GAZA (Arrahmah.id) - Lima warga Palestina gugur dan sejumlah lainnya terluka dalam serangan udara 'Israel' yang menghantam sebuah apartemen di Gaza City bagian barat pada Sabtu (3/10/2026) dini hari.
Sumber medis yang dikutip Al Jazeera mengatakan serangan tersebut menghantam sebuah apartemen di kawasan barat Gaza City. Media Palestina juga melaporkan serangkaian serangan udara 'Israel' di wilayah barat kota tersebut, sementara pasukan 'Israel' melakukan peledakan terhadap sejumlah bangunan di kawasan Tuffah, Gaza City bagian timur.
Di Gaza tengah, seorang warga Palestina terluka setelah sebuah drone 'Israel' melepaskan tembakan ke arah warga di Jalan Al-‘Ashrin, sebelah timur kamp pengungsi Nuseirat.
Sementara itu, di Gaza selatan, artileri 'Israel' membombardir kawasan timur Khan Younis. Kendaraan militer 'Israel' juga dilaporkan melepaskan tembakan secara intensif di wilayah Al-Qarara, sebelah timur laut kota tersebut.
Penembakan juga dilaporkan terjadi di kawasan Al-Mawasi, sebelah barat Rafah.
Serangkaian serangan tersebut terjadi di tengah laporan mengenai pelanggaran 'Israel' terhadap kesepakatan gencatan senjata yang berlaku di Gaza sejak 10 Oktober 2025. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, hingga Kamis, pelanggaran tersebut telah menewaskan 1.439 warga Palestina dan melukai 5.052 lainnya. Angka tersebut merupakan data yang disampaikan otoritas kesehatan Gaza.
Sejak Oktober 2023, lebih dari 74.000 warga Palestina di Gaza dilaporkan tewas dan lebih dari 175.000 lainnya terluka. WHO menyebut kebutuhan kesehatan di Gaza masih sangat besar, sementara kapasitas layanan kesehatan tetap terbatas.
Dalam perkembangan lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pengiriman sejumlah peralatan medis penting ke Gaza masih menghadapi proses persetujuan dan penundaan.
Dalam pengarahan PBB pada 2 Oktober, WHO mengatakan peralatan seperti mesin rontgen, perangkat sterilisasi, suku cadang CT scan, dan perlengkapan laboratorium kerap mengalami penundaan atau penolakan. Sekitar 40 persen peralatan laboratorium dan diagnostik yang diajukan masih menunggu persetujuan.
WHO mengatakan sebagian besar obat relatif lebih mudah masuk, tetapi sejumlah peralatan medis dan perlengkapan kesehatan menghadapi tingkat persetujuan yang lebih rendah. Organisasi tersebut menyerukan akses yang lebih lancar dan dapat diprediksi agar pasokan medis bisa masuk ke Gaza dalam jumlah yang dibutuhkan. (zarahamala/arrahmah.id)
