KABUL (Arrahmah.id) - Di tengah terus berlanjutnya kepulangan migran Afghanistan dari negara-negara tetangga, Kementerian Pengungsi dan Repatriasi Afghanistan menyatakan bahwa 325 migran Afghanistan telah dibebaskan dari pusat penahanan dan penjara di Pakistan serta kembali ke tanah air pekan ini melalui perlintasan perbatasan Torkham dan Spin Boldak.
Menurut kementerian tersebut, mereka yang kembali mencakup keluarga, anak-anak, dan individu lajang yang sebelumnya ditahan di Pakistan karena berbagai alasan dan dalam jangka waktu yang beragam, lansir Tolo News (7/8/2026).
Pakar hukum Majid Kohistani mengatakan: "Pemerintah Afghanistan perlu melakukan pembicaraan damai dengan Pakistan untuk mengupayakan pembebasan migran yang ditahan dan mencegah penangkapan pengungsi Afghanistan di masa mendatang."
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) juga melaporkan bahwa lebih dari 100.000 migran Afghanistan telah kembali dari Pakistan dan Iran dalam dua pekan terakhir.
Menurut IOM, lebih dari 55.600 orang kembali dari Pakistan, sementara lebih dari 44.700 orang kembali dari Iran.
Sementara itu, sejumlah migran Afghanistan di Pakistan mengaku menghadapi penangkapan, perlakuan buruk, dan pelecehan.
Aktivis hak-hak pengungsi Abdul Razzaq Adil mengatakan: "Deportasi paksa, penahanan, dan pelecehan terhadap pengungsi Afghanistan bukan sekadar keputusan domestik atau politik satu negara, melainkan pelanggaran nyata terhadap prinsip-prinsip hukum internasional, termasuk prinsip non-refoulement."
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan bahwa lebih dari 2,8 juta migran Afghanistan akan kembali ke Afghanistan pada akhir tahun ini, yang menegaskan perlunya kesiapan lebih baik untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan mereka serta mengelola proses kepulangan berskala besar tersebut. (haninmazaya/arrahmah.id)
