Memuat...

Dari 'Insya Allah' hingga Tuduhan Terorisme, Begini Kampanye Digital Menyerang Abdul El-Sayed Usai Menang di Michigan

Samir Musa
Jumat, 7 Agustus 2026 / 24 Safar 1448 13:30
Dari 'Insya Allah' hingga Tuduhan Terorisme, Begini Kampanye Digital Menyerang Abdul El-Sayed Usai Menang di Michigan
El-Sayed berbicara dalam konferensi pers di Spirit of Detroit Hall setelah memenangkan pencalonan Partai Demokrat untuk kursi Senat Amerika Serikat dari negara bagian Michigan. (Associated Press)

DETROIT (Arrahmah.id) – Kemenangan politikus Muslim keturunan Mesir, Abdul El-Sayed (Abdul Rahman El-Sayed), dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat untuk kursi Senat Amerika Serikat dari negara bagian Michigan, langsung memicu gelombang kampanye digital yang masif dari kalangan kanan ekstrem Amerika.

Laporan investigatif Unit Sumber Terbuka Al Jazeera, yang diterbitkan pada Rabu (6/8/2026), mengungkap bahwa bahkan sebelum kemenangan El-Sayed diumumkan secara resmi, ratusan akun di platform X telah melancarkan narasi terkoordinasi yang berupaya menggambarkan kemenangan tersebut sebagai ancaman agama dan ideologi bagi Amerika Serikat.

Menurut analisis tersebut, sasaran utama kampanye bukanlah program politik Abdul El-Sayed, melainkan identitasnya sebagai seorang Muslim.

Berawal dari Ucapan "Insya Allah"

Kampanye bermula ketika potongan video pidato kemenangan Abdul El-Sayed beredar di media sosial. Dalam pidatonya, ia mengatakan bahwa jika mampu melewati pemilu ini, "insya Allah", maka hal itu membuktikan bahwa uang bukan satu-satunya faktor penentu kemenangan dalam politik.

Ungkapan tersebut sejatinya merupakan ekspresi harapan yang lazim digunakan umat Islam dan tidak mengandung pesan politik maupun keagamaan.

Namun, sejumlah akun berpengaruh memotong kalimat itu dari konteks pidato lalu menjadikannya sebagai "bukti" identitas Islam sang kandidat.

Akun konservatif Benny Johnson mengunggah ulang video tersebut dengan narasi bahwa "kandidat Senat Muslim sosialis dari Michigan mengucapkan 'Insya Allah' dalam pidato malam pemilu."

Unggahan itu ditonton lebih dari 193 ribu kali.

Narasi serupa juga disebarkan akun ALX, yang menyoroti penggunaan frasa "Insya Allah" seolah-olah merupakan sesuatu yang mencurigakan dari seorang kandidat Muslim.

Narasi "Islam Mengambil Alih Amerika"

Menurut Al Jazeera, penggunaan frasa "Insya Allah" hanyalah pintu masuk bagi narasi yang sebenarnya telah dibangun sejak proses penghitungan suara berlangsung.

Sejumlah akun mulai menyebarkan klaim bahwa kemenangan Abdul El-Sayed merupakan bagian dari apa yang mereka sebut sebagai "pengambilalihan Islam" terhadap Amerika Serikat.

Muncul pula berbagai istilah seperti:

  • "Islamic takeover"
  • "Islamic invasion of Michigan"
  • "Communist Islamic Left"
  • "Sharia is coming to America"

Narasi tersebut tidak disertai bukti, tetapi disebarkan secara masif untuk membangun persepsi bahwa kemenangan seorang kandidat Muslim merupakan ancaman terhadap identitas Amerika.

Video Lama Dipakai untuk Memperkuat Tuduhan

Kampanye kemudian berkembang dengan menghidupkan kembali video lama Abdul El-Sayed saat menghadiri acara Fighting Oligarchy pada Agustus 2025.

Dalam video itu ia mengatakan:

"Ketika mereka turun ke bawah, kita tidak naik ke atas. Kita tarik mereka ke lumpur dan mencekik mereka."

Padahal pernyataan tersebut merupakan kritik terhadap kondisi politik Amerika dan merujuk pada perdebatan mengenai strategi menghadapi serangan politik.

Namun video tersebut dipublikasikan kembali seolah-olah merupakan pidato kemenangan terbaru untuk menggambarkan El-Sayed sebagai tokoh radikal.

Michigan Disebut Sedang "Diinvasi"

Serangan juga meluas kepada komunitas Muslim Michigan.

Beberapa akun kanan ekstrem menyebarkan klaim bahwa:

  • Michigan sedang "diinvasi" umat Islam.
  • Syariat Islam akan segera diterapkan di Amerika.
  • Kota Hamtramck disebut sebagai "kota yang diduduki".

Mereka menghubungkan narasi tersebut dengan meningkatnya jumlah Muslim, pembangunan masjid, angka kelahiran, serta partisipasi politik warga Muslim di negara bagian tersebut.

Padahal tuduhan-tuduhan tersebut tidak disertai bukti yang dapat diverifikasi.

Dari Isu Agama ke Tuduhan Terorisme

Seiring berjalannya waktu, kampanye berkembang menjadi tuduhan yang lebih serius.

Akun Eyal Yakoby menuduh Abdul El-Sayed menerima lebih dari 100 ribu dolar dari anggota Ikhwanul Muslimin.

Ia juga mengutip mantan staf kampanye El-Sayed yang menuduh kandidat Demokrat itu memiliki pandangan Islam ekstrem dan bersimpati kepada kelompok teroris.

Narasi tersebut kemudian diperkuat oleh Senator Republik Ted Cruz, yang membagikan cuplikan sidang mengenai dugaan hubungan sejumlah individu dan organisasi yang disebut dekat dengan El-Sayed dengan Ikhwanul Muslimin.

Cruz bahkan meminta warga Michigan mengetahui "siapa yang berada di belakang Abdul El-Sayed."

Selanjutnya berbagai akun kanan mengembangkan narasi tersebut menjadi tuduhan bahwa El-Sayed memiliki hubungan dengan "teroris" maupun "Ikhwanul Muslimin."

Kelompok Pro-"Israel" Ikut Menyerang

Laporan Al Jazeera juga mencatat bahwa kampanye tersebut tidak hanya digerakkan akun kanan ekstrem.

Sejumlah organisasi dan tokoh pro-"Israel" turut mengkritik pencalonan Abdul El-Sayed.

Komite Yahudi Amerika (AJC) menyebut pencalonannya sebagai perkembangan yang mengkhawatirkan dalam politik Amerika.

Sementara aktivis pro-"Israel", Yoseph Haddad, menuduh El-Sayed mendukung Ikhwanul Muslimin dan bersimpati terhadap terorisme.

Akun StopAntisemitism juga berupaya mengaitkan kampanye Abdul El-Sayed dengan individu yang pernah mengeluarkan pernyataan kontroversial mengenai serangan 11 September.

Hampir 2.000 Akun Terlibat

Analisis jaringan yang dilakukan Unit Sumber Terbuka Al Jazeera menemukan bahwa dalam 24 jam pertama setelah kemenangan Abdul El-Sayed:

  • terdapat 1.966 akun yang terlibat;
  • terbentuk lebih dari 2.500 hubungan interaksi;
  • tercatat 1.847 retweet;
  • 1.157 kutipan (quote);
  • 1.536 mention.

Menurut analisis tersebut, pola penyebaran menunjukkan bahwa kampanye tidak berlangsung secara acak.

Narasi pertama disebarkan oleh sejumlah akun berpengaruh, kemudian diperkuat melalui retweet, kutipan, dan mention oleh ratusan akun lain sehingga menghasilkan penyebaran yang sangat cepat tanpa harus menciptakan konten baru.

Akun Laura Loomer tercatat sebagai pusat jaringan paling berpengaruh, disusul Scott Jennings, Senator Ted Cruz, AJC, dan Eyal Yakoby.

Trump Turut Memperkuat Narasi

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian memperluas gaung kampanye tersebut.

Trump sebelumnya menyerang para kandidat yang didukung organisasi Democratic Socialists of America, menyebut mereka sebagai orang-orang "gila" yang akan menghancurkan Amerika.

Setelah kemenangan Abdul El-Sayed dipastikan, Trump secara langsung menyebut namanya.

Ia menuduh El-Sayed sebagai "orang yang dipenuhi kebencian", tidak menyukai "Israel" maupun orang Yahudi, serta mengaitkan kemenangan kandidat Demokrat tersebut dengan meningkatnya kriminalitas dan kehancuran Amerika.

Menurut Al Jazeera, sejak saat itu narasi yang sebelumnya hanya berkembang di media sosial berubah menjadi pesan politik resmi dari kubu Partai Republik.

Abdul El-Sayed Membalas Tuduhan

Menanggapi serangan terhadap identitasnya, Abdul El-Sayed menegaskan bahwa nama lengkapnya memang Abdul Rahman, seraya mengatakan bahwa siapa pun yang tidak mampu mengucapkannya sebaiknya tidak menyebut nama tersebut.

Ia juga membantah tuduhan antisemitisme.

Dalam sebuah wawancara yang ditayangkan Fox News dan disaksikan lebih dari satu juta kali, El-Sayed mengatakan bahwa keselamatan warga Yahudi Amerika sama pentingnya baginya seperti keselamatan putri-putrinya sendiri.

Ia menegaskan bahwa seluruh warga Amerika, apa pun warna kulit, asal-usul maupun cara mereka beribadah, berhak memperoleh pendidikan yang baik, layanan kesehatan, dan pekerjaan yang layak.

Dukungan dari Partai Demokrat

Di tengah kampanye negatif tersebut, dukungan terhadap Abdul El-Sayed justru terus mengalir.

Senator Bernie Sanders mengucapkan selamat atas kemenangan El-Sayed dan menyebut keberhasilannya sebagai kemenangan melawan kekuatan miliarder yang menghabiskan lebih dari 60 juta dolar AS untuk mengalahkannya.

Ketua Komite Nasional Demokrat Ken Martin juga menyatakan dukungan penuh kepada El-Sayed.

Sementara itu, Senator Elizabeth Warren sebelumnya telah mendukung kampanyenya dengan menyoroti agenda ekonomi yang berpihak kepada keluarga pekerja dan pembatasan pengaruh korporasi besar.

Kesimpulan Analisis

Al Jazeera menyimpulkan bahwa frasa sederhana "Insya Allah" hanyalah pintu masuk untuk membangkitkan kembali narasi lama yang selama ini beredar di kalangan kanan ekstrem Amerika.

Tujuan utama kampanye tersebut bukan memperdebatkan program politik Abdul El-Sayed, melainkan membingkai kemenangan seorang kandidat Muslim sebagai ancaman terhadap identitas, agama, dan budaya Amerika melalui penyebaran narasi yang terkoordinasi di media sosial.

(Samirmusa/arrahmah.id)