TEL AVIV (Arrahmah.id) - 'Israel' dilaporkan tengah menyiapkan opsi untuk melancarkan operasi militer baru terhadap Iran tanpa keterlibatan langsung Amerika Serikat, meski koordinasi intelijen dan operasional antara kedua negara tetap berlangsung erat.
Laporan tersebut dimuat Israel Hayom dalam tulisan analis militer Lilach Shoval. Menurut laporan itu, sejumlah perwira militer AS masih berada di 'Israel', sementara perwira 'Israel' berada di Amerika Serikat. Di saat yang sama, militer 'Israel' mempertahankan rencana operasi secara mandiri jika diperlukan.
Fokus utama persiapan 'Israel' tetap pada program nuklir Iran yang dianggap Tel Aviv sebagai ancaman jangka panjang. Militer 'Israel' juga disebut menyiapkan opsi serangan pendahuluan maupun langkah pertahanan untuk menghadapi kemungkinan serangan dari Iran.
Salah satu faktor yang memengaruhi waktu serangan adalah kondisi politik di Amerika Serikat, khususnya pemilu sela Kongres pada November mendatang.
Menurut Israel Hayom, Washington berusaha mengendalikan eskalasi dengan Iran melalui tekanan ekonomi dan sanksi. Pertimbangannya antara lain dampak konflik terhadap harga minyak dan stabilitas pasar energi.
Perkembangan terbaru menunjukkan persoalan energi memang menjadi tekanan politik bagi pemerintahan Presiden Donald Trump. Harga minyak dan bahan bakar yang meningkat telah menjadi isu menjelang pemilu sela, sementara konflik dengan Iran memasuki bulan kedelapan.
Karena itu, serangan besar baru oleh 'Israel' atau Amerika Serikat sebelum pemilu sela dinilai relatif kecil kemungkinannya. Namun, militer 'Israel' tetap mempertimbangkan kemungkinan serangan dari Iran yang dapat mengubah perhitungan tersebut secara tiba-tiba.
'Israel' disebut berharap tekanan ekonomi dan sanksi yang berkelanjutan dapat memperlemah pemerintah Iran. Namun, kalangan militer 'Israel' tidak menganggap tekanan ekonomi saja cukup untuk menjatuhkan pemerintahan di Teheran.
Di sisi lain, Iran juga dilaporkan tengah mempersiapkan respons yang lebih luas jika kembali diserang AS. Reuters melaporkan bahwa para komandan Iran telah meninjau kemungkinan memperluas sasaran serangan hingga ke negara-negara yang mendukung operasi AS, sementara kelompok sekutu Iran di Lebanon, Yaman, dan Irak disebut telah diminta bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi.
Terhambat perkembangan di front lain
Perhitungan 'Israel' juga tidak hanya berkaitan dengan Iran. Perkembangan di Lebanon, Tepi Barat, dan Gaza turut memengaruhi kemampuan 'Israel' membuka front baru.
Di Lebanon, 'Israel' tengah mempertahankan kehadiran militernya di sepanjang perbatasan. Di Tepi Barat, meningkatnya kekerasan pemukim berpotensi menambah beban pasukan 'Israel'.
Sementara itu, militer 'Israel' memperkirakan kemungkinan kembalinya pertempuran berskala besar di Gaza pada masa mendatang.
Dengan kondisi tersebut, Iran tetap menjadi salah satu front paling sensitif bagi 'Israel'. Namun, waktu pelaksanaan serangan baru akan sangat bergantung pada perkembangan militer, respons Iran, situasi energi global, dan kalkulasi politik Washington. (zarahamala/arrahmah.id)
