Memuat...

Dokumenter Al Jazeera Ungkap Kekerasan Seksual terhadap Tahanan Palestina di Penjara 'Israel'

Zarah Amala
Sabtu, 20 Juni 2026 / 5 Muharam 1448 11:24
Dokumenter Al Jazeera Ungkap Kekerasan Seksual terhadap Tahanan Palestina di Penjara 'Israel'
Dokumenter Al Jazeera paparkan bukti kekerasan seksual yang dialami tahanan Palestina di penjara 'Israel' (Foto: tangkapan video)

DOHA (Arrahmah.id) - Saluran berita Al Jazeera merilis film dokumenter investigasi berjudul "Bodies as Witnesses" pada Jumat malam (19/6/2026), yang menyingkap tabir praktik kekerasan seksual sistematis yang dilakukan oleh militer 'Israel' terhadap tahanan serta narapidana Palestina. Dokumenter ini memaparkan bukti-bukti mengerikan dan kesaksian langsung dari para penyintas mengenai berbagai bentuk penyiksaan yang terjadi di fasilitas penahanan militer antara 2023 hingga 2025.

Berdasarkan analisis pakar hukum internasional yang dimuat dalam dokumenter tersebut, tindakan yang dilakukan oleh militer 'Israel', di mana tubuh tahanan dijadikan "medan tempur" dan kekerasan seksual digunakan sebagai instrumen perang, dapat diklasifikasikan sebagai kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan tindakan yang merupakan bagian dari agenda genosida untuk memaksa warga Palestina meninggalkan tanah mereka.

Dokumenter ini mengumpulkan narasi tragis dari para mantan tahanan, termasuk aktivis dan warga sipil, yang menggambarkan lingkungan penjara sebagai tempat penyiksaan ekstrem.

Mantan tahanan, Muhammad Zaki al-Bakri, menceritakan sistem yang disebut militer sebagai "upacara penyambutan" di penjara Sde Teiman, yang melibatkan serangan anjing pelacak, granat tangan, dan pemukulan brutal.

Seorang mantan tahanan berinisial Ayub mengungkapkan momen paling traumatis dalam hidupnya bukanlah pemukulan atau sengatan listrik, melainkan kekerasan seksual yang dilakukan secara publik di hadapan tentara lain yang bersorak dan merekam aksi tersebut dengan ponsel.

Aktivis Kifayah Khureim menceritakan pengalamannya ditelanjangi, dipaksa melakukan posisi jongkok berulang kali, dan mengalami kekerasan seksual. Laporan juga menyebutkan bahwa anak-anak Palestina sering kali menjadi sasaran penggeledahan telanjang tanpa alasan medis maupun keamanan yang sah.

Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk Wilayah Palestina yang Diduduki, menyatakan dalam dokumenter tersebut bahwa kekejaman 'Israel' telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya pasca-7 Oktober 2023. Menurutnya, tindakan ini bukan lagi bertujuan untuk menginterogasi atau mendapatkan pengakuan, melainkan sebuah aksi balas dendam yang terintegrasi dalam praktik penahanan.

"Pelanggaran 'Israel' terhadap tahanan Palestina ditujukan untuk membunuh dan memusnahkan ide yang diwakili oleh warga Palestina, yaitu ide tentang ketabahan (steadfastness)," ungkap Francesca Albanese.

Salah satu sorotan kritis dalam dokumenter ini adalah adanya impunitas sistemik yang diberikan oleh otoritas 'Israel' kepada pelaku kekerasan. Dokumenter tersebut mencatat bahwa meskipun terdapat bukti video yang mendokumentasikan serangan tentara terhadap tahanan di penjara Sde Teiman pada Juli 2024, seluruh tuduhan terhadap lima tentara yang terlibat akhirnya digugurkan oleh sistem peradilan 'Israel'.

Berbagai metode penyiksaan yang terdokumentasi meliputi pemukulan brutal, pembakaran, pematahan tulang dan gigi, hingga penggunaan instrumen tajam seperti pisau dan batang logam dalam tindakan kekerasan seksual. Dokumenter ini menegaskan bahwa perilaku ini mendapatkan payung hukum dan politik dari pihak berwenang 'Israel', yang membiarkan kejahatan kemanusiaan ini terus berlangsung tanpa ada pertanggungjawaban yang nyata di mata hukum internasional. (zarahamala/arrahmah.id)