WASHINGTON (Arrahmah.id) - Badan-badan intelijen Amerika Serikat menilai Iran semakin percaya diri setelah enam bulan perang dan menganggap dirinya memiliki kemampuan militer serta pengaruh ekonomi yang cukup untuk mempertahankan konfrontasi dengan Washington.
Penilaian tersebut dilaporkan The New York Times, dan menunjukkan perubahan signifikan dibanding perkiraan awal perang. Presiden Donald Trump sebelumnya memprediksi kemenangan cepat dan menentukan setelah AS dan 'Israel' melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Namun, setelah berbulan-bulan konflik berlangsung secara berkala, intelijen AS menilai Iran semakin memahami kemampuan militernya sendiri sekaligus tekanan yang dapat diberikannya terhadap Amerika Serikat.
Menurut sejumlah pejabat AS saat ini dan mantan pejabat yang dikutip The Times, Teheran kini lebih yakin dapat menyerang berbagai sasaran di Timur Tengah dan belum melihat alasan mendesak untuk memberikan konsesi kepada Washington. Iran bahkan disebut mempertimbangkan kemungkinan meningkatkan eskalasi secara signifikan.
Anggota Komite Intelijen DPR AS Jason Crow mengatakan Iran kini memiliki keyakinan yang lebih besar terhadap posisinya meski mengalami kerusakan akibat perang.
"Mereka mengalami kerusakan besar, tetapi hal itu selalu menjadi bagian dari sistem mereka," kata Crow. Ia menilai Teheran kini memainkan "permainan yang jauh lebih panjang".
Iran masih memiliki persediaan rudal dan drone dalam jumlah signifikan. Menurut Crow, kepemimpinan Iran juga semakin solid selama perang berlangsung.
Salah satu pelajaran penting bagi Teheran adalah nilai strategis Selat Hormuz. Sebelum perang, sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut.
Pejabat AS menilai Iran kini semakin memahami besarnya pengaruh ekonomi dan politik yang dapat diperoleh melalui kendali atas Selat Hormuz.
Dampaknya masih terasa di pasar energi. Harga minyak Brent telah berada di atas 95 dolar AS per barel, sementara gangguan lalu lintas di Hormuz turut mendorong kenaikan harga bahan bakar di AS.
Kepercayaan diri Iran juga disebut tidak hanya berasal dari kemampuan militernya. Teheran diyakini menilai AS menghadapi keterbatasan dalam mempertahankan kampanye serangan besar dalam jangka panjang.
Sejumlah pejabat mengatakan Iran kemungkinan memperhitungkan menipisnya persediaan amunisi AS. Kondisi tersebut dapat membuat Washington lebih berhati-hati untuk melancarkan serangan besar berikutnya.
Dengan demikian, Iran tidak hanya menghitung kerugian yang ditimbulkan serangan AS dan 'Israel' terhadap negaranya, tetapi juga memperhitungkan biaya yang harus ditanggung Washington.
Situasi tersebut semakin penting menjelang pemilu sela AS pada 3 November. Sejumlah pejabat AS menilai Teheran memahami bahwa perang berkepanjangan dan kenaikan harga bensin dapat merugikan Trump dan Partai Republik secara politik.
Anggota Komite Intelijen DPR AS Josh Gottheimer mengatakan Iran merasa memiliki "pengaruh maksimal" sehingga tidak melihat alasan untuk menghentikan tekanan terhadap pemerintahan Trump.
Sementara itu, jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dirilis Jumat (4/9/2026) menunjukkan hanya 25 persen warga Amerika menilai perang tersebut sepadan dengan biayanya.
Intelijen AS juga memperkirakan Iran akan terus menggunakan kemampuan nonkonvensional, termasuk serangan siber.
Pejabat intelijen Amerika meyakini peretas yang terkait dengan Iran kemungkinan berada di balik serangan terhadap lebih dari 100 sistem penyedia air di AS pada akhir Juli, menurut The New York Times.
Serangan tersebut tidak membuat air minum menjadi tidak aman, tetapi sejumlah sistem mengalami gangguan sehingga operator harus melakukan intervensi manual dan mengeluarkan imbauan untuk merebus air.
Peretas yang terkait dengan Iran juga disebut menunjukkan ketertarikan terhadap infrastruktur minyak dan gas AS. Namun, belum diketahui apakah mereka berhasil menembus sistem tersebut.
Kemampuan siber Iran sendiri disebut mulai pulih setelah mengalami sejumlah kemunduran pada fase awal perang. (zarahamala/arrahmah.id)
