Memuat...

Kecemasan Melanda Generasi, Buah Penerapan Kapitalisme

Oleh RositaPegiat Literasi
Kamis, 2 Juli 2026 / 17 Muharam 1448 15:18
Kecemasan Melanda Generasi, Buah Penerapan Kapitalisme
Ilustrasi. (Foto: lajur.co)

Masa remaja seharusnya menjadi fase yang dipenuhi semangat, optimisme, dan harapan akan masa depan. Namun fakta yang terjadi sungguh sangatlah miris, karena berbagai survei menyebutkan bahwa Generasi Z banyak mengalami krisis kecemasan dan gangguan mental baik di nasional maupun internasional.

Seperti yang dilansir oleh Tirto.id (12/3/2026), Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan kekhawatirannya atas hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) tahun 2025-2026. Hampir 10 persen atau sekitar 700 ribu anak di Indonesia memiliki gejala gangguan kesehatan jiwa berupa kecemasan dan depresi. Sekitar 338 ribu anak mengalami gejala cemas (anxiety disorder), dan 363 ribu lainnya menunjukkan gejala depresi (depression disorder).

Penyakit mental tersebut dipicu oleh beberapa faktor seperti tekanan dan pengharapan akademik yang tinggi, persaingan yang semakin ketat dalam mencapai kesuksesan, paparan media sosial, juga adanya perbandingan diri. Selain itu, gejolak politik, ekonomi yang tidak stabil, kurangnya keterlibatan sosial dan dukungan emosional juga sangat berpengaruh terhadap ketidakpastian masa depan, bahkan menggejala hampir di seluruh dunia.

Di era digital seperti yang terjadi saat ini, media sosial memiliki pengaruh yang sangat mendalam dan multidimensional terhadap Generasi Z. Kelompok ini menjadi yang pertama tumbuh sebagai digital native, yang kemudian membentuk pola pikir dan pola sikap dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kemudahan dalam mengakses berbagai peristiwa yang ada di seluruh dunia menjadi alasan utama Generasi Z memanfaatkan kecanggihan teknologi. Akan tetapi hal ini membawa dampak negatif jika mereka tidak berhati-hati karena bisa kecanduan dan menganggap bahwa standar hidup ini sesuai dengan apa yang mereka tonton.

Dampak negatif dari media sosial telah berhasil mendominasi interaksi dan komunikasi akan mengakibatkan krisis multidimensi dan menjadi pemicu utama kecemasan Generasi Z. Dari mulai tontonan yang tersaji di media sosial yang begitu sekuler, mulai dari gaya hidup yang tampak sempurna hingga memicu kurangnya rasa percaya diri dan selalu membanding-bandingkan dengan kehidupan orang lain atau bahkan idolanya.

Konten-konten yang merusak generasi tidak lepas dari sistem yang ada saat ini yakni liberal sekuler di mana mereka menjunjung tinggi kebebasan dalam bertingkah laku. Abainya negara dalam memfilter konten-konten yang merusak generasi juga menjadi penyebab lain dari kerusakan yang timbul. Alih-alih dirangkul, Gen Z malah mendapatkan stigma buruk sebagai generasi yang rapuh dan mudah mengeluh.

Dibalik stigma negatif dari Gen Z ternyata mereka memiliki kelebihan lain yaitu kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap teknologi baru, pemikiran kritis yang tinggi, dan kepedulian yang kuat terhadap isu-isu sosial dan lingkungan. Akan tetapi potensi mereka sebagai pemuda dilemahkan dengan berbagai hal yang merusak, tontonan yang mengedepankan sisi materi tapi minim edukasi.

Di sisi lain, kecemasan dan sikap kritis Generasi Z bisa menjadi peluang perubahan menuju kondisi yang ideal, dan mereka mulai menunjukkan keberanian dengan melancarkan gelombang resistensi untuk bangkit menuju kondisi yang lebih ideal. Islam sebagai ideologi akan mampu menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada saat ini. Dengan menerapkan syariat Allah secara menyeluruh, sehingga dapat membawa ketenangan dan keselamatan hidup bagi manusia.

Karakter generasi di masa kejayaan Islam sangat kuat, berkepribadian Islam dan cerdas dalam berbagai bidang keilmuan. Seperti perkembangan sains dalam peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, khususnya di era pemerintahan Khalifah Harun ar-Rasyid dan putranya Al-Ma'mun. Di masa ini, dibangun lembaga penerjemahan dan pusat penelitian Baitul Hikmah. Setelah itu, lahir pula para ilmuwan lainnya seperti Al-Khawarizmi sebagai penemu Aljabar, Ibnu Sina di bidang Kedokteran Modern dan lain sebagainya.

Dalam sebuah negara yang menerapkan al-Quran dan as-Sunnah sebagai sumber hukum, penguasa hadir sebagai pelindung dan pelayan umat. Ia akan mengurusi urusan rakyatnya dengan optimal dan menjamin pemenuhan kebutuhan hidup. Hal itu dilandaskan oleh keimanan dan rasa takut pada Allah Swt. karena menyadari bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah: “Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim)

Pemimpin yang menerapkan aturan Islam secara menyeluruh akan melakukan pengawasan ketat terhadap tontonan atau tayangan mana saja yang boleh beredar di tengah-tengah masyarakat sehingga terhindar dari kerusakan. Oleh karena itu seorang muslim memiliki kewajiban untuk menyadarkan umat agar kembali kepada aturan Islam, sebagai wujud rasa peduli terhadap kondisi umat agar masa depan gemilang bukan lagi sekedar mimpi dan sebatas angan-angan.

Wallahu a'lam bis shawwab

Editor: Hanin Mazaya