Memuat...

Pentagon Ubah Metodologi Perhitungan Korban, AS Dituding Sembunyikan Angka Riil Korban Jiwa dalam Perang Lawan Iran

Zarah Amala
Rabu, 5 Agustus 2026 / 22 Safar 1448 11:05
Pentagon Ubah Metodologi Perhitungan Korban, AS Dituding Sembunyikan Angka Riil Korban Jiwa dalam Perang Lawan Iran
Tentara AS membawa jenazah seorang tentara yang tewas di pangkalan militer AS di Erbil, Irak (Reuters)

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) dikabarkan menerapkan mekanisme baru dalam menghitung jumlah tentara AS yang tewas atau terluka dalam konflik melawan Iran. Langkah ini menuai sorotan tajam setelah pejabat internal menyebut kebijakan tersebut sengaja dirancang untuk menyembunyikan jumlah korban riil dari publik, sebagaimana dilansir oleh The Intercept.

Selama ini, Pentagon menggunakan sistem analisis korban bernama Defense Casualty Analysis System (DCAS) untuk merilis data resmi korban jiwa, cedera, maupun personel yang sakit kepada Kongres dan Presiden. Namun, sistem tersebut kerap menuai kritik terkait transparansi dan akurasi datanya.

Kontroversi semakin memuncak setelah Pentagon mengubah metodologi penghitungan menyusul rentetan serangan balasan Iran terhadap fasilitas militer AS di Timur Tengah pada Juli lalu.

Berdasarkan mekanisme baru yang diperkenalkan pekan lalu, korban jiwa dan luka-luka yang jatuh sejak 7 Juli kini dipisahkan ke dalam halaman khusus bertajuk Operasi Eksternal, alih-alih digabungkan dalam rekapitulasi utama perang melawan Iran.

Data dari halaman baru tersebut mencatat 273 personel militer tewas atau terluka sejak 7 Juli. Jika angka ini ditambahkan dengan data lama dari sistem DCAS, total kumulatif resmi korban militer AS melonjak hingga 704 orang, menunjukkan lonjakan tajam sebesar 83% dibandingkan catatan per 8 April lalu, tatkala gencatan senjata pertama antara AS dan Iran disepakati.

Pentagon berdalih bahwa perubahan klasifikasi ini dilakukan menyusul berakhirnya operasi Epic Fury, sehingga korban baru kini dikategorikan di bawah operasi luar di wilayah komando CENTCOM (Komando Pusat AS).

Kendati demikian, seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya secara blak-blakan menentang kebijakan tersebut. "Prosedur ini memang dirancang untuk menyembunyikan jumlah korban luka," ujarnya. Pejabat lain sebelumnya juga mengungkapkan bahwa serangan-serangan presisi Iran terhadap pangkalan-pangkalan AS telah menyebabkan jauh lebih banyak personel yang cedera ketimbang angka yang diumumkan secara resmi ke publik.

Lonjakan korban ini diyakini sebagai dampak langsung dari serangan Iran terhadap sedikitnya sembilan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah sejak 9 Juli lalu. Serangan tersebut memanfaatkan kombinasi drone serang dan rudal balistik canggih yang mampu menembus sistem pertahanan udara AS, sekaligus memupus klaim klaim sebelumnya dari Presiden Donald Trump dan Menteri Perang Pete Hegseth bahwa kapasitas militer Iran telah hancur total.

Di sisi lain, The Washington Post melaporkan bahwa pertengahan bulan lalu Pentagon sempat menghapus empat data kematian militer baru dari database elektronik mereka, di tengah klaim pencatatan 18 tentara tewas sejak dimulainya eskalasi terbuka pada akhir Februari lalu. (zarahamala/arrahmah.id)