Memuat...

Luka Tak Terlihat Perang Iran: Ratusan Prajurit AS Alami Cedera Otak yang Menghantui Bertahun-tahun

Samir Musa
Jumat, 7 Agustus 2026 / 24 Safar 1448 06:18
Luka Tak Terlihat Perang Iran: Ratusan Prajurit AS Alami Cedera Otak yang Menghantui Bertahun-tahun
Joe Scherer yang baru-baru ini didiagnosis mengalami cedera otak traumatis akibat pertempuran di Irak, terlihat dalam foto dirinya mengenakan seragam Korps Marinir AS yang dipajang di rumahnya (Associated Press).

WASHINGTON (Arrahmah.id) — Perang Amerika Serikat melawan Iran kembali membuka perdebatan lama di kalangan publik dan militer AS terkait cedera otak traumatis (Traumatic Brain Injury/TBI) yang dialami para prajurit di medan perang. Cedera ini sering kali tidak meninggalkan luka fisik yang terlihat, tetapi dampaknya dapat menghantui korban selama bertahun-tahun.

Dilansir dari Al Jazeera, berdasarkan keterangan terbuka pejabat militer AS yang dikutip Associated Press, sekitar 700 personel militer Amerika dilaporkan mengalami cedera akibat serangan drone dan rudal yang menargetkan pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah serta dalam sejumlah pertempuran lainnya. Sebagian besar dari mereka mengalami cedera otak traumatis dan kemudian kembali menjalankan tugas.

Juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, sebelumnya menyebut sebagian besar cedera yang tercatat selama dua pekan sebagai “gegar otak ringan”. Namun, kesaksian para veteran dan data medis menunjukkan bahwa istilah “ringan” tidak selalu berarti dampaknya bersifat sementara.

Prajurit kembali bertugas, tetapi cedera tetap tertinggal

Salah satu kisah yang kembali menjadi perhatian adalah pengalaman mantan prajurit Korps Marinir AS, Joe Scherer, yang bertugas di Irak pada 2005.

Saat itu, Scherer terkena gelombang ledakan mortir hingga membuatnya terjatuh dan muntah. Namun ia bangkit dan tetap melanjutkan patroli meski mengalami sakit kepala parah.

Beberapa bulan kemudian, kendaraan lapis baja Humvee yang dinaikinya terkena serangan bom pinggir jalan. Ledakan tersebut kembali mengguncang tubuhnya dan membuatnya mengalami sakit kepala serta gangguan tidur selama berhari-hari.

“Selama kamu masih bisa bangun dan kembali melakukan patroli, itulah yang kamu lakukan,” kata Scherer.

Lebih dari dua dekade kemudian, Scherer yang kini berusia 40 tahun mengaitkan dua kejadian tersebut dengan cedera otak traumatis yang baru didiagnosis belakangan. Ia masih mengalami pusing, migrain, sensitif terhadap cahaya, serta kesulitan mengingat tugas sehari-hari maupun percakapan bersama istri dan anak-anaknya.

Kedua insiden itu tidak meninggalkan luka yang terlihat. Saat kejadian, tenaga medis lebih memprioritaskan prajurit dengan cedera yang lebih parah, sehingga beberapa kasus cedera otak sulit terdeteksi pada tahap awal.

Mengapa istilah “ringan” bisa menyesatkan?

Gegar otak umumnya dikategorikan sebagai cedera otak traumatis ringan. Banyak pasien dapat pulih dalam hitungan pekan. Namun, sebagian lainnya mengalami gejala berkepanjangan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, seperti sakit kepala, gangguan keseimbangan, kesulitan berkonsentrasi, dan masalah ingatan.

Kondisi ini sering disebut sebagai “brain fog” atau kabut otak.

Para dokter juga belum memiliki cara pasti untuk memprediksi siapa yang akan mengalami dampak jangka panjang. Hal ini memicu perdebatan di dunia medis mengenai penggunaan istilah “cedera otak traumatis ringan”.

Menurut laporan tersebut, paparan benturan berulang dapat meningkatkan risiko gangguan kronis, termasuk chronic traumatic encephalopathy (CTE), penyakit degeneratif otak yang sebelumnya banyak dikaitkan dengan kematian sejumlah atlet olahraga kontak seperti sepak bola Amerika.

Ahli cedera otak dari Universitas Pittsburgh, Dr. David Okonkwo, menegaskan pentingnya memastikan seseorang benar-benar pulih dari gegar otak sebelum kembali melakukan aktivitas yang berisiko menyebabkan cedera tambahan.

Perang modern menghadirkan gelombang ledakan berbeda

Perang AS melawan Iran juga menghadirkan tantangan baru karena karakteristik senjata yang digunakan.

Drone dapat meledak lebih dekat dengan posisi kepala prajurit dibandingkan bom pinggir jalan yang banyak digunakan dalam perang Irak dan Afghanistan. Para ilmuwan masih mempelajari perbedaan dampak gelombang ledakan terhadap otak dibandingkan benturan langsung pada kepala.

Profesor emeritus neurologi Universitas Colorado sekaligus kepala ilmuwan medis di lembaga Invisible Wounds, Dr. James Kelly, menjelaskan bahwa gelombang ledakan itu sendiri dapat menyebabkan cedera.

“Gelombang ledakan dapat menyebabkan kerusakan. Dampaknya berbeda pada tingkat sel, karena cedera akibat ledakan berbeda dengan cedera akibat benturan langsung pada kepala,” ujarnya.

Tuntutan penyelidikan dan catatan 500 ribu kasus

Isu ini kembali menjadi perhatian politik setelah sejumlah anggota parlemen Demokrat meminta penyelidikan terhadap penanganan prajurit yang terluka akibat serangan drone Iran di Kuwait yang menewaskan enam tentara AS pada awal perang.

Senator Wisconsin Tammy Baldwin mendesak militer membuka hasil penyelidikan terkait serangan pada 1 Maret.

“Saya berbicara langsung dengan warga Wisconsin yang mengalami cedera otak traumatis dalam perang Presiden Donald Trump di Iran. Mereka telah berminggu-minggu tanpa pemeriksaan awal, apalagi mendapatkan perawatan khusus,” katanya.

Juru bicara Badan Kesehatan Pertahanan AS, Peter Graves, membantah adanya kelalaian dan mengatakan kebijakan militer mengharuskan seluruh personel menjalani pemeriksaan cedera otak traumatis.

Permintaan penyelidikan muncul di tengah catatan panjang kasus cedera otak di militer AS. Dari tahun 2000 hingga 2025, lebih dari 500 ribu personel militer Amerika tercatat mengalami cedera otak traumatis. Sekitar 82 persen di antaranya dikategorikan sebagai cedera ringan, dan tidak semuanya berkaitan langsung dengan pertempuran.

Para ahli menilai militer AS telah mengalami kemajuan dalam pemeriksaan dan pengobatan cedera otak. Namun, kelompok advokasi veteran memperingatkan bahwa jumlah sebenarnya kemungkinan lebih besar karena gejala cedera otak sering tumpang tindih dengan gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan kondisi kesehatan lainnya.

(Samirmusa/arrahmah id)