BÜRGENSTOCK (Arrahmah.id) - Harapan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran kembali berada di titik nadir setelah delegasi Iran memutuskan untuk menangguhkan partisipasi dalam perundingan formal di Bürgenstock, Swiss, pada Ahad (21/6/2026). Langkah drastis ini diambil sebagai bentuk protes keras terhadap serangkaian ancaman militer yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump, yang dianggap sebagai pelanggaran telak terhadap nota kesepahaman yang baru saja disepakati.
Perundingan yang dimediasi oleh Qatar dan Pakistan ini baru berjalan sekitar 80 menit sebelum pihak Iran menarik diri. Menurut kantor berita Tasnim, delegasi Iran menyatakan bahwa ancaman Trump merupakan pelanggaran nyata terhadap perjanjian yang secara eksplisit melarang penggunaan intimidasi selama proses negosiasi berlangsung
Ketegangan meledak setelah Presiden Trump mengeluarkan serangkaian pernyataan keras melalui platform Truth Social dan wawancara dengan Fox News. Trump tidak hanya memperingatkan Iran untuk menghentikan dukungan bagi kelompok proksinya di Lebanon, tetapi juga melontarkan ancaman militer terbuka terkait Selat Hormuz.
Serangkaian ancaman yang dilontarkan oleh Presiden Donald Trump secara drastis mengguncang meja perundingan dan memicu ketegangan diplomatik yang serius. Dalam pernyataan kerasnya, Trump memberikan ancaman militer dengan memperingatkan bahwa ia akan menyerang Iran dengan sangat keras jika Teheran gagal mengendalikan kelompok proksinya di Lebanon.
Tidak berhenti di situ, Trump juga secara provokatif mengancam akan mengambil alih kendali atas Selat Hormuz serta memungut pajak sebesar 20 persen dari lalu lintas minyak jika kesepakatan tidak tercapai, sembari melontarkan pernyataan bernada merendahkan terhadap kedaulatan Iran.
Selain itu, Trump secara personal menargetkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian terkait kebijakan pengayaan uranium, dengan mengeluarkan ancaman untuk mengambil alih sisa wilayah negara tersebut apabila Teheran tidak segera mematuhi tuntutan Amerika Serikat.
Iran Ajukan Syarat Baru yang Lebih Berat
Penangguhan ini menandai pergeseran posisi Iran yang kini menuntut syarat yang jauh lebih berat untuk kembali ke meja perundingan. Alih-alih hanya menuntut penghentian serangan di Lebanon, Teheran kini menetapkan dua syarat mutlak kepada mediator.
Iran menuntut Presiden Trump menyampaikan permohonan maaf resmi atas ancaman yang dilontarkannya. Iran kini mensyaratkan penarikan penuh militer 'Israel' dari seluruh wilayah Lebanon sebagai prasyarat wajib untuk melanjutkan proses perdamaian.
Ketua delegasi perunding Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Teheran tidak akan tunduk pada intimidasi. "Ancaman Amerika sama sekali tidak ada artinya bagi kami." ujar Ghalibaf. Ia juga memperingatkan Washington agar berhati-hati dalam berkomentar, seraya menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran siap memberikan respons di lapangan jika eskalasi terus berlanjut.
Selain ketegangan verbal, perundingan ini juga diwarnai insiden protokol. Tim penyelenggara dari AS dilaporkan sempat mengupayakan sesi jabat tangan dan foto bersama antara delegasi Iran dan AS, namun pihak Iran menolak mentah-mentah proposal tersebut.
Hingga saat ini, belum ada pengumuman resmi mengenai apakah sesi kedua perundingan akan dijadwalkan ulang. Upaya mediasi kini berfokus pada meredam retorika publik kedua pemimpin negara yang dianggap sebagai penghalang utama bagi keberlangsungan kerangka kerja perdamaian yang diprakarsai oleh Pakistan dan Qatar. Situasi ini menempatkan inisiatif diplomatik yang baru berusia beberapa hari tersebut dalam ketidakpastian mendalam. (zarahamala/arrahmah.id)
