Memuat...

'Israel' Kucurkan Puluhan Juta Dolar untuk Manipulasi Jawaban ChatGPT soal Gaza

Zarah Amala
Rabu, 7 Oktober 2026 / 26 Rabiulakhir 1448 12:58
'Israel' Kucurkan Puluhan Juta Dolar untuk Manipulasi Jawaban ChatGPT soal Gaza
Menteri Luar Negeri 'Israel', Gideon Sa'ar. (QNN)

GAZA (Arrahmah.id) - Pemerintah 'Israel' memperluas kampanye diplomasi publiknya ke ranah kecerdasan buatan (AI), dengan membiayai jaringan situs dan perusahaan kontraktor yang dirancang untuk memengaruhi cara chatbot seperti ChatGPT, Claude, Gemini, dan Grok menjawab pertanyaan tentang 'Israel', Palestina, dan perang di Gaza.

Temuan tersebut diungkap dalam investigasi +972 Magazine dan media berbahasa Ibrani Local Call yang diterbitkan Selasa (6/10/2026), berdasarkan sejumlah dokumen serta laporan investigasi sebelumnya.

Salah satu operasi yang disorot adalah Hanover Institute for Public Policy, sebuah situs yang menampilkan diri sebagai lembaga riset independen di Amerika Serikat. Menurut investigasi The Guardian, situs tersebut menerbitkan 124 laporan tanpa nama penulis dengan total lebih dari 560.000 kata hanya dalam sembilan hari pada Agustus 2026.

Hampir seluruh judul laporan tersebut berbentuk pertanyaan yang lazim diajukan pengguna kepada chatbot, seperti apakah 'Israel' melakukan genosida di Gaza, apakah 'Israel' membuat warga Gaza kelaparan, serta apakah 'Israel' melakukan kejahatan perang.

Laporan-laporan itu ditulis dengan gaya akademis dan menggunakan berbagai sumber, tetapi investigasi menemukan bahwa isinya secara konsisten membingkai tuduhan terhadap 'Israel' secara meragukan atau tidak meyakinkan.

Dokumen yang diajukan berdasarkan Undang-Undang Registrasi Agen Asing Amerika Serikat (FARA) kemudian mengaitkan Hanover Institute dengan Piro Inc., perusahaan media asal New York yang bekerja sebagai subkontraktor Havas Media Germany. Havas sendiri diketahui mendapat kontrak dari badan periklanan pemerintah 'Israel'.

Operasi tersebut juga menggunakan teknologi yang dirancang untuk memahami bagaimana sistem AI menemukan dan memilih sumber informasi. Teknik ini dikenal sebagai generative engine optimization (GEO), yang pada dasarnya mengadaptasi konsep optimasi mesin pencari atau SEO untuk chatbot generatif.

Jaringan Situs Pro-'Israel'

Operasi lain dijalankan oleh Clock Tower X, perusahaan strategi digital yang didirikan Brad Parscale, mantan manajer kampanye Donald Trump.

Menurut dokumen FARA, perusahaan tersebut dikontrak melalui Havas untuk bekerja bagi Kementerian Luar Negeri 'Israel'. Axios sebelumnya melaporkan bahwa Clock Tower X membangun sembilan situs pro-'Israel' dengan konten yang disusun agar lebih mudah ditemukan dan digunakan oleh sistem AI.

Investigasi Drop Site News pada Juli menemukan sekitar 85 persen dari sekitar 900 halaman dan URL dalam jaringan tersebut telah masuk ke Common Crawl, arsip web yang banyak digunakan dalam penyusunan dataset AI. Sejumlah platform, termasuk Perplexity, Copilot, dan Gemini, kemudian ditemukan mengutip situs-situs tersebut dalam jawaban mengenai 'Israel' dan Palestina.

Pengujian WIRED Middle East pada September terhadap enam chatbot: ChatGPT, Claude, Perplexity, Copilot, Gemini, dan Grok, juga menemukan bahwa beberapa situs yang dibuat dalam kampanye tersebut dapat muncul dalam jawaban chatbot tanpa pengguna secara khusus meminta sumber tersebut.

Dalam salah satu pengujian, Copilot, Claude, dan Grok mengutip informasi dari situs yang dibuat Clock Tower X ketika ditanya mengenai manfaat kerja sama militer AS-'Israel'.

Perang Informasi di Era AI

Upaya tersebut merupakan bagian dari peningkatan anggaran diplomasi publik dan apa yang disebut pemerintah 'Israel' sebagai “cognitive warfare” atau perang kognitif.

Investigasi +972 menyebut pemerintah 'Israel' telah mengalokasikan ratusan juta dolar untuk berbagai kegiatan diplomasi publik dan perang kognitif sejak perang Gaza dimulai. Anggaran tersebut mencakup kontrak dengan perusahaan swasta yang bekerja untuk memproduksi serta menyebarkan konten yang ditujukan kepada publik dan sistem AI.

Kementerian Urusan Diaspora 'Israel' juga menjalankan program terpisah dengan membuat puluhan situs mengenai isu seperti serangan 7 Oktober, UNRWA, dan berbagai laporan internasional. Seorang pejabat kementerian sebelumnya mengatakan kepada parlemen 'Israel' bahwa pihaknya memantau bagaimana berbagai model AI merespons materi tersebut.

Pola ini menunjukkan perubahan sasaran dalam kampanye informasi 'Israel'. Jika sebelumnya upaya diplomasi publik terutama diarahkan kepada wartawan, politisi, dan pengguna media sosial, kini sebagian upaya tersebut diarahkan kepada infrastruktur informasi yang digunakan chatbot untuk menghasilkan jawaban.

Namun, sejauh mana kampanye tersebut benar-benar mengubah respons AI secara luas masih menjadi persoalan yang sulit diukur. Pengujian yang dilakukan sejumlah media menunjukkan bahwa konten dari jaringan tersebut memang dapat muncul dalam jawaban beberapa chatbot, tetapi itu tidak berarti seluruh sistem AI telah berubah atau bahwa satu jaringan situs dapat menentukan jawaban yang diberikan chatbot. (zarahamala/arrahmah.id)