Umrah kali ini terasa sangat istimewa. Perjalanan ibadah ini berpadu dengan sebuah misi mulia: mengantar putra bungsu untuk menuntut ilmu di Universitas Darul Qur'an, Yaman. Sebuah negeri berkah yang diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai Baldah Ṭayyibah wa Rabbun Ghafūr—negeri yang makmur, damai, dan berada di bawah naungan ampunan Allah—tanah historis yang dahulu berjaya di bawah kepemimpinan Ratu Bilqis.
Hari ini, pada fajar Jumat yang syahdu, 17 Juli 2026, saya bersimpuh di hadapan Sang Pembawa Risalah.
Di sinilah, di bawah naungan Kubah Hijau, saya ingin mengikat sebuah refleksi mendalam tentang cinta, kesetiaan, dan komitmen perjuangan.
Fajar yang Mengepakkan Sayap di Madinah
Madinah pagi ini masih diselimuti sisa dingin malam.
Di pelataran Masjid Nabawi, payung-payung raksasa mulai mengembang perlahan, mengepak anggun bagaikan sayap-sayap burung raksasa yang menyambut datangnya cahaya fajar.
Namun, di dalam sana, di sebuah lorong legendaris bernama Babussalam—Pintu Keselamatan—detak waktu seolah berhenti. Ribuan manusia berdesakan hampir tanpa jarak, berjalan tertib dalam keheningan yang riuh. Mereka tidak sedang mengantre materi atau jabatan duniawi. Mereka sedang mengantre untuk menyambungkan kembali ruh-ruh mereka yang retak kepada poros peradaban sejati: Baginda Rasulullah ﷺ.
Ada yang tersenyum dalam linangan air mata, sementara bibir mereka tiada henti berbisik lirih melantunkan shalawat.
Sepanjang sejarah peradaban manusia, tidak pernah ada satu tokoh pun yang didoakan oleh miliaran pengikutnya secara konsisten, setiap detik tanpa jeda, melintasi ruang dan waktu sejak lebih dari empat belas abad silam, selain beliau.
Refleksi I: Shalawat sebagai Manifesto Semesta
Di lorong ini, suara-suara lirih menyatu menjadi dengung yang syahdu, menghidupkan kembali firman Allah Yang Mahaagung:
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab [33]: 56)
Membaca ayat ini langsung di Babussalam menyadarkan kita bahwa shalawat bukan sekadar gumaman ritual penenang jiwa yang pasif. Shalawat adalah sebuah ideologi. Ia merupakan proklamasi keterikatan kita kepada barisan kesucian.
Ketika Allah dan para malaikat-Nya bershalawat, semesta sedang bergemuruh memuliakan Sang Pembawa Kebenaran. Maka, saat lisan kita mengucapkan, "Allahumma shalli 'ala Muhammad," sejatinya kita sedang menyelaraskan frekuensi perjuangan hidup dengan frekuensi langit.
Inilah keagungan konsep kepemimpinan dalam Islam.
Islam mengajarkan penghormatan yang timbal balik. Rasulullah ﷺ berjuang membimbing umat, sementara umat mengekspresikan cinta dan kesetiaannya melalui doa dan shalawat yang tak pernah terputus.
Kita bershalawat bukan karena Rasulullah ﷺ membutuhkan doa kita. Beliau adalah nabi yang maksum, dimuliakan Allah, dan dijamin surga. Justru kitalah yang membutuhkan keberkahan shalawat itu. Kita bersyukur karena melalui bimbingan beliau, kemanusiaan diangkat dari jurang kejahiliahan menuju cahaya hidayah.
Shalawat adalah utang budi sejarah yang tak akan pernah lunas kita bayar.
Refleksi II: Jantung yang Bergetar untuk Umatnya
Langkah kaki semakin mendekat ke arah makam suci. Di sanalah Rasulullah ﷺ bersemayam, berdampingan dengan dua sahabat tercintanya: Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhuma.
Dada terasa semakin sesak oleh rasa malu dan rindu yang tak tertahankan. Bagaimana mungkin kita tidak mencintai sosok yang bahkan sebelum kita dilahirkan telah mencemaskan nasib kita?
"Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan keselamatan bagimu, serta amat penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman." (QS. At-Taubah [9]: 128)
Resapilah setiap makna ayat ini di bawah teduhnya Kubah Hijau.
"‘Azīzun 'alaihi mā 'anittum"—teramat berat bagi beliau melihat penderitaan umatnya.
Beliau adalah pemimpin yang tidak dapat tidur nyenyak ketika ada rakyatnya yang kelaparan. Beliau adalah panglima perang sekaligus kepala negara yang menangis pada keheningan sepertiga malam demi memohon keselamatan akhirat bagi umatnya.
Di Babussalam ini, di tengah kepungan peradaban modern yang individualistis dan dingin, kita menemukan kembali kehangatan cinta yang murni.
Cinta Rasulullah ﷺ adalah cinta yang membebaskan: merangkul yang lemah, membela yang tertindas, serta mengangkat derajat manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan hanya kepada Allah semata.
Sebuah fragmen sejarah yang menggetarkan juga seolah bersemi di tempat mulia ini.
Dikisahkan, ada seorang peziarah yang selama hidupnya didoktrin dengan narasi kebencian terhadap para sahabat. Namun, ketika ia berdiri langsung di hadapan makam suci dan menyaksikan sendiri bagaimana Abu Bakar dan Umar dimakamkan berdampingan begitu dekat dengan Rasulullah ﷺ, hatinya bergetar.
Kebenaran sejarah yang agung seketika meruntuhkan tembok prasangka di dadanya. Di sinilah ia memperoleh hidayah, bertaubat, dan kembali kepada jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Makam ini menjadi saksi bisu bahwa cinta dan kesetiaan sejati tidak pernah dapat dipisahkan, bahkan oleh kematian.
Keluar dari Babussalam Membawa Cahaya
Ketika langkah kaki perlahan meninggalkan lorong Babussalam, di ujungnya terbentang Pemakaman Baqi', tempat bersemayam para sahabat Rasulullah ﷺ.
Kita tidak boleh keluar sebagai manusia yang sama.
Menyampaikan salam di pintu ini adalah sebuah baiat, sebuah janji setia.
Kita berjanji di hadapan makam Rasulullah ﷺ bahwa kita akan kembali ke tanah air, kepada keluarga dan masyarakat, dengan membawa karakter kepemimpinan beliau.
Kita harus pulang sebagai pembela kaum yang lemah, penegak keadilan, dan pembawa kedamaian—salam—sebagaimana nama pintu tempat kita berdiri hari ini.
Duhai Rasulullah... Fajar Jumat di Nabawi ini menjadi saksi. Kami pulang untuk mengemban risalahmu, dengan shalawat yang membakar dada, dan tekad yang tak akan pernah padam untuk memenangkan kebenaranmu.
Madinah Al-Munawwarah, 17 Juli 2026
IRFAN S. AWWAS
(*/arrahmah.id)
