Memuat...

Dua Tahun Menanti, 112 Korban Serangan Sabra Dimakamkan Massal di Gaza

Hanoum
Rabu, 5 Agustus 2026 / 22 Safar 1448 03:57
Dua Tahun Menanti, 112 Korban Serangan Sabra Dimakamkan Massal di Gaza
Warga Palestina menghadiri pemakaman massal di Kota Gaza, 4 Agustus 2026. [Foto: Dawoud Abu Alkas/Reuters]

GAZA (Arrahmah.id) -- Warga Jalur Gaza menggelar pemakaman massal bagi 112 jenazah korban serangan 'Israel' di kawasan Sabra, Kota Gaza, yang terjadi pada November 2023. Prosesi yang berlangsung pada Senin (4/8/2026) itu menjadi salah satu pemakaman massal terbesar sejak konflik pecah, setelah jasad para korban baru dapat dievakuasi dari kuburan darurat dan reruntuhan akibat membaiknya akses selama masa gencatan senjata.

Dilansir Al Jazeera (4/8), prosesi pemakaman dilaksanakan di Kota Gaza dengan dihadiri ratusan anggota keluarga korban dan warga yang mengiringi peti-peti jenazah menuju tempat peristirahatan terakhir.

Menurut otoritas kesehatan Palestina dan tim pertahanan sipil, sebagian besar korban sebelumnya dimakamkan secara darurat di sekitar rumah sakit atau lokasi serangan karena pertempuran sengit membuat evakuasi dan pemakaman secara layak tidak memungkinkan. Setelah situasi relatif lebih kondusif, tim penyelamat melakukan identifikasi dan pemindahan jenazah ke makam permanen.

Sejumlah keluarga korban mengaku baru dapat memberikan penghormatan terakhir kepada kerabat mereka setelah menunggu hampir dua tahun. Banyak di antara mereka yang selama ini tidak mengetahui secara pasti lokasi pemakaman anggota keluarganya karena kondisi perang yang terus berlangsung.

Salah seorang kerabat korban, Hossam al-Sabra, mengatakan prosesi tersebut menjadi momen yang sangat emosional bagi keluarganya.

"Selama hampir dua tahun kami hanya bisa menunggu. Hari ini kami akhirnya dapat menguburkan keluarga kami dengan layak dan mendoakan mereka sebagaimana mestinya," ujar Hossam al-Sabra, dikutip dari BBC.

Al Jazeera menyebutkan bahwa serangan di lingkungan Sabra pada November 2023 menewaskan sedikitnya 112 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Kawasan padat penduduk itu saat itu menjadi sasaran serangan udara 'Israel' yang menghancurkan sejumlah bangunan tempat tinggal.

'Israel' pada masa itu menyatakan operasi militernya menargetkan infrastruktur dan anggota Hamas, sementara organisasi kemanusiaan internasional berulang kali mengingatkan tingginya korban sipil akibat pertempuran di wilayah perkotaan.

Sementara itu, BBC melaporkan bahwa pemakaman massal tersebut dimungkinkan setelah tim pertahanan sipil memperoleh akses ke lokasi-lokasi yang sebelumnya tidak dapat dijangkau karena operasi militer. Proses identifikasi korban melibatkan tenaga medis, keluarga, serta otoritas setempat untuk memastikan setiap jenazah dapat dimakamkan sesuai identitasnya.

Direktur Pertahanan Sipil Gaza Mahmoud Basal mengatakan pihaknya masih menghadapi tantangan besar dalam pencarian korban yang hingga kini belum ditemukan.

"Masih banyak jenazah yang diyakini berada di bawah reruntuhan atau di lokasi yang belum dapat diakses. Kami akan terus berupaya mengevakuasi mereka agar setiap keluarga memperoleh kepastian," kata Mahmoud Basal.

Sejumlah organisasi kemanusiaan internasional, termasuk Komite Palang Merah Internasional (ICRC) dan badan-badan PBB, sebelumnya telah menyerukan agar semua pihak menghormati hukum humaniter internasional, termasuk memberikan akses bagi evakuasi korban dan pemakaman yang bermartabat. Mereka juga menegaskan pentingnya perlindungan terhadap warga sipil di tengah konflik yang masih berlangsung.

Pemakaman massal di Sabra menjadi pengingat bahwa dampak perang tidak berhenti ketika pertempuran mereda. Bagi keluarga korban, prosesi tersebut bukan hanya akhir dari penantian panjang, tetapi juga awal dari proses berduka setelah hampir dua tahun kehilangan tanpa kepastian. (hanoum/arrahmah.id)