GAZA (Arrahmah.id) - Brigade Izzuddin al-Qassam, sayap militer Hamas, merilis rekaman baru yang mendokumentasikan 107 hari pertempuran di Gaza utara dalam menghadapi operasi militer 'Israel' pada akhir 2024 hingga awal 2025.
Video yang dirilis Selasa (6/10/2026) itu diberi judul “Pertempuran 107 Hari: Ketika Rencana Para Jenderal Berubah Menjadi Kuburan Baja”. Rekaman tersebut menampilkan sejumlah operasi yang diklaim Al-Qassam dilakukan terhadap pasukan dan kendaraan militer 'Israel'.
Menurut Al-Qassam, rangkaian pertempuran berlangsung sejak 5 Oktober 2024 hingga 18 Januari 2025, terutama di wilayah Jabalia dan sekitarnya.
Video itu memperlihatkan penggunaan sejumlah alat peledak rakitan untuk menyerang jalur pergerakan kendaraan militer. Al-Qassam juga menampilkan serangan terhadap tank Merkava dan kendaraan lapis baja Namer, serta penggunaan rudal antiranjau Yasin-105.
Selain serangan terhadap kendaraan, rekaman tersebut menunjukkan para pejuang bergerak melalui jaringan terowongan sebelum muncul untuk menyerang pasukan 'Israel' dari jarak dekat.
Al-Qassam juga menampilkan sejumlah penyergapan terhadap pasukan 'Israel', termasuk serangan di Jabalia yang menurut kelompok tersebut menewaskan komandan Brigade 401, Kolonel Ehsan Daqsa.
Rekaman tersebut juga menampilkan mantan komandan Brigade Utara Al-Qassam, Izz al-Din al-Bik, yang berbicara kepada para pejuang di tengah pengepungan wilayah Gaza utara.
Dalam rekaman itu, al-Bik mengatakan pengepungan telah berlangsung selama 85 hari dan mengklaim jalur suplai kelompoknya masih berfungsi. Ia menyerukan agar para pejuang terus bertempur hingga akhir.
Al-Qassam kemudian mengumumkan pada 29 September 2026 bahwa al-Bik gugur dalam operasi yang disebutnya sebagai pembunuhan oleh 'Israel'.
Apa yang Dimaksud “Rencana Para Jenderal”?
Istilah “Rencana Para Jenderal” merujuk pada proposal yang diajukan pensiunan jenderal 'Israel' Giora Eiland pada September 2024.
Proposal tersebut menyerukan pengosongan Gaza utara dari penduduk, menjadikan wilayah itu sebagai zona militer tertutup, serta menghentikan akses makanan, air dan bahan bakar bagi mereka yang menolak pergi.
Rencana itu pada dasarnya terdiri dari dua tahap: mendorong penduduk Gaza utara untuk mengungsi ke selatan, kemudian mengepung wilayah tersebut dan memutusnya dari bagian lain Jalur Gaza.
Pemerintah 'Israel' tidak pernah secara resmi menyatakan mengadopsi proposal Eiland sebagai kebijakan pemerintah. Namun, pada 7 Oktober 2024, militer 'Israel' mengeluarkan perintah evakuasi bagi penduduk sejumlah wilayah di Gaza utara, termasuk Jabalia, Beit Hanoun dan Beit Lahia. Dua hari kemudian, 'Israel' melancarkan operasi besar di kamp pengungsi Jabalia.
Al-Qassam dalam video terbarunya menggambarkan pertempuran selama 107 hari tersebut sebagai upaya mempertahankan Gaza utara dari rencana pengosongan dan pengepungan wilayah.
Namun, klaim mengenai dampak operasi, jumlah korban, serta sejauh mana pasukan 'Israel' berhasil atau gagal mencapai tujuan militernya tidak dapat diverifikasi secara independen dari rekaman tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)
