TEHERAN (Arrahmah.id) -- Iran diduga membentuk jaringan pasukan rahasia di Irak yang bertugas melancarkan serangan drone ke sejumlah negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika Serikat.
Informasi tersebut terungkap melalui laporan investigasi Reuters (19/6/2026) yang mengutip sejumlah pejabat keamanan dan komandan milisi Irak, memunculkan kekhawatiran baru mengenai meluasnya konflik dan operasi proksi Iran di kawasan Timur Tengah.
Menurut laporan Reuters, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) membentuk tiga hingga empat sel rahasia yang masing-masing beranggotakan sekitar 10 petempur elite Syiah Irak.
Kelompok-kelompok kecil tersebut disebut beroperasi secara terpisah dari jaringan milisi yang selama ini dikenal sebagai Islamic Resistance in Iraq dan melapor langsung kepada IRGC untuk menghindari deteksi serta mengurangi risiko politik bagi kelompok-kelompok milisi yang sudah ada.
Sumber keamanan Irak menyebutkan sel-sel tersebut telah melancarkan sedikitnya tujuh serangan drone dari wilayah gurun dekat Basra dan Samawa antara April hingga Mei 2026.
Sasaran serangan mencakup fasilitas di Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, termasuk lokasi yang terkait dengan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Namun, sebagian besar serangan dilaporkan berhasil dicegat oleh sistem pertahanan negara-negara yang menjadi target.
Laporan itu menyebut pembentukan pasukan rahasia tersebut merupakan perubahan taktik Iran dalam mempertahankan pengaruh regionalnya. Dengan menggunakan kelompok kecil yang bergerak secara independen dan memakai nama-nama yang tidak dikenal publik, Teheran disebut berupaya mempertahankan kemampuan menyerang tanpa harus secara langsung mengaitkan operasi tersebut dengan pemerintah Iran maupun milisi besar yang selama ini menjadi sekutunya.
Seorang sumber keamanan Irak yang mengetahui operasi tersebut mengatakan kelompok-kelompok baru itu sengaja dibentuk di luar struktur komando milisi yang sudah ada.
“Mereka melapor langsung kepada IRGC dan beroperasi secara terpisah agar lebih sulit dilacak,” kata sumber tersebut sebagaimana dikutip Reuters.
Kemunculan jaringan rahasia itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan negara-negara Teluk. Dalam beberapa bulan terakhir, kawasan Teluk menjadi arena berbagai serangan drone dan rudal yang dikaitkan dengan kelompok-kelompok pro-Iran. Sejumlah negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) bahkan meningkatkan langkah keamanan setelah mengungkap keberadaan beberapa sel yang diduga memiliki hubungan dengan Iran dan sekutunya.
Laporan Reuters juga menyebut Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi, menghadapi tekanan yang semakin besar untuk membatasi aktivitas kelompok bersenjata non-negara di negaranya. Pemerintah Irak khawatir penggunaan wilayahnya sebagai basis operasi serangan lintas batas dapat merusak hubungan yang selama ini membaik dengan negara-negara Teluk dan berpotensi menyeret Baghdad ke dalam konflik regional yang lebih luas.
Hingga kini, pemerintah Iran maupun IRGC belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan tersebut. Namun, temuan mengenai keberadaan sel-sel rahasia di Irak memperlihatkan bagaimana persaingan geopolitik di Timur Tengah terus berkembang melalui operasi tidak langsung dan perang proksi. (hanoum/arrahmah.id)
