. Karena itu, makanan harus tersedia di luar jadwal sarapan, makan siang, dan makan malam.
Dengan fasilitas dapur berskala besar, ribuan porsi makanan dapat disiapkan untuk memenuhi kebutuhan awak kapal setiap harinya.
Air Laut Diolah Menjadi Air Tawar
Berbeda dengan makanan, persoalan air tawar relatif lebih mudah diatasi oleh kapal induk bertenaga nuklir.
Kapal tidak perlu membawa persediaan air tawar dalam jumlah sangat besar karena dapat mengolah air laut yang tersedia di sekitarnya menjadi air tawar.
Sistem pengolahan dan desalinasi di dalam kapal menghasilkan air yang digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk minum, memasak, mandi, mencuci pakaian, dan keperluan operasional lainnya.
Tenaga nuklir juga menyediakan energi dalam jumlah besar sehingga kapal dapat menjalankan sistem tersebut selama berada di tengah laut.
Namun, ada satu kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi dengan cara serupa: makanan.
Makanan tidak dapat diproduksi di atas kapal dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan ribuan orang. Karena itu, persediaan makanan menjadi salah satu kebutuhan logistik utama yang harus terus diperbarui dari luar kapal.
Bagaimana Makanan Sampai ke Kapal Induk?
Kapal induk tidak harus kembali ke pelabuhan setiap kali persediaan makanan menipis.
Dilansir The National Interest, pengisian kembali persediaan dilakukan di tengah laut dengan bantuan kapal pendukung logistik milik Military Sealift Command.
Kapal-kapal pemasok tersebut dapat membawa berbagai kebutuhan, termasuk makanan, bahan bakar, amunisi, surat, suku cadang, dan perlengkapan lainnya. Kapal pemasok kemudian bertemu dengan kelompok tempur kapal induk di tengah laut.
Salah satu metode yang digunakan adalah pengisian pasokan secara horizontal. Kapal induk dan kapal pemasok berlayar berdampingan dalam jarak dekat, kemudian kabel dan peralatan khusus digunakan untuk memindahkan barang dari satu kapal ke kapal lainnya.
Metode lainnya adalah pengisian secara vertikal menggunakan helikopter. Helikopter mengangkut barang dari kapal pemasok dan membawanya langsung ke kapal induk.
Dengan dua metode tersebut, berbagai kebutuhan dapat dipindahkan tanpa mengharuskan kapal induk kembali ke pelabuhan.
Sistem logistik ini memungkinkan kapal induk AS mempertahankan operasinya dalam waktu panjang di tengah lautan. Di balik kemampuan sebuah kapal membawa ribuan personel dan menjalankan operasi udara secara terus-menerus, terdapat jaringan pasokan yang memastikan makanan tetap tersedia setiap hari.
Bagi kapal seperti USS Abraham Lincoln, menyediakan makanan bagi lebih dari 5.000 orang bukan sekadar persoalan memasak. Hal itu merupakan operasi logistik besar yang melibatkan penyimpanan, pengolahan, pengiriman, hingga pengisian kembali persediaan di tengah laut.
(Samirmusa/arrahmah.id)
