ROMA (Arrahmah.id) – Putaran ketujuh perundingan antara Lebanon dan "Israel" yang digelar di Roma, Italia, belum menghasilkan terobosan berarti. Dalam perundingan yang dimediasi Amerika Serikat itu, "Israel" dilaporkan menolak menarik pasukannya dari wilayah baru di Lebanon selatan dan tetap bersikeras melakukan verifikasi sebelum melanjutkan proses penarikan.
Mengutip Al Jazeera yang melansir AFP, sumber di Kepresidenan Lebanon menyatakan bahwa Beirut tetap menuntut agar proses penarikan pasukan "Israel" diperluas ke wilayah-wilayah baru. Namun, delegasi "Israel" menolak usulan tersebut dan menghendaki penyelesaian proses verifikasi terhadap dua kawasan percontohan yang sebelumnya telah ditempati tentara Lebanon.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat menggambarkan perundingan tersebut sebagai pembicaraan yang "positif". Ia mengatakan kedua pihak kini "jauh lebih dekat" untuk memperluas penerapan kawasan percontohan sebagai bagian dari implementasi kesepakatan.
Meski demikian, Wall Street Journal mengutip sejumlah pejabat Lebanon yang menilai serangan "Israel" yang terus berlanjut di Lebanon selatan justru semakin mempersulit jalannya negosiasi. Mereka juga pesimistis akan tercapai terobosan diplomatik besar ataupun penarikan penuh pasukan "Israel" sebelum pemilu "Israel" yang dijadwalkan berlangsung pada musim gugur mendatang.
Menurut laporan tersebut, Lebanon berharap memperoleh persetujuan "Israel" untuk menarik pasukannya dari lebih banyak desa dan menyerahkan kembali wilayah itu kepada otoritas Lebanon. Namun, Tel Aviv menolak langkah tersebut.
"Israel" juga mengusulkan agar negara ketiga ditugaskan memverifikasi bahwa wilayah yang ditinggalkannya benar-benar bebas dari pejuang Hizbullah maupun infrastruktur militer kelompok tersebut. Italia disebut-sebut menjadi salah satu kandidat utama untuk menjalankan tugas tersebut.
Di sisi lain, sejumlah pejabat militer "Israel" mengakui bahwa pelucutan senjata Hizbullah tidak dapat dicapai hanya melalui operasi militer, melainkan membutuhkan penyelesaian politik.
Sebelumnya, pada 26 Juni lalu, Lebanon dan "Israel" menyepakati kerangka perjanjian setelah lima putaran perundingan di Washington. Kesepakatan itu mencakup pelucutan senjata Hizbullah, penarikan bertahap pasukan "Israel" dari wilayah yang didudukinya di Lebanon selatan, serta pengerahan tentara Lebanon dimulai dari dua kawasan percontohan.
Sebagai bagian dari implementasi kesepakatan tersebut, tentara Lebanon telah memasuki kota Zoutr al-Gharbiyah pada 21 Juli setelah pasukan "Israel" mundur dari pinggiran kota itu. Militer Lebanon juga memperkuat kehadirannya di kota Srifa dan Frun.

Tentara Lebanon Terluka
Di tengah mandeknya negosiasi, ketegangan di lapangan masih terus berlangsung.
Kantor Berita Nasional Lebanon melaporkan sebuah pesawat nirawak "Israel" menjatuhkan bom kejut ke arah buldoser milik tentara Lebanon yang sedang membuka akses jalan di Kota Mansouri, Lebanon selatan, guna memfasilitasi kepulangan warga yang sebelumnya mengungsi akibat peringatan evakuasi dari "Israel".
Militer Lebanon kemudian mengonfirmasi bahwa seorang prajurit mengalami luka ringan akibat serangan terhadap buldoser tersebut saat sedang membersihkan jalan dan menyingkirkan puing-puing.
Sebelumnya pada Jumat pagi, unit tentara Lebanon telah memasuki Mansouri untuk membuka jalan yang tertutup akibat serangan udara "Israel" dalam beberapa hari terakhir.
Pada Rabu lalu, puluhan keluarga terpaksa meninggalkan Mansouri setelah militer "Israel" mengeluarkan peringatan agar warga mengosongkan rumah mereka menjelang operasi militer di kawasan itu. Peringatan tersebut merupakan yang pertama sejak 14 Juni lalu.
Sejak 2 Maret, "Israel" terus melancarkan operasi militer di Lebanon. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan-serangan tersebut telah menewaskan sedikitnya 4.333 orang dan melukai 12.250 lainnya.
(Samirmusa/arrahmah.id)
