Memuat...

RSUD Cicalengka Nonaktifkan Sementara Oknum Perawat Diduga Unggah Komentar Tak Berempati di Media Sosial

Ameera
Jumat, 7 Agustus 2026 / 24 Safar 1448 20:49
RSUD Cicalengka Nonaktifkan Sementara Oknum Perawat Diduga Unggah Komentar Tak Berempati di Media Sosial
RSUD Cicalengka Nonaktifkan Sementara Oknum Perawat Diduga Unggah Komentar Tak Berempati di Media Sosial

BANDUNG (Arrahmah.id) – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menonaktifkan sementara seorang oknum perawat yang diduga mengunggah komentar di media sosial yang dinilai tidak menunjukkan empati.

Langkah tersebut diambil setelah pihak rumah sakit menerima laporan dari masyarakat dan melakukan investigasi internal.

Direktur RSUD Cicalengka, Yani Sumpena Muchtar, mengatakan pihaknya bergerak cepat menindaklanjuti laporan yang masuk melalui akun media sosial resmi rumah sakit.

"Untuk sementara kami nonaktifkan dulu dari pelayanan. Kamis pagi kami langsung melakukan investigasi. Komite Keperawatan turun, kepala bidang turun, kemudian yang bersangkutan kami panggil untuk dimintai keterangan," ujar Yani, Jumat (7/8/2026).

Berdasarkan hasil penelusuran internal, oknum perawat tersebut diketahui turut memberikan komentar pada unggahan mengenai meninggalnya pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), almarhum Yurizal.

Komentar tersebut kemudian menjadi viral dan memicu kritik dari masyarakat karena dinilai tidak mencerminkan sikap empati sebagai tenaga kesehatan.

Sebagai tindak lanjut, RSUD Cicalengka memberikan pembinaan kepada yang bersangkutan, menonaktifkannya sementara dari pelayanan, serta melaporkan kasus tersebut kepada Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) untuk proses administrasi lebih lanjut.

"Kami tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah, sambil menunggu proses administrasi lebih lanjut. Hari ini juga kami melaporkan ke BKPSDM," kata Yani.

Sementara itu, oknum perawat tersebut telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui sebuah video.

Dalam pernyataannya, ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum Yurizal, meminta maaf kepada keluarga korban, Direktur RSUD Cicalengka, masyarakat, serta menyatakan siap menerima sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.

Yani mengaku kecewa atas tindakan pegawainya tersebut. Menurutnya, insiden itu terjadi di tengah upaya RSUD Cicalengka membangun budaya pelayanan 5S, yaitu Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun, sebagai bagian dari peningkatan mutu layanan kepada masyarakat.

"Sebetulnya kami sangat kecewa. Saat ini kami sedang gencar membudayakan 5S untuk meningkatkan mutu pelayanan, tetapi ada oknum yang menggunakan bahasa yang kurang pantas di media sosial," ungkapnya.

Ia juga meluruskan bahwa peristiwa yang menjadi perbincangan di media sosial bukan terjadi di RSUD Cicalengka. Namun, komentar yang diunggah oknum pegawai tersebut membuat identitas tempat kerjanya diketahui publik dan turut menjadi sorotan warganet.

"Perlu kami luruskan bahwa kejadiannya bukan di RSUD Cicalengka. Yang menjadi persoalan adalah komentar oknum pegawai kami yang dinilai kurang beretika," tegas Yani.

RSUD Cicalengka menyatakan akan menjadikan kejadian ini sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat pembinaan etika profesi dan etika bermedia sosial bagi seluruh pegawai.

Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah terulangnya peristiwa serupa sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit.

(ameera/arrahmah.id)