Memuat...

‘Kembali dari Kematian’, Kisah Prajurit Mesir yang Dikepung “Israel” dan Disangka Gugur

Samir Musa
Rabu, 7 Oktober 2026 / 26 Rabiulakhir 1448 21:30
‘Kembali dari Kematian’, Kisah Prajurit Mesir yang Dikepung “Israel” dan Disangka Gugur
Kabar tentang dirinya terputus selama enam bulan saat berada dalam pengepungan dalam Perang Oktober, hingga ibunya mengenakan pakaian hitam sebagai tanda berkabung untuknya.” (Al Jazeera)

KAIRO (Arrahmah.id) — Perang Oktober 1973 menyisakan banyak kisah manusia yang baru terungkap puluhan tahun kemudian. Salah satunya adalah kisah Hassan al-Banna Muhammad Jamal, prajurit Mesir yang sempat dikepung pasukan “Israel” di celah al-Dafarsuwar hingga keluarganya mengira ia telah gugur.

Kisah tersebut kembali diangkat dalam momentum peringatan perang 6 Oktober. Kisah ini dilansir Al Jazeera, yang disusun jurnalis Abdul Aziz Wali, mengenai Hassan, anak sulung dari sembilan bersaudara yang sebelumnya bekerja di sebuah bengkel mebel di kawasan Bab al-Sya'riyah, Kairo.

Hassan berasal dari keluarga yang secara turun-temurun menekuni pembuatan mebel. Ia belajar pekerjaan tersebut dari ayah dan kakeknya. Namun, pada Juni 1971, ia meninggalkan bengkel untuk sementara waktu demi menjalani wajib militer. Ia tidak menyangka masa dinas yang semula diperkirakan singkat itu akan berlangsung sekitar empat setengah tahun.

Hassan mulai menjalani dinas militer pada 6 Juni 1971 dan ditempatkan di satuan pertahanan udara Angkatan Bersenjata Mesir. Ia mengaku sejak awal berharap dapat ikut dalam pertempuran. Bersama rekan-rekannya, ia kerap membicarakan kemungkinan terjadinya perang hingga akhirnya perkiraan itu menjadi kenyataan pada Oktober 1973.

Sebelum perang pecah, suasana di kamp mereka di Salluim, dekat perbatasan Mesir-Libya, berjalan seperti biasa. Namun, keadaan berubah drastis ketika pertempuran dimulai.

Pasukan Mesir kemudian menyeberangi Terusan Suez dengan kendaraan militer dan terlibat dalam pertempuran sengit setelah penyeberangan tersebut.

Hassan kemudian bergabung dengan pasukan Divisi Lapis Baja Keempat Mesir yang terlibat dalam operasi pengembangan serangan pada 14 Oktober 1973. Tidak lama kemudian, ia berada di tengah rangkaian pertempuran yang semakin sengit setelah pasukan “Israel” menerobos celah al-Dafarsuwar.

Terjebak dalam pengepungan

Masa pengepungan menjadi salah satu pengalaman paling membekas bagi Hassan. Pasokan sulit masuk, sementara komunikasi antara para prajurit dan keluarga mereka terputus.

“Kami terkepung dan semangat kami rendah,” kenangnya.

Meski berada dalam situasi sulit, Hassan tetap yakin dirinya akan kembali kepada keluarganya. Keyakinan tersebut menjadi salah satu kekuatan yang membuatnya mampu bertahan selama pengepungan.

Ketika pengepungan akhirnya berakhir, hal pertama yang muncul dalam pikirannya adalah keluarganya. Setelah berbulan-bulan tanpa kabar, ia sangat ingin bertemu kembali dengan orang-orang yang dicintainya.

Di Kairo, keluarganya justru menjalani masa penuh kecemasan. Tidak ada kabar mengenai keberadaan Hassan dan tidak ada cara bagi mereka untuk memastikan apakah ia masih hidup.

Adiknya, Samia, mengisahkan bahwa sang ibu bahkan mengenakan pakaian hitam selama Hassan menghilang. Ia telah meyakini bahwa putra sulungnya itu gugur dalam pertempuran.

Kesedihan pun menyelimuti rumah mereka selama masa pengepungan. Upaya untuk menenangkan sang ibu tidak banyak berhasil karena keyakinannya mengenai kematian Hassan sudah begitu kuat.

Pulang seperti “orang yang kembali dari kematian”

Setelah pengepungan berakhir, Hassan tidak langsung pulang ke rumah. Ia memilih mendatangi adiknya, Samia, di tempat kerjanya.

Pertemuan itu berubah menjadi momen yang tidak akan pernah dilupakan.

Samia menceritakan bahwa ketika sedang bekerja, tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan menyentuh pundaknya. Saat berbalik, ia mendapati Hassan berdiri di belakangnya.

Ia begitu terkejut hingga pingsan.

Rekan-rekan Samia segera membantunya setelah menyadari bahwa pria yang berdiri di hadapannya adalah kakaknya yang selama berbulan-bulan tidak diketahui kabarnya.

Bagi Hassan, sambutan di tempat kerja Samia terasa seperti sebuah pesta pernikahan. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan menuju rumah untuk bertemu keluarganya.

Hassan akhirnya menyelesaikan masa dinas militernya dan kembali menekuni pekerjaan yang telah ia tinggalkan sebelum masuk tentara. Ia juga menyimpan sertifikat penghargaan yang diterimanya sebagai kenang-kenangan dari masa pengabdiannya.

Namun, pengalaman perang tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Kisah tentang pengepungan, pertempuran, dan kepulangannya kemudian ia ceritakan kepada anak-anak dan cucu-cucunya.

Lebih dari setengah abad setelah perang Oktober 1973, kisah Hassan menjadi gambaran tentang bagaimana sebuah perang tidak hanya meninggalkan catatan di medan pertempuran, tetapi juga menghadirkan penantian, kehilangan, harapan, dan pertemuan kembali bagi keluarga yang ditinggalkan.

(Samirmusa/arrahmah.id)