ANKARA (Arrahmah.id) - Kalangan pejabat Turki mencurigai laporan intelijen 'Israel' yang menyebutkan bahwa Iran berencana membunuh Presiden Amerika Serikat Donald Trump selama KTT NATO di Ankara bulan lalu hanyalah sebuah rekayasa. Laporan tersebut diyakini merupakan siasat untuk menggagalkan perundingan damai antara AS dan Teheran.
KTT NATO yang berlangsung pada 7–8 Juli 2026 lalu membuat ibu kota Turki diamankan secara ketat. Puncaknya terjadi pada 8 Juli sekitar pukul 12 siang, tatkala pasukan keamanan Turki secara tidak biasa mengerahkan unit tambahan ke Pangkalan Udara Etimesgut (yang difungsikan sebagai Bandara Ankara) tempat Air Force One terparkir.
Di tengah pengamanan berlapis tersebut, pejabat AS menyampaikan kepada pihak Turki bahwa mereka menerima laporan intelijen dari 'Israel'. Laporan itu memperingatkan bahwa unit operasi rahasia Iran diklaim berencana menargetkan pesawat kepresidenan Air Force One yang baru dari radius satu kilometer menggunakan misil panggul (Manpads).
Mengingat jarak bangunan sipil di sekitar Pangkalan Udara Ankara yang hanya berkisar 500 meter dari landasan, Dinas Rahasia AS (Secret Service) meminta langkah pengamanan tambahan. Rencana keberangkatan Trump dipindah ke Bandara Esenboga yang memiliki perimeter lebih jauh dari permukiman, dan pesawat Air Force One versi lama, yang dilengkapi sistem pertahanan udara, kembali digunakan.
Secret Service bahkan menerapkan prosedur pengamanan tingkat tinggi dengan memindahkan Trump secara diam-diam dari pesawat ke truk katering, untuk kemudian dibawa menaiki pesawat cadangan pemerintah AS berjenis C-32, seperti yang tertangkap dalam rekaman video yang beredar.
Kendati ancaman tersebut sempat dianggap kredibel mengingat riwayat ketegangan AS-Iran, waktu penyampaian laporan intelijen 'Israel' itu dinilai sangat janggal. Laporan itu tiba ketika Trump tengah merundingkan kesepakatan damai dengan Iran untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
Sumber yang hadir dalam pertemuan antara Trump dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengungkapkan bahwa Trump berulang kali menyatakan perang dengan Iran telah usai dan optimis terhadap proses negosiasi. Sikap lunak ini bertolak belakang dengan agenda Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu yang justru mendesak eskalasi militer dan penargetan infrastruktur energi Iran.
Pejabat Turki kini meyakini bahwa laporan intelijen tersebut kemungkinan besar merupakan tipu muslihat pemerintahan Netanyahu untuk mencitrakan diri sebagai pelindung Trump, sekaligus merusak perundingan dengan Teheran dan menggoyang kedekatan hubungan Trump dengan Erdogan.
Selain isu Iran, dalam lawatan tersebut Trump juga mengisyaratkan kesiapan mencabut sanksi atas pembelian sistem rudal S-400 Rusia oleh Turki serta membuka kembali peluang penjualan jet tempur F-35 ke Ankara, langkah yang selama ini ditentang keras oleh 'Israel' karena dinilai dapat mengikis keunggulan militer kualitatif (Qualitative Military Edge) mereka.
Sejumlah sumber di Ankara menilai klaim plot pembunuhan itu tidak masuk akal. Operasi semacam itu mustahil dilakukan di Turki tanpa melintasi pos-pos pemeriksaan ketat di tengah kota yang sedang di-lockdown, serta berisiko merusak hubungan stabil antara Ankara dan Teheran.
"Saya rasa mereka butuh pahlawan untuk sebuah serangan yang tidak pernah terjadi dan, kemungkinan besar, tidak pernah direncanakan," ujar seorang sumber internal di Ankara. (zarahamala/arrahmah.id)
