DARAA (Arrahmah.id) -- Pasukan 'Israel' dilaporkan kembali melakukan operasi darat di Provinsi Daraa, Suriah selatan, pada Senin (17/8/2026), dengan memasuki Desa Abidin di kawasan Lembah Yarmouk dan menahan empat pemuda. Dua dari mereka kemudian dibebaskan, sementara nasib dua lainnya masih belum diketahui.
Menurut laporan Al-Ikhbariyya TV yang dikutip Anadolu Agency (17/8), sekitar 10 kendaraan militer 'Israel' memasuki Desa Abidin pada Senin pagi. Pasukan tersebut melakukan operasi di dalam desa dan membawa sejumlah pemuda.
Informasi yang lebih rinci disampaikan Syrian Observatory for Human Rights (SOHR). Lembaga pemantau yang berbasis di Inggris itu menyebut empat pemuda ditahan setelah pasukan 'Israel', yang terdiri dari sekitar 10 kendaraan militer dan sejumlah besar tentara, bergerak menuju kawasan sekitar alun-alun masjid. Tiga dari empat orang yang ditahan disebut merupakan saudara kandung.
Beberapa jam kemudian, SOHR melaporkan dua dari empat pemuda tersebut telah dilepaskan, sedangkan keberadaan dua lainnya masih belum diketahui. Pasukan 'Israel' disebut meninggalkan lokasi setelah melakukan penggerebekan dan penggeledahan terhadap sejumlah rumah.
Operasi di Abidin berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas militer Israel di wilayah Daraa dan Quneitra. Anadolu mencatat bahwa Suriah selatan dalam beberapa bulan terakhir mengalami operasi yang disebut meliputi penggerebekan, penggeledahan, penahanan warga serta pendirian pos pemeriksaan militer.
Ketegangan tersebut juga telah mendapat sorotan internasional. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres sebelumnya menyebut pelanggaran terhadap kedaulatan Suriah oleh Israel sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima.
Dalam pernyataan yang dikutip AFP, Guterres mengatakan, “Apa yang terjadi di kawasan sekitar Dataran Tinggi Golan sama sekali tidak dapat diterima,” seraya menegaskan bahwa Golan merupakan wilayah Suriah.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani sebelumnya menuntut penarikan pasukan 'Israel' dari wilayah Suriah. Ia menyatakan, “Kelanjutan tindakan militer Israel dan pendudukan ilegal atas tanah kami di luar garis 1974 merupakan ancaman langsung terhadap keamanan kawasan.”
Latar belakang persoalan ini berkaitan dengan perubahan situasi keamanan di Suriah setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada Desember 2024. Israel kemudian menyatakan perjanjian pelepasan pasukan 1974 tidak lagi berlaku dan mengerahkan pasukan ke zona penyangga yang sebelumnya diawasi PBB, termasuk sejumlah wilayah di sekitar Dataran Tinggi Golan.
Meski demikian, perkembangan militer tersebut berlangsung bersamaan dengan upaya diplomatik. Presiden Suriah Ahmad asy Syaraa mengatakan pada Juli bahwa pemerintahannya masih berupaya, dengan keterlibatan sejumlah negara lain, mencapai kesepakatan keamanan dengan Israel.
Operasi terbaru juga bukan kejadian pertama di kawasan Abidin. Pada akhir Juli, media Suriah melaporkan pasukan Israel memasuki sejumlah desa di Lembah Yarmouk, sementara pada Juni terjadi peningkatan ketegangan setelah pasukan Israel melakukan serangan artileri dan operasi darat di sekitar Abidin. Pada saat itu, sejumlah warga dilaporkan meninggalkan wilayah tersebut karena khawatir terhadap operasi militer. (hanoum/arrahmah.id)
