YERUSALEM (Arrahmah.id) -- Menteri Keamanan Nasional 'Israel' Itamar Ben-Gvir memicu kontroversi internasional setelah menyerukan respons militer yang lebih keras terhadap Lebanon menyusul tewasnya empat tentara 'Israel' dalam pertempuran melawan milisi Syiah Hizbullah di Lebanon selatan. Pernyataan tersebut muncul ketika konflik lintas perbatasan antara 'Israel' dan Hizbullah kembali memanas dan menimbulkan korban di kedua belah pihak.
“Semua Lebanon harus terbakar. Tidak boleh ada kompromi dengan terorisme,” kata Itamar Ben-Gvir dalam pernyataan yang dikutip The Times of Israel (19/6/2026).
Pernyataan tersebut segera menjadi sorotan karena dianggap sebagai salah satu komentar paling keras yang disampaikan pejabat tinggi 'Israel' sejak konflik dengan Hizbullah meningkat beberapa bulan terakhir. Sejumlah pengamat menilai ucapan Ben-Gvir berpotensi memperburuk ketegangan regional yang sudah berada pada titik kritis.
Menurut militer 'Israel', empat tentara yang tewas merupakan bagian dari operasi yang berlangsung di Lebanon selatan. IDF menyebut pasukannya terlibat pertempuran sengit dengan pejuang Hizbullah yang menggunakan rudal antitank, mortir, dan berbagai jenis persenjataan lainnya untuk menghadang pergerakan pasukan 'Israel'.
Sementara itu, Hizbullah mengklaim berhasil menggagalkan sejumlah upaya maju pasukan 'Israel' di beberapa sektor pertempuran. Kelompok tersebut juga menyatakan telah menyerang kendaraan militer 'Israel' dan posisi pasukan yang berada di wilayah perbatasan. Klaim itu belum dapat diverifikasi secara independen, namun berbagai laporan media menyebut pertempuran di Lebanon selatan memang meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Reuters dan Euronews melaporkan bahwa pernyataan Ben-Gvir tidak secara resmi mewakili kebijakan pemerintah 'Israel'. Hingga kini, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu maupun Kementerian Pertahanan 'Israel' belum mengeluarkan pernyataan yang mendukung seruan untuk menyerang Lebanon secara menyeluruh.
Meski demikian, komentar Ben-Gvir mendapat dukungan dari sebagian kalangan nasionalis 'Israel' yang menilai Hizbullah harus menghadapi respons lebih keras setelah menyebabkan korban di pihak Israel. Di sisi lain, kelompok oposisi dan sejumlah pengamat keamanan memperingatkan bahwa retorika semacam itu dapat memperluas konflik dan mempersulit upaya diplomatik yang sedang berlangsung.
Konflik antara 'Israel' dan Hizbullah telah berlangsung secara intensif sejak perang regional yang melibatkan Iran, 'Israel', dan sejumlah kelompok sekutu di Timur Tengah meningkat pada tahun 2026. Bentrokan yang awalnya terbatas di wilayah perbatasan kini berkembang menjadi operasi militer yang lebih luas, termasuk serangan udara, peluncuran rudal, dan pertempuran darat di beberapa wilayah Lebanon selatan.
Menurut laporan The Straits Times, berbagai negara termasuk Amerika Serikat, Prancis, dan Qatar terus berupaya mendorong gencatan senjata guna mencegah konflik berkembang menjadi perang regional yang lebih besar. Namun, meningkatnya jumlah korban dan pernyataan-pernyataan keras dari tokoh politik di kedua pihak membuat peluang deeskalasi semakin sulit diwujudkan. (hanoum/arrahmah.id)
