Memuat...

Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Dunia Khawatir Krisis Energi Memburuk

Hanoum
Ahad, 21 Juni 2026 / 6 Muharam 1448 05:50
Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Dunia Khawatir Krisis Energi Memburuk
Kapal-kapal di Selat Hormuz, seperti yang terlihat dari Musandam, Oman, pada 18 Juni 2026. [Foto: Reuters]

TEHERAN (Arrahmah.id) -- Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz sebagai respons atas serangan 'Israel' di Lebanon, memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi global dan stabilitas kawasan Timur Tengah.

Pengumuman tersebut disampaikan otoritas Iran pada Jumat (20/6/2026), ketika konflik yang melibatkan 'Israel', Iran, dan milisi Syiah Hizbullah di Lebanon kembali memanas di tengah upaya diplomatik yang sedang berlangsung antara Teheran dan Washington.

Dilansir CNA (20/6), pernyataan itu muncul setelah militer 'Israel' melancarkan serangan udara ke wilayah Lebanon selatan yang menurut laporan setempat menewaskan sedikitnya belasan orang.

Iran menuduh serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepahaman gencatan senjata yang sebelumnya dicapai bersama Amerika Serikat. Sebagai respons, Teheran menyatakan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, ditutup untuk lalu lintas kapal.

Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran menyebut langkah tersebut sebagai tindakan awal untuk menghadapi apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran komitmen oleh Amerika Serikat dan 'Israel'.

Menurut laporan Reuters, Iran memperingatkan bahwa tindakan lanjutan dapat diambil apabila serangan dan tekanan militer terhadap sekutunya terus berlanjut.

Dalam pernyataan yang dikutip media Iran, pejabat militer negara itu menegaskan bahwa penutupan Selat Hormuz merupakan respons langsung terhadap perkembangan terbaru di Lebanon.

“Penutupan Selat Hormuz adalah langkah pertama kami dalam menghadapi pelanggaran yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel,” kata pihak Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran.

Namun, klaim Iran tersebut segera mendapat bantahan dari Amerika Serikat. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan lalu lintas komersial di Selat Hormuz masih berlangsung dan bahkan menunjukkan peningkatan. Washington menegaskan belum menemukan bukti bahwa Iran berhasil menghentikan seluruh aktivitas pelayaran di jalur tersebut.

Wakil Presiden Amerika Serikat, J.D. Vance, mengatakan jalur pelayaran internasional itu harus tetap terbuka dan pembicaraan lanjutan dengan Iran tetap akan dilaksanakan.

Menurut Vance, proses negosiasi yang telah memasuki periode 60 hari bertujuan mencari solusi jangka panjang terkait keamanan Selat Hormuz dan hubungan kedua negara.

Selat Hormuz memiliki arti strategis bagi ekonomi dunia karena menjadi jalur utama distribusi minyak dan gas dari negara-negara Teluk. Berbagai lembaga energi internasional memperkirakan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati perairan tersebut. Karena itu, setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memicu kenaikan harga energi global dan mengganggu rantai pasok internasional. (hanoum/arrahmah.id)