Memuat...

Teheran Ancam Lumpuhkan Infrastruktur Energi Teluk Jika AS Serang Pembangkit Listrik

Zarah Amala
Jumat, 7 Agustus 2026 / 24 Safar 1448 12:00
Teheran Ancam Lumpuhkan Infrastruktur Energi Teluk Jika AS Serang Pembangkit Listrik
Iran menyampaikan melalui perantara bahwa setiap serangan terhadap pembangkit listriknya akan memicu serangan terhadap target yang sama di Teluk, kata para pejabat. [Getty]

DUBAI (Arrahmah.id) - Di tengah memanasnya konfrontasi di Timur Tengah, Iran dikabarkan telah meningkatkan eskalasi ancamannya terhadap negara-negara tetangga di kawasan Teluk pekan lalu. Teheran secara tegas menyampaikan pesan bahwa mereka akan membuat seluruh kawasan tersebut gelap gulita dan melumpuhkan fasilitas vital jika Amerika Serikat atau 'Israel' nekat menyerang infrastruktur kelistrikan Iran.

​Berdasarkan laporan AFP yang mengutip dua pejabat regional dengan syarat anonimitas, ancaman tersebut disampaikan melalui perantara menyusul gertakan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya melontarkan ancaman serangan besar-besaran terhadap Iran. Trump sendiri pada akhirnya memutuskan untuk membatalkan rencana serangan tersebut setelah menerima permohonan dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), serta Qatar, di samping adanya harapan tercapainya terobosan dalam jalur perundingan.

"Iran mengancam akan memadamkan wilayah Teluk, negara demi negara, jika Trump menyerang pembangkit listrik mereka," ungkap salah seorang pejabat Teluk kepada AFP, yang kemudian dikonfirmasi oleh pejabat regional kedua.

​Pejabat tersebut menilai bahwa ancaman terbaru ini disampaikan dengan nada yang sangat serius dan disertai dengan daftar panjang target spesifik yang akan diserang. Sasaran tersebut tidak hanya mencakup pembangkit listrik, tetapi juga fasilitas desalinasi air, infrastruktur krusial yang menjadi andalan utama kawasan gurun tersebut untuk memenuhi kebutuhan air minum.

​Sebelumnya, pada pertengahan Juli, Presiden Trump sempat memperingatkan bahwa ia akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik Iran sebagai balasan atas setiap serangan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz. Teheran membalas retorika tersebut dengan prinsip "mata ganti mata", sementara pejabat AS menegaskan bahwa serangan balasan Washington akan jauh lebih masif.

Kawasan Teluk diketahui telah menanggung dampak terberat dari rangkaian serangan balasan Iran di tengah perang AS-'Israel' melawan Teheran. Serangan-serangan tersebut kerap menyasar aset-aset militer Amerika maupun infrastruktur sipil penting, termasuk situs-situs energi, pelabuhan, dan bandara.

​Meskipun kesepakatan gencatan senjata sempat disusul dengan penandatanganan memorandum kesepahaman antara April hingga Juni lalu, insiden baku tembak kembali meningkat secara drastis setelah gencatan senjata tersebut runtuh pada bulan Juli, dengan wilayah Kuwait dan Bahrain menjadi sasaran utama gelombang serangan.

​Sebagai respons atas ketegangan yang memuncak, Arab Saudi langsung mengumumkan bahwa Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman telah melakukan pembicaraan via telepon dengan Presiden AS Donald Trump guna meredakan ketegangan regional, menyusul pembatalan serangan yang nyaris memicu konfrontasi militer skala penuh. (zarahamala/arrahmah.id)