GAZA (Arrahmah.id) -- Juru bicara Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, Abu Ubaidah , menyampaikan pujian kepada milisi Syiah Hizbullah setelah kelompok bersenjata Lebanon itu mengklaim berhasil menggagalkan upaya pasukan 'Israel' untuk maju ke sejumlah wilayah strategis di Lebanon selatan. Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya pertempuran lintas perbatasan antara 'Israel' dan Hizbullah yang telah berlangsung selama berbulan-bulan dan memicu ketegangan regional yang lebih luas.
Dalam pernyataan yang dikutip Palestine Chronicle (19/6/2026), Abu Ubaidah menyebut perlawanan yang dilakukan Hizbullah sebagai bukti keteguhan kelompok tersebut dalam menghadapi operasi militer Israel. Ia juga menyampaikan solidaritas Hamas terhadap para pejuang dan warga Lebanon yang terdampak konflik.
“Kami menyampaikan penghormatan kepada saudara-saudara kami di Hizbullah yang berhasil menghadang agresi dan mempertahankan posisi mereka di Lebanon selatan,” kata Abu Ubaidah.
Pernyataan itu disampaikan setelah Hizbullah mengumumkan bahwa para pejuangnya berhasil memukul mundur pasukan 'Israel' yang mencoba bergerak menuju sejumlah lokasi di Lebanon selatan.
Dalam klaimnya, Hizbullah menyebut telah menggunakan roket, rudal antitank, dan tembakan artileri untuk menyerang pasukan 'Israel' yang bergerak maju, sehingga memaksa mereka mundur dari area pertempuran.
Menurut Reuters, pertempuran terkonsentrasi di beberapa titik strategis dekat Sungai Litani dan kawasan perbukitan yang selama ini menjadi arena bentrokan antara kedua pihak. Reuters menambahkan bahwa Hizbullah mengklaim berhasil menghancurkan beberapa kendaraan lapis baja Israel dan menyerang pasukan yang berusaha mengevakuasi korban di medan tempur.
Sementara itu, militer 'Israel' belum memberikan tanggapan rinci terhadap klaim keberhasilan Hizbullah tersebut. Namun, otoritas 'Israel' menegaskan bahwa operasi militernya di Lebanon bertujuan mencegah serangan terhadap wilayah 'Israel' dan menghancurkan infrastruktur militer Hizbullah yang dianggap mengancam keamanan nasional.
Konflik di Lebanon selatan semakin memanas sejak pecahnya perang yang lebih luas di kawasan pada awal tahun ini. Meski berbagai upaya diplomatik dilakukan oleh Amerika Serikat, Qatar, Iran, dan pemerintah Lebanon, bentrokan bersenjata masih terus terjadi di sejumlah wilayah perbatasan. Bahkan, kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan beberapa kali kerap diwarnai tuduhan pelanggaran dari kedua belah pihak.
Al Jazeera melaporkan bahwa keberhasilan Hizbullah menahan laju pasukan 'Israel' di beberapa sektor dijadikan simbol kemenangan oleh kelompok tersebut. Pemimpin Hizbullah dan para pendukungnya menyebut perlawanan itu sebagai bukti bahwa kelompok tersebut masih memiliki kemampuan tempur yang signifikan meskipun menghadapi serangan udara dan operasi darat Israel secara intensif. (hanoum/arrahmah.id)
