TEL AVIV (Arrahmah.id) - Upaya internasional untuk menstabilkan Jalur Gaza memasuki babak baru. Surat kabar Yedioth Ahronoth melaporkan pada Jumat (19/6/2026) bahwa elemen pertama dari Pasukan Stabilitas Internasional telah tiba di 'Israel' sebagai persiapan untuk pengerahan operasional di Jalur Gaza dalam waktu dekat.
Mengutip keterangan seorang pejabat senior di Board of Peace Gaza, laporan tersebut menyebutkan bahwa pihak berwenang saat ini tengah membangun pusat dukungan logistik di perlintasan Kerem Shalom (perbatasan selatan Gaza). Fasilitas ini akan berfungsi sebagai titik penerimaan dan transit bagi ribuan personel pasukan internasional yang dijadwalkan tiba secara bertahap dalam beberapa minggu mendatang.
Pasukan Stabilitas Internasional merupakan salah satu dari empat pilar entitas pengelola Gaza yang diatur dalam rencana perdamaian Presiden AS Donald Trump. Mandat ini telah disahkan secara resmi oleh Dewan Keamanan PBB melalui Resolusi Nomor 2803 pada 17 November 2025.
Pasukan Stabilitas Internasional mengemban mandat operasional, di mana mereka ditugaskan untuk menciptakan zona penyangga sebagai upaya pemisahan militer yang efektif antara pasukan 'Israel' (IDF) dengan wilayah-wilayah yang telah diserahkan di bawah administrasi Komite Nasional Palestina.
Selain menjaga jarak antar-pihak yang bertikai, pasukan ini juga bertanggung jawab penuh atas agenda demiliterisasi, yang meliputi pengawasan ketat terhadap proses perlucutan senjata, penghancuran sisa-sisa infrastruktur militer, serta upaya pencegahan agar kelompok bersenjata non-negara tidak dapat membangun kembali aset militer mereka.
Tidak hanya berfokus pada aspek keamanan, pasukan ini turut menjamin perlindungan kemanusiaan bagi warga sipil sekaligus memastikan keamanan koridor distribusi bantuan kemanusiaan tetap terjaga. Terakhir, seluruh rangkaian misi ini didukung dengan fungsi monitoring aktif, di mana pasukan berperan membantu Dewan Perdamaian dalam memantau secara berkala tingkat kepatuhan seluruh pihak terhadap poin-poin kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati.
Menurut pejabat Board of Peace, pengerahan ini dimulai dalam skala terbatas, dengan elemen awal yang tiba melibatkan personel dari Kosovo. Pihak otoritas menegaskan bahwa pusat logistik di Kerem Shalom bukanlah basis permanen, melainkan hanya titik transit sebelum pasukan didistribusikan masuk ke dalam wilayah Gaza.
Sebelumnya, komandan pasukan internasional di Gaza, Jasper Jeffers, pada Februari lalu mengungkapkan bahwa lima negara telah berkomitmen untuk mengirimkan pasukan. Selain itu, Yordania dan Mesir secara terpisah telah menyatakan komitmen untuk melatih anggota kepolisian Palestina guna mengisi kekosongan otoritas keamanan internal.
Pengerahan pasukan internasional ini menjadi pengujian krusial bagi keberhasilan Fase Kedua rencana perdamaian tersebut. Keberhasilan misi ini sangat bergantung pada komitmen pendanaan dari para donor internasional serta kesediaan 'Israel' untuk mengakhiri pengepungan yang selama ini melumpuhkan upaya rekonstruksi di Jalur Gaza. (zarahamala/arrahmah.id)
