NEW YORK (Arrahmah.id) – Selama hampir delapan dekade sejak didirikan pada 1947, Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) telah menjalankan berbagai operasi rahasia di berbagai belahan dunia. Mulai dari operasi penggulingan pemerintahan asing, penculikan target intelijen, jaringan penjara rahasia, hingga program interogasi yang menuai kecaman karena melibatkan penyiksaan.
Namun, setelah puluhan tahun kontroversi, penyelidikan, dan kritik publik, pertanyaan besar masih muncul: apakah CIA benar-benar telah berubah?
Pertanyaan itu diajukan dalam program UpFront Al Jazeera kepada mantan perwira CIA, John Kiriakou, seorang mantan agen intelijen yang kemudian menjadi pelapor pelanggaran (whistleblower) setelah mengungkap praktik penyiksaan terhadap tahanan pasca-serangan 11 September 2001.
Kiriakou mengatakan pengalaman puluhan tahunnya di dalam CIA membuatnya melihat bagaimana sebuah lembaga yang mengklaim menjaga keamanan nasional dapat terjebak dalam praktik yang bertentangan dengan nilai hukum dan kemanusiaan.

Dari keluarga imigran hingga bergabung dengan CIA
Kiriakou mengungkapkan bahwa keputusannya bergabung dengan CIA dipengaruhi oleh latar belakang keluarganya.
Ia berasal dari keluarga imigran Yunani. Keempat kakek dan neneknya datang ke Amerika Serikat dari Pulau Rhodes yang saat itu berada di bawah pendudukan Italia.
Menurutnya, keluarganya selalu menanamkan rasa terima kasih kepada Amerika karena negara itu memberikan mereka kesempatan hidup baru.
"Kakek saya selalu bercerita bahwa Franklin Roosevelt berdiri di Pulau Ellis untuk menyambut para imigran dan memberikan mereka kesempatan," kata Kiriakou.
Karena pengaruh itu, ia merasa harus melakukan pelayanan publik.
Awalnya ia membayangkan bekerja di dinas luar negeri atau Capitol Hill. Namun ketika kuliah di George Washington University, seorang profesor yang ternyata merupakan perekrut CIA mendekatinya.
"Saya ingin melihat dunia. Dan CIA terdengar seperti cara yang baik untuk melakukannya," ujarnya.

Operasi menangkap Abu Zubaydah
Salah satu operasi terbesar yang pernah dijalani Kiriakou adalah penangkapan Abu Zubaydah pada 2002.
Saat itu, CIA meyakini Abu Zubaydah merupakan tokoh nomor tiga dalam jaringan Al-Qaeda dan memiliki informasi penting terkait serangan 11 September.
Namun bertahun-tahun kemudian, Kiriakou mengakui bahwa penilaian tersebut ternyata salah.
"Kami salah. Dia bukan nomor tiga Al-Qaeda," katanya.
Menurutnya, Abu Zubaydah memang merupakan tokoh penting dalam aktivitas operasional Al-Qaeda. Ia membantu menyediakan tempat persembunyian, mengatur perjalanan anggota kelompok, serta membantu orang-orang yang ingin bergabung dengan jihad di Afghanistan.
Namun, ia bukan perencana utama serangan 11 September.
Meski demikian, Abu Zubaydah tetap berada dalam tahanan Amerika Serikat selama lebih dari dua dekade, termasuk di fasilitas penjara Guantanamo.
"Saya malu pernah memiliki keterlibatan dengan hal itu," ujar Kiriakou.

Penyiksaan dan program interogasi CIA
Kiriakou kemudian berbicara mengenai program interogasi CIA yang dikenal sebagai "enhanced interrogation techniques" atau teknik interogasi yang ditingkatkan.
Ia mengatakan beberapa teknik dasar seperti tekanan verbal tidak termasuk penyiksaan.
Namun, menurutnya, metode seperti waterboarding (simulasi penenggelaman), kurang tidur ekstrem, serta perlakuan fisik tertentu telah melewati batas.
"Itu adalah penyiksaan," tegasnya.
Ia bahkan menilai kurang tidur lebih berbahaya daripada waterboarding.
CIA, katanya, pernah memberikan izin untuk membuat tahanan tetap terjaga hingga 12 hari.
"Mereka dirantai ke baut di langit-langit sehingga tidak bisa duduk atau berbaring. Mereka harus berdiri terus-menerus," jelasnya.
Menurutnya, manusia yang kehilangan tidur dalam waktu lama dapat mengalami gangguan mental serius dan kegagalan organ.

Penyiksaan tidak menghasilkan informasi akurat
Kiriakou menolak argumen bahwa penyiksaan efektif untuk mendapatkan informasi intelijen.
Menurutnya, seseorang yang disiksa akan mengatakan apa pun yang dianggap dapat menghentikan penderitaan.
Ia mengutip kisah mantan tahanan perang Vietnam dan senator Amerika Serikat, John McCain.
McCain pernah menceritakan bahwa saat disiksa di Vietnam Utara, ia memberikan nama-nama pemain tim Green Bay Packers kepada penyiksanya agar mereka berhenti menyiksanya.
"Itu bukan informasi rahasia. Itu hanya nama-nama pemain sepak bola," ujar Kiriakou.
Ia juga mengkritik teori "bom waktu yang berdetak" yang sering digunakan untuk membenarkan penyiksaan.
Menurutnya, skenario seperti dalam film 24 dengan tokoh Jack Bauer hampir tidak pernah terjadi dalam dunia nyata.
"Masalahnya adalah, bagaimana jika informasi itu salah? Membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menganalisis informasi tersebut. Saat itu, bom dalam cerita sudah lama meledak," katanya.

Budaya balas dendam setelah 11 September
Kiriakou mengatakan suasana di dalam CIA setelah serangan 11 September dipenuhi kemarahan dan keinginan untuk membalas.
Ia mengenang ketika akan dikirim ke Pakistan sebagai kepala operasi kontra-terorisme.
Sebelum berangkat, seorang atasannya memeluknya dan berbisik:
"Bunuh mereka semua."
Menurut Kiriakou, kalimat tersebut menggambarkan pola pikir sebagian pemimpin CIA saat itu.
"Kami tidak bisa menghidupkan kembali 3.000 orang yang meninggal pada 11 September, tetapi kami bisa membunuh banyak orang yang dianggap musuh," katanya.
Melawan pelanggaran Konvensi Jenewa
Kiriakou juga menceritakan konflik internal ketika ia melihat tahanan yang baru ditangkap diperlakukan tidak sesuai aturan.
Ia menemukan para tahanan masuk dengan kepala tertutup tudung.
Ketika ia bertanya alasannya, seorang bawahannya menjawab bahwa mereka tidak ingin wajah para petugas terlihat.
Kiriakou marah dan mengatakan tindakan itu melanggar Konvensi Jenewa.
"Itu adalah kejahatan perang," ujarnya.
Namun, ketika ia mencoba melaporkan pelanggaran tersebut, justru dirinya yang mendapat teguran.
Saat itu ia menyadari bahwa perubahan dari dalam CIA hampir mustahil dilakukan.
Tuduhan bahwa Amerika menyerang Iran karena tekanan "Israel"
Dalam wawancara tersebut, Kiriakou juga membahas kebijakan Amerika terhadap Iran.
Ia mengatakan keputusan Washington mengambil tindakan militer terhadap Iran tidak bisa dilepaskan dari tekanan pemerintah Israel.
"Setiap perdana menteri Israel sejak era Reagan meminta Amerika untuk membom Iran," katanya.
Menurutnya, sebelumnya para presiden Amerika menolak permintaan tersebut, tetapi situasi berubah pada masa pemerintahan Donald Trump.
Ia menilai Trump lebih mudah dipengaruhi secara politik dan memiliki hubungan dekat dengan para donor pro-Israel.

Kasus Jonathan Pollard
Kiriakou juga menyinggung kasus Jonathan Pollard, mantan analis intelijen Angkatan Laut AS yang dihukum karena menjual informasi rahasia kepada Israel.
Ia menyebut Pollard sebagai salah satu kasus spionase paling serius dalam sejarah modern Amerika.
Menurutnya, pembebasan Pollard dan penyambutannya di Israel menunjukkan standar ganda dalam isu keamanan nasional.
Pollard bahkan mendapat sambutan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setelah tiba di Israel.
Pengawasan AI dan perluasan kekuasaan negara
Kiriakou memperingatkan tentang penggunaan teknologi pengawasan modern terhadap masyarakat.
Ia menyoroti perusahaan analisis data Palantir, yang menurutnya pernah mendapat investasi awal dari CIA.
Menurutnya, teknologi yang awalnya dikembangkan untuk menghadapi musuh asing kini mulai digunakan dalam operasi domestik.
"Teknologi yang digunakan untuk musuh luar negeri sekarang juga digunakan terhadap warga negara sendiri," katanya.
Amerika menuju arah otoritarianisme?
Kiriakou mengatakan dirinya khawatir Amerika Serikat mengalami kemunduran demokrasi.
Ia menyebut tanda-tandanya terlihat dari melemahnya supremasi hukum, meningkatnya kekuasaan eksekutif, serta penggunaan lembaga negara terhadap kelompok yang dianggap sebagai ancaman.
Ia juga mengkritik kedua partai besar Amerika, Demokrat dan Republik, yang menurutnya sama-sama gagal membatasi perluasan kekuasaan pemerintah.

Kasus Anwar al-Awlaki
Kiriakou menyoroti kasus Anwar al-Awlaki, warga negara Amerika kelahiran New Mexico yang dibunuh melalui serangan drone pada masa pemerintahan Barack Obama.
Menurutnya, tindakan tersebut menjadi contoh berbahayanya kekuasaan presiden tanpa proses hukum.
Ia mempertanyakan bagaimana seorang warga negara dapat dibunuh pemerintah tanpa pernah didakwa melakukan kejahatan.

Menjadi whistleblower
Kiriakou akhirnya mengungkap program penyiksaan CIA kepada publik.
Akibatnya, ia dijerat hukum dan menghadapi ancaman hukuman puluhan tahun penjara.
Namun, ia menerima kesepakatan hukum dan menjalani hukuman sekitar 23 bulan.
Ia mengatakan pengalaman itu membuatnya semakin yakin untuk memperjuangkan hak asasi manusia.
"Saya percaya pada Konstitusi. Saya percaya pada supremasi hukum. Kita tidak bisa berpura-pura menjadi mercusuar kebebasan jika kita sendiri melanggar prinsip yang kita klaim bela," ujarnya.
Menurut Kiriakou, perjuangannya bukan sekadar tentang CIA, tetapi tentang pertanyaan yang lebih besar: apakah sebuah negara masih dapat disebut menjunjung kebebasan ketika kekuasaannya tidak lagi memiliki batas.
(Samurmusa/arrahmah.id)
