DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Militer Amerika Serikat (AS) telah mengirimkan delegasi militer dan memperkuat kehadiran pasukan di Suriah utara, dalam upaya membantu mengamankan konflik yang melibatkan pemerintah Suriah dan kelompok Kurdi-led serta menciptakan stabilitas setelah eskalasi kekerasan di wilayah tersebut.
Langkah ini mencerminkan peran aktif Washington di tengah perubahan lanskap geopolitik di Suriah meskipun masih ada ketegangan yang berkelanjutan di sepanjang front konflik.
Menurut laporan dari Arab News yang mengutip Reuters (17/1/2026), rombongan militer AS tiba di Deir Hafer, di mana pasukan pemerintah Suriah dan milisi yang dipimpin Kurdi — Syrian Democratic Forces (SDF) — telah bertukar tuduhan setelah negosiasi yang mandek mengenai integrasi SDF ke dalam tentara nasional. Gedung Putih belum merilis rincian resmi terkait jumlah personel yang dikerahkan.
Kedatangan militer AS terjadi di tengah ketegangan yang meningkat, dengan ribuan warga sipil bergerak menuju wilayah yang dikuasai pemerintah Suriah untuk menghindari potensi serangan militer terhadap posisi Kurdi. Pasukan keamanan Suriah dilaporkan telah membuka koridor kemanusiaan bagi warga sipil yang meninggalkan wilayah tersebut.
Utusan Khusus AS untuk Suriah, Tom Barrack, mengatakan Washington terus bekerja untuk mengurangi eskalasi dan memulihkan dialog antara pihak yang berseteru, termasuk antara Damaskus dan SDF. Menurut pernyataannya, AS tetap berkoordinasi dengan semua pihak untuk mencegah konflik lebih lanjut sambil mendorong integrasi politik dan militer yang lebih luas.
Keterlibatan militer AS di Suriah mengikuti apa yang disebut Pentagon sebagai upaya berkelanjutan untuk memerangi ancaman kelompok militan Islamic State (ISIS) di gurun Suriah.
Laporan resmi menyebut bahwa operasi udara besar oleh AS pada awal Januari 2026 telah menargetkan situs ISIS sebagai bagian dari Operation Hawkeye Strike, setelah serangan pada Desember 2025 yang menewaskan dua tentara AS serta seorang penerjemah di Palmyra.
Kehadiran pasukan AS yang tersisa di Suriah — diperkirakan sekitar seribu personel — juga fokus pada menjaga kemitraan dengan sekutu lokal seperti SDF dan mendukung agenda stabilisasi di negara yang dilanda perang selama lebih dari satu dekade.
Meskipun Presiden Donald Trump pernah berkomitmen untuk menarik pasukan AS dari Suriah, Washington terus mempertahankan kehadiran militer terbatas untuk mencegah kebangkitan kembali ISIS serta untuk memfasilitasi penyelesaian politik jangka panjang.
Analis militer mengatakan kehadiran AS di Suriah tetap sensitif dan berpotensi menimbulkan gesekan dengan aktor lain di kawasan, termasuk Turki dan Rusia, namun langkah ini menunjukkan bahwa Washington tetap terlibat dalam dinamika keamanan regional di Timur Tengah. (hanoum/arrahmah.id)
