NEW DELHI (Arrahmah.id) – Gelombang protes yang dipimpin anak muda India berhasil memaksa Menteri Pendidikan India, Dharmendra Pradhan, mengundurkan diri setelah berbulan-bulan mendapat tekanan terkait skandal kebocoran soal ujian nasional.
Peristiwa ini menjadi salah satu kemunduran politik paling signifikan yang dialami Perdana Menteri Narendra Modi selama lebih dari 12 tahun memimpin India.
Para demonstran yang mayoritas berasal dari kalangan mahasiswa mengusung nama unik "Partai Kecoak Janata" sebagai bentuk sindiran terhadap pemerintahan Modi. Mereka menggelar aksi di berbagai kota sambil membawa poster-poster satir yang menyindir pemerintah.
Modi selama ini dikenal sebagai salah satu pemimpin paling berpengaruh di India. Pemerintahannya jarang sekali mengalah terhadap tekanan publik. Karena itu, pengunduran diri Menteri Pendidikan dinilai sebagai kemenangan besar gerakan mahasiswa.
Menurut analis politik sekaligus penulis biografi Modi, Nilanjan Mukhopadhyay, keberhasilan aksi tersebut telah mengubah dinamika politik India.
"Babak ini berakhir dengan kekalahan yang sangat penting bagi Modi," ujarnya.
Ia menilai keberhasilan demonstrasi tersebut telah mematahkan rasa takut masyarakat untuk turun ke jalan memprotes pemerintah.
"Penghalang rasa takut telah runtuh. Orang-orang kini tidak lagi takut melakukan demonstrasi terhadap pemerintah," katanya.
Aksi protes bermula pada Mei 2026 dengan satu tuntutan utama, yakni pengunduran diri Menteri Pendidikan setelah kebocoran soal ujian yang dinilai merugikan jutaan pelajar.
Namun seiring meluasnya aksi, tuntutan berkembang menjadi desakan agar pemerintah lebih transparan, akuntabel, dan serius mengatasi tingginya angka pengangguran di kalangan generasi muda.
Mukhopadhyay menyebut ini sebagai pertama kalinya gerakan mahasiswa mampu memaksa pemerintah memenuhi tuntutan utama mereka tanpa dukungan partai-partai politik.
"Setiap mahasiswa memiliki keluhan masing-masing karena kehidupan mereka tidak mengalami kemajuan," ujarnya.

Gerakan Tetap Independen
Juru bicara "Partai Kecoak Janata", Saurav Das, menegaskan bahwa gerakan mereka tidak berniat berubah menjadi partai politik.
"Kami ingin tetap menjadi kelompok pengawas masyarakat dan kelompok penekan. Pemerintah yang selama 12 tahun bersikap arogan akhirnya terpaksa mundur ketika anak-anak muda bersatu," katanya.
Meski demikian, belum dapat dipastikan apakah gelombang protes tersebut akan berpengaruh terhadap dukungan elektoral bagi Partai Bharatiya Janata (BJP) yang dipimpin Modi.

Modi Mulai Dekati Generasi Muda
Pasca demonstrasi, Modi mulai mengubah strategi komunikasinya kepada pemilih muda.
Ia semakin sering muncul dalam video pendek berformat vertikal yang dirancang untuk Instagram dan berbagai platform media sosial yang populer di kalangan Generasi Z.
Sejumlah anggota BJP juga mulai menggunakan bahasa gaul anak muda dalam berbagai penampilan publik, termasuk saat berpidato di parlemen.
Para pengamat menilai perubahan tersebut berbeda dengan sikap pemerintah pada awal demonstrasi yang cenderung meremehkan gerakan mahasiswa.
Setelah jumlah demonstran terus bertambah, pemerintah akhirnya mengakui besarnya pengaruh gerakan tersebut.
Bahkan, setelah pengunduran diri Menteri Pendidikan, Modi menyatakan akan memaafkan pihak-pihak yang selama ini mengejek dirinya, yang dinilai sebagai upaya memperbaiki hubungan dengan kalangan muda.
Mukhopadhyay mengatakan dampak terbesar dari gerakan tersebut adalah rusaknya citra Modi sebagai pemimpin yang selama ini dianggap kebal terhadap tekanan publik.

Intimidasi terhadap Demonstran
Di sisi lain, sejumlah pendukung Modi meningkatkan tekanan terhadap para demonstran.
Aktivis daring yang mendukung BJP dilaporkan berupaya mengungkap identitas peserta aksi dan menyebarkan data pribadi mereka melalui internet sebagai bentuk intimidasi.
Meski demikian, gelombang solidaritas terhadap mahasiswa terus meluas. Aksi dukungan digelar di berbagai kota, sementara masyarakat mengirimkan makanan dan berbagai kebutuhan kepada peserta aksi yang melakukan mogok makan di New Delhi.

Gerakan tersebut juga mendapat dukungan dari tokoh oposisi, aktivis hak asasi manusia, hingga sejumlah figur Bollywood, sehingga gaung protes semakin meluas.
Salah seorang pemimpin mahasiswa, Neha Bora, yang ikut melakukan mogok makan di New Delhi, mengatakan gerakan tersebut membuktikan bahwa rakyat memiliki kekuatan untuk meminta pertanggungjawaban para pejabat.
"Jika para menteri tidak melayani rakyat negeri ini, apa pun jabatan mereka, maka mereka harus dicopot dari posisinya," tegasnya.
(Samirmusa/arrahmah.id)
