KHAN YUNIS (Arrahmah.id) - Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza memasuki fase kritis baru seiring dengan merebaknya krisis air bersih akut yang melanda ratusan ribu warga Palestina di kamp-kamp pengungsian Al-Mawasi, Khan Yunis, Gaza Selatan. Berdasarkan laporan lapangan pada Jumat (5/6/2026), sekitar 200.000 warga sipil yang sebelumnya diusir paksa dari Kota Rafah kini harus berjuang bertahan hidup di bawah ancaman dehidrasi masif menjelang puncak musim panas.
Kawasan pesisir Al-Mawasi yang saat ini menampung lebih dari 118 titik kamp pengungsian darurat menghadapi kelangkaan air ekstrem akibat lonjakan populasi yang tidak sebanding dengan infrastruktur yang ada. Otoritas setempat melaporkan bahwa stasiun pompa dan sumur-sumur air gagal beroperasi secara optimal akibat pemblokiran pasokan bahan bakar, pelumas, serta suku cadang generator oleh pihak 'Israel'.
Di tengah keterbatasan ini, anak-anak dan perempuan menjadi kelompok yang paling terdampak secara fisik untuk mengamankan beberapa galon air. Demi mendapatkan beberapa liter air payau, anak-anak pengungsi harus berjalan kaki sejauh 2,5 kilometer setiap harinya menuju Sumur Zannoun satu-satunya sumber air yang tersisa di wilayah tersebut.
Satu kepala keluarga yang terdiri dari 10 anggota rata-rata harus melakukan 4 hingga 6 kali perjalanan bolak-balik per hari untuk memenuhi kebutuhan dasar masak dan minum yang sering kali habis dalam beberapa jam.
Para pengungsi mengungkapkan bahwa kelangkaan pasokan air ini telah berlangsung kronis selama 1 tahun 3 bulan terakhir tanpa ada solusi struktural dari lembaga bantuan internasional.
Aksi protes skala besar telah diorganisir oleh ribuan pengungsi untuk menuntut peningkatan kuota distribusi air, namun hingga kini belum mendapatkan respons konkret dari organisasi internasional maupun lokal.
Moein Sheikh Al-Eid, salah satu koordinator wilayah kamp pengungsian, memperingatkan bahwa krisis ini bukan lagi sekadar masalah kelangkaan fasilitas, melainkan ancaman langsung terhadap keselamatan jiwa dan sanitasi dasar.
"Ketidakadaan air bersih mempersulit pengungsi untuk menjaga standar higienitas personal paling minimal. Kami mendeteksi risiko tinggi ledakan wabah penyakit menular di pemukiman padat ini karena sanitasi yang buruk," ujar Sheikh Al-Eid.
Meskipun dihadapkan pada kombinasi krisis pangan, kelangkaan air, dan pemotongan bantuan logistik global, para pengungsi di Al-Mawasi menegaskan komitmen mereka untuk tetap bertahan di tanah Gaza dan menolak opsi pengusiran keluar dari wilayah perbatasan. (zarahamala/arrahmah.id)Gaya
