TEHERAN (Arrahmah.id) - Ketegangan di kawasan Teluk mencapai titik didih baru setelah militer Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran yang menyasar infrastruktur strategis di Iran. Sebagai respons, Iran mengklaim telah meluncurkan serangan pesawat nirawak (drone) ke sejumlah titik di Bahrain dan Kuwait.
Media pemerintah Iran melaporkan setidaknya tiga orang tewas dan sembilan lainnya terluka akibat serangan AS yang menghantam jembatan Kahurestan dan Gariyeh di Provinsi Hormozgan. Serangan tambahan di stasiun kereta api Bandar Abbas juga dilaporkan memakan korban jiwa dan melumpuhkan jalur logistik penting.
Menanggapi operasi militer AS yang telah memasuki malam keenam, militer Iran menyatakan bahwa serangan drone yang mereka tujukan ke Bahrain menyasar pusat dan fasilitas Amerika. Kementerian Dalam Negeri Bahrain segera mengaktifkan sirene peringatan dan meminta penduduk untuk mencari perlindungan di tempat aman.
Di saat bersamaan, sirene peringatan juga meraung di Kuwait. Militer Kuwait mengonfirmasi telah melakukan upaya pertahanan udara untuk menghalau serangan rudal dan drone yang mereka sebut sebagai serangan musuh yang berasal dari arah Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam pernyataannya menegaskan bahwa serangan mereka bertujuan untuk melemahkan kemampuan militer Iran, khususnya dalam mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Juru bicara CENTCOM, Tim Hawkins, menyatakan bahwa serangan menyasar situs peluncuran rudal, drone, radar, dan pos pengintaian di Pulau Tunb Besar dan sekitar Bandar Abbas.
"Tujuan kami adalah mengurangi kemampuan Teheran untuk menyerang kapal komersial," ujar Hawkins. Ia juga mengklaim bahwa militer AS berhasil membersihkan ranjau laut yang dipasang oleh Garda Revolusi Iran di Selat Hormuz, membuka kembali jalur pelayaran bagi kapal-kapal internasional.
Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran, Abolfazl Shekarchi, dengan keras menolak intervensi AS dan menegaskan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kedaulatan Iran dan Oman. Shekarchi mengeluarkan ancaman serius bahwa jika AS terus menyasar infrastruktur Iran, maka seluruh infrastruktur di kawasan akan menjadi target sah bagi Teheran.
"Ekspor minyak harus dinikmati oleh semua pihak, atau tidak sama sekali," tegas Shekarchi, seraya memperingatkan bahwa situasi di Selat Hormuz tidak akan pernah kembali seperti sebelum perang dan setiap serangan baru akan dibalas dengan kekuatan yang "jauh lebih besar dan lebih luas".
Data dari Marine Traffic menunjukkan lalu lintas di Selat Hormuz turun drastis, dengan hanya tiga kapal yang melintas dalam 24 jam terakhir. Di tengah situasi yang tidak menentu, AS saat ini menyiagakan sekitar 50.000 personel militernya di Timur Tengah, menegaskan kesiapan mereka untuk menjalankan misi lebih lanjut demi mengamankan jalur pelayaran vital dunia. (zarahamala/arrahmah.id)
