TEL AVIV (Arrahmah.id) - Investigasi mendalam yang diterbitkan oleh media 'Israel', Zman Israel, mengungkap keraguan besar di kalangan pejabat keamanan dan analis pertahanan 'Israel' mengenai efektivitas proyek milisi proksi di Jalur Gaza. Selama lebih dari dua tahun, 'Israel' secara diam-diam telah menyokong kelompok bersenjata lokal dengan harapan mereka dapat menggantikan kekuasaan Hamas dan menjadi alternatif pemerintahan di wilayah tersebut. Namun, para ahli kini secara terbuka mempertanyakan apakah proyek ambisius ini telah gagal total.
Alih-alih menjadi kekuatan alternatif yang sah dan efektif, kelompok-kelompok tersebut justru digambarkan sebagai entitas yang terfragmentasi, terisolasi secara geografis, dan sangat bergantung pada perlindungan militer Israel', tanpa memiliki legitimasi publik di mata warga Gaza.
Menurut laporan Zman Israel, negara telah menyalurkan dukungan besar-besaran kepada kelompok anti-Hamas, mulai dari suplai senjata, intelijen, bantuan logistik, makanan, hingga perawatan medis bagi kombatan yang terluka di wilayah 'Israel'. Namun, kurangnya transparansi mengenai struktur, pendanaan, dan tujuan jangka panjang dari proyek ini telah menjadi sasaran kritik tajam dari para pakar pertahanan 'Israel' sendiri.
Investigasi menemukan bahwa milisi ini hanya terdiri dari beberapa ratus petarung. Aktivitas mereka terbatas pada bentrokan sporadis, distribusi bantuan, dan patroli di zona yang dikuasai 'Israel', sehingga gagal mengubah keseimbangan kekuatan secara signifikan.
Pemimpin kelompok ini dinilai tidak memiliki akar dukungan di masyarakat Palestina. Beberapa di antaranya bahkan dilaporkan memiliki latar belakang kriminal atau penyelundupan, yang membuat warga Gaza memandang mereka dengan permusuhan.
Para analis memperingatkan bahwa pemberian kemampuan canggih, seperti drone militer, kepada kelompok ini berisiko menjadi bumerang. Senjata tersebut dikhawatirkan akan disalahgunakan untuk terorisme atau jatuh ke tangan Hamas.
Michael Milshtein, mantan kepala departemen urusan Palestina di intelijen militer 'Israel' dan salah satu analis paling dihormati di negara tersebut, melontarkan kritik pedas terhadap strategi ini. Ia menyebut Gaza telah menjadi ibukota fantasi 'Israel', di mana kebijakan dijalankan berdasarkan asumsi yang cacat sejak awal.
Milshtein menegaskan bahwa 'Israel' keliru saat mencoba memanufaktur alternatif pemerintahan melalui klan atau tokoh lokal. "Jelas sekali kita mengambil lapisan paling bawah dari masyarakat Palestina, orang-orang yang merupakan kriminal, sosok yang dipertanyakan, dan terlibat terorisme, dengan keyakinan bahwa mereka bisa menjadi alternatif bagi Hamas," ujar Milshtein.
Laporan tersebut menyoroti kebingungan strategis di internal lingkaran kebijakan 'Israel'. Setelah bertahun-tahun perang, otoritas 'Israel' dianggap tidak memiliki jawaban atas pertanyaan fundamental mengenai peran apa yang sebenarnya ingin dicapai melalui kelompok-kelompok ini.
Tidak adanya evaluasi berkala, baik oleh badan intelijen Shin Bet maupun militer, membuat kesalahan taktis terus berulang. Milshtein menyimpulkan kekecewaannya dengan mengatakan, "Tidak ada yang berhenti dan bertanya ke mana arah omong kosong ini. Apakah ini membantu? Apakah ini merugikan? Selama dua tahun tidak ada pemeriksaan mengenai seluruh urusan ini."
Kini, di tengah frustrasi yang kian memuncak, proyek ini justru menjadi simbol dari ketidakjelasan visi politik 'Israel' dalam menghadapi realitas pascaperang di Gaza. Alih-alih meredam pengaruh Hamas, upaya membangun kekuatan proksi ini dinilai justru menciptakan ancaman keamanan baru dan memperburuk citra Israel di hadapan masyarakat Palestina. (zarahamala/arrahmah.id)
