Memuat...

Samah al-Khalidi, Masih Kenakan Mukena, Lawan Pasukan 'Israel' Seorang Diri

Zarah Amala
Sabtu, 5 September 2026 / 24 Rabiulawal 1448 14:05
Samah al-Khalidi, Masih Kenakan Mukena, Lawan Pasukan 'Israel' Seorang Diri
Samah al-Khalidi terbunuh dalam operasi khusus Israel di barat Kota Gaza. (Foto: QNN)

GAZA (Arrahmah.id) - Samah al-Arabeed al-Khalidi, atau yang dikenal keluarganya sebagai Umm Muhammad, gugur dalam operasi khusus pasukan 'Israel' di Gaza City, beberapa hari sebelum pernikahan putra ketiganya.

Kakaknya, Mohammed al-Khalidi, mengatakan kepada Palestine Chronicle bahwa Samah sebelumnya tengah mempersiapkan pernikahan putranya, Obaida. Ia bahkan meminta keluarga besar hadir meski situasi keamanan di Gaza semakin memburuk.

Namun, rencana pernikahan itu berubah menjadi acara duka setelah Samah tewas dalam operasi 'Israel' di kawasan Al-Katiba, Gaza City, Selasa (1/9/2026).

Menurut keluarga, sasaran operasi tersebut adalah suami Samah, Mu'in al-Arabeed, seorang perwira dalam Dinas Keamanan Dalam Negeri Gaza. Kementerian Dalam Negeri Gaza sebelumnya menyebut pasukan khusus 'Israel' menyusup ke kawasan Al-Katiba menggunakan kendaraan sipil dengan dukungan udara intensif.

Al-Arabeed terluka dalam baku tembak sebelum akhirnya ditangkap pasukan 'Israel'. Samah gugur, sementara beberapa anak mereka juga mengalami luka-luka.

Mohammed mengatakan saat operasi berlangsung, al-Arabeed bersama salah seorang putranya dan seorang rekannya bergerak sekitar 30 meter dari rumah. Baku tembak kemudian terjadi. Putra al-Arabeed terkena tiga tembakan di bagian dada, sedangkan al-Arabeed mengalami luka tembak di kaki.

Dalam kondisi terluka, al-Arabeed disebut merangkak menuju sebuah pohon untuk berlindung. Samah yang melihat suami dan anaknya terluka kemudian mengambil senapan Kalashnikov milik putranya. Masih mengenakan mukena, Samah disebut berlindung di balik pohon dan melepaskan tembakan ke arah kendaraan yang membawa pasukan khusus 'Israel'.

Mohammed mengatakan rekaman video operasi yang beredar memperlihatkan sosok Samah di antara celah pepohonan sambil memegang senapan dan menembaki kendaraan pasukan 'Israel'.

Menurut kesaksian keluarga, serangan udara 'Israel' kemudian menghantam kawasan tersebut. Dua putra Samah terluka, salah satunya kehilangan satu mata, sementara putra lainnya harus menjalani perawatan intensif.

Samah akhirnya gugur, sedangkan suaminya terus melakukan perlawanan sebelum pasukan 'Israel' berhasil mendekatinya dan menangkapnya.

Bagi keluarganya, Samah dikenal sebagai sosok yang penyayang, dermawan, dan sangat dekat dengan anak-anak. Mohammed menyebut kakaknya sebagai "ibu kedua" bagi dirinya.

Adiknya, Sahar al-Khalidi, mengatakan Samah juga dikenal sebagai perempuan yang suka memberi, tidak menyakiti orang lain, serta mudah memaafkan.

Perang di Gaza selama hampir tiga tahun turut mengubah kehidupan Samah. Ia pernah mengungsi ke Gaza selatan dan tidak dapat berpamitan dengan ibunya yang tetap berada di wilayah utara.

Mohammed mengatakan Samah juga hidup dalam kecemasan karena pekerjaan suaminya di bidang keamanan Gaza. Dua bulan sebelum perang dimulai, keduanya bahkan sempat bepergian bersama ke Turki.

Ia mengenang Samah sebagai sosok yang selalu membawa energi positif, dengan wajah yang memancarkan kebahagiaan dan keceriaan. (zarahamala/arrahmah.id)