GAZA (Arrahmah.id) - Penggunaan jaringan bawah tanah oleh kelompok Palestina di Gaza bukan fenomena yang baru muncul dalam dua dekade terakhir. Jejak penggunaannya telah tercatat sejak setelah perang 1967, ketika kelompok-kelompok fedayeen Palestina menggunakan terowongan dan tempat persembunyian bawah tanah untuk bergerak menghadapi pasukan 'Israel'.
Menurut dokumenter Al Jazeera dalam episode pertama serial Gaza.. Hikayah Lam Turwa (Gaza: Kisah yang Tak Terungkap) berjudul Tarikh Sya'b (Sejarah Sebuah Bangsa), kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) menjalankan operasi rahasia di Jalur Gaza antara 1967 hingga 1971.
Para pejuang memanfaatkan jaringan terowongan dan lubang persembunyian yang berada di bawah lahan pertanian dan kebun-kebun Gaza. Lubang-lubang yang disamarkan di antara perkebunan digunakan untuk bersembunyi, berpindah, dan melakukan manuver tanpa mudah terdeteksi pasukan 'Israel'.
Pasukan 'Israel' kemudian meningkatkan operasi penyisiran di wilayah tersebut untuk menemukan pintu masuk dan tempat persembunyian. Sejumlah jaringan bawah tanah itu dihancurkan setelah ditemukan.
Penggunaan ruang bawah tanah tersebut muncul seiring berkembangnya perjuangan bersenjata Palestina setelah kekalahan Arab dalam perang 1967. Organisasi seperti Fatah dan kelompok Palestina lainnya mulai meningkatkan operasi bersenjata di wilayah yang diduduki 'Israel'. Di Gaza, aktivitas kelompok fedayeen tetap berlangsung hingga akhir 1971.
Dalam dokumenter tersebut, Eyal Weizman, direktur Forensic Architecture di London, mengatakan penguasaan wilayah bawah tanah menjadi cara bagi kelompok Palestina untuk bergerak di tengah dominasi 'Israel' di udara dan di permukaan tanah.
Menurut Weizman, ruang bawah tanah saat itu menjadi satu-satunya bagian wilayah Palestina yang tidak sepenuhnya berada di bawah kendali 'Israel'.
Jurnalis independen asal Gaza, Abu Bakr Bashir, juga mengisahkan pengalamannya ketika masih kecil melihat para pejuang Palestina bertopeng bergerak di antara rumah-rumah di Gaza sambil dikejar pasukan 'Israel'.
Pengalaman menggunakan ruang bawah tanah pada akhir 1960-an tersebut kemudian menjadi bagian dari sejarah panjang strategi kelompok bersenjata Palestina di Gaza.
Dalam dua dekade terakhir, kelompok-kelompok bersenjata di Gaza membangun jaringan terowongan yang jauh lebih kompleks. Jaringan tersebut menjadi salah satu elemen penting dalam strategi Hamas menghadapi operasi militer 'Israel', terutama setelah serangan 7 Oktober 2023 dan invasi darat 'Israel' ke Gaza.
Dengan demikian, jaringan terowongan Gaza bukan semata-mata produk perang terbaru. Penggunaannya memiliki akar sejarah yang telah berlangsung sejak periode setelah pendudukan 'Israel' atas Gaza pada 1967. (zarahamala/arrahmah.id)
