Memuat...

Trump Diam-Diam Tinggalkan Air Force One, Ratusan Penumpang Diduga Jadi "Umpan"

Samir Musa
Kamis, 13 Agustus 2026 / 1 Rabiulawal 1448 21:24
Trump Diam-Diam Tinggalkan Air Force One, Ratusan Penumpang Diduga Jadi "Umpan"
Donald Trump turun dari pesawat kepresidenan lama di Pangkalan Mildenhall, Inggris, saat melakukan pergantian pesawat dalam perjalanan pulang ke Washington usai menghadiri KTT Ankara. (Associated Press)

WASHINGTON (Arrahmah.id) — Operasi rahasia untuk mengamankan kepulangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dari Turki menuai kontroversi. Trump diam-diam dipindahkan dari pesawat kepresidenan yang ditumpangi lebih dari 100 pejabat pemerintah dan jurnalis, sementara pesawat tersebut tetap melanjutkan perjalanan seolah-olah sang presiden masih berada di dalamnya.

Peristiwa itu terjadi setelah Trump menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki, pada 7–8 Juli lalu. Menurut laporan sejumlah media Barat, langkah tersebut dilakukan setelah aparat keamanan Amerika memperoleh informasi intelijen mengenai kemungkinan ancaman terhadap Trump, termasuk dugaan rencana Iran untuk menyerang pesawat kepresidenan.

Trump menuju pesawat pengganti di Pangkalan Mildenhall dalam perjalanan pulang ke Washington usai menghadiri KTT NATO. (Associated Press)

Trump diam-diam pindah pesawat

Menurut laporan Axios, The Guardian, dan i Paper, Trump awalnya tiba di Turki menggunakan pesawat VC-25B Bridge, pesawat yang diberikan Qatar kepada Amerika Serikat dan diproyeksikan menjadi bagian dari armada kepresidenan.

Namun, untuk perjalanan pulang, Trump dijadwalkan menggunakan pesawat kepresidenan lama VC-25A atau yang dikenal sebagai Air Force One.

Setelah menaiki pesawat tersebut di hadapan kamera media, Trump kemudian diam-diam dipindahkan melalui pintu samping menuju sebuah kendaraan pengangkut makanan. Dari sana, ia dibawa ke pesawat militer yang lebih kecil, C-32A.

Ketiga pesawat kemudian terbang menuju Inggris. Pesawat C-32A yang membawa Trump tiba di Pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris Mildenhall sekitar pukul 22.20 waktu setempat. Beberapa menit kemudian, pesawat kepresidenan yang membawa para pejabat dan wartawan tiba di pangkalan yang sama.

Trump kemudian kembali bergabung dengan rombongan di pesawat kepresidenan dan melanjutkan perjalanan menuju Amerika Serikat.

Selama penerbangan, para jurnalis dilaporkan diminta menutup tirai jendela sehingga tidak dapat mengetahui secara jelas keberadaan Trump.

Truk logistik katering terparkir di samping pesawat Air Force One di Bandara Ankara, menunggu kedatangan iring-iringan Presiden Trump untuk keberangkatan. (Associated Press)

Ancaman terhadap pesawat kepresidenan

Laporan tersebut menyebutkan bahwa keputusan itu diambil di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran serta setelah Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan besar terhadap sasaran Iran.

Pesawat VC-25A lama memiliki berbagai sistem perlindungan, termasuk kemampuan menghadapi gangguan elektromagnetik, perlindungan terhadap proyektil, sistem komunikasi aman, serta berbagai perangkat pertahanan.

Pesawat tersebut juga memiliki kemampuan pengisian bahan bakar di udara dan dapat memperoleh pengawalan pesawat tempur jika diperlukan.

Sementara itu, sejumlah laporan menyebutkan pesawat VC-25B baru belum memiliki sebagian kemampuan pertahanan rudal yang tersedia pada pesawat generasi sebelumnya. Meski demikian, Angkatan Udara Amerika Serikat menegaskan bahwa pesawat baru tersebut telah melalui modifikasi dan pengujian keamanan secara ekstensif.

Trump: Pesawat yang saya tumpangi justru lebih berbahaya

Trump sendiri mengakui bahwa dirinya dipindahkan dari pesawat kepresidenan.

Menurut laporan The Guardian, Trump mengatakan bahwa pesawat yang membawanya kemungkinan justru lebih rentan menjadi sasaran karena pihak penyerang dapat mengira bahwa pesawat tersebut membawa presiden.

Ketika ditanya mengenai keputusan tersebut, Trump mengatakan bahwa ia hanya mengikuti keputusan Secret Service dan militer Amerika Serikat.

Trump juga mengklaim dirinya selalu menjadi target utama.

"Saya selalu mendapat ancaman. Saya nomor satu dalam daftar mereka," ujar Trump ketika ditanya mengenai kemungkinan adanya ancaman Iran terhadap Air Force One.

Senator Richard Blumenthal menyebut operasi pengelabuan untuk melindungi presiden sebagai tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sangat mengkhawatirkan. (Getty Images)

Penumpang lain dijadikan "umpan"?

Keputusan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan serius mengenai keselamatan para penumpang yang tetap berada di pesawat kepresidenan.

Stephen Cash, mantan pejabat CIA sekaligus direktur eksekutif organisasi Steady State, menilai langkah tersebut seolah-olah mengurangi risiko terhadap Trump dengan membiarkan sekitar 100 orang lainnya tetap berada di pesawat yang dianggap berpotensi menjadi sasaran.

Senator Demokrat Richard Blumenthal juga menyebut operasi tersebut sebagai tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sangat mengkhawatirkan. Ia meminta penjelasan kepada pemerintah mengenai langkah-langkah yang diambil untuk memastikan keselamatan para pegawai dan wartawan yang tetap berada di pesawat.

Pertanyaan utamanya adalah: jika pesawat tersebut dianggap cukup berbahaya bagi presiden, mengapa orang lain tetap berada di dalamnya?

Perdebatan juga menyentuh kewajiban pemerintah untuk memperingatkan individu yang diketahui menghadapi ancaman serius. Menurut sejumlah pihak, perlu diketahui apakah para penumpang mendapat informasi mengenai ancaman tersebut sebelum pesawat berangkat.

Namun, sejumlah mantan pejabat pemerintah membela keputusan tersebut. Ari Fleischer, mantan juru bicara Presiden George W. Bush, mengatakan Secret Service, Angkatan Udara, dan Gedung Putih layak mendapat apresiasi apabila informasi mengenai ancaman tersebut memang benar, karena tugas utama mereka adalah melindungi presiden.

Seberapa serius ancaman Iran?

Hingga kini, pemerintah Amerika Serikat belum membuka secara terbuka seluruh informasi intelijen yang menjadi dasar keputusan tersebut.

Ankit Panda dari Carnegie Endowment for International Peace menilai serangan langsung terhadap pesawat kepresidenan merupakan operasi yang sangat sulit dilakukan. Sementara Jeffrey Lewis dari Foreign Policy Research Institute mengatakan Iran tidak mudah memiliki kemampuan untuk menembak pesawat yang lepas landas dari Ankara menggunakan sistem pertahanan udara.

Meski demikian, mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Turki James Jeffrey menilai operasi rahasia tersebut menunjukkan bahwa aparat keamanan kemungkinan memiliki informasi intelijen yang cukup serius.

Ia bahkan menduga informasi tersebut mungkin berasal dari "Israel", yang memiliki kemampuan intelijen luas terkait Iran.

Krisis kepercayaan Gedung Putih dan media

Kontroversi tidak berhenti pada persoalan keamanan. Cara pemerintah menyembunyikan keberadaan Trump dari para jurnalis juga memicu kritik.

Ned Price, mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat, menilai pemerintah sebenarnya dapat melindungi presiden tanpa memberikan informasi yang menyesatkan kepada wartawan.

Menurutnya, wartawan dapat diberi tahu bahwa terdapat pengaturan keamanan khusus dan diminta tidak mempublikasikannya sampai presiden berada dalam kondisi aman.

Kekhawatiran serupa disampaikan Jake Tapper dari CNN. Menurutnya, perlindungan terhadap presiden memang sangat penting dan pemerintahan sebelumnya juga pernah menggunakan taktik penyesatan untuk tujuan keamanan. Namun, penggunaan pesawat yang membawa puluhan hingga lebih dari seratus pegawai dan wartawan sebagai bagian dari pengelabuan ketika terdapat ancaman nyata merupakan persoalan yang berbeda.

José Zamora dari Committee to Protect Journalists juga menyatakan bahwa wartawan semestinya memperoleh informasi mengenai ancaman keamanan yang kredibel agar dapat mengambil keputusan mengenai keselamatan mereka sendiri.

Peristiwa tersebut pada akhirnya membuka persoalan yang lebih luas: sejauh mana pemerintah boleh menggunakan penyesatan demi melindungi seorang presiden, dan apakah keamanan kepala negara dapat dibenarkan dengan menempatkan orang lain pada risiko yang sama.

Operasi rahasia dari Ankara hingga Mildenhall itu kini menjadi sorotan politik di Washington dan berpotensi memicu pertanyaan lebih jauh di Kongres mengenai batas kewenangan pemerintah, perlindungan terhadap jurnalis, serta transparansi dalam operasi keamanan presiden.

(Sanirmusa/arrahmah.id)