PARIS (Arrahmah.id) - Hubungan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu dilaporkan tengah berada di titik terendah. Dalam pernyataan terbuka yang tajam di sela-sela KTT G7 di Prancis pada Rabu (17/6/2026), Trump secara eksplisit mengkritik operasi militer 'Israel' di Lebanon dan mengakui adanya perpecahan strategis dengan sang perdana menteri.
Di hadapan para jurnalis, Trump menyebut tindakan militer 'Israel' di Lebanon sebagai "pekerjaan yang buruk" (bad job). Ia secara spesifik menyoroti kebijakan 'Israel' yang meluluhlantakkan bangunan hanya untuk menargetkan personel Hizbullah.
Ketidakpuasan Trump terhadap Netanyahu bukan lagi rahasia di koridor diplomatik. Dinamika konflik kepentingan antara Donald Trump dan Benjamin Netanyahu kini semakin tajam, terutama terlihat dari kritik terbuka Trump terhadap taktik militer 'Israel' yang dianggap destruktif di Lebanon, di mana ia menegur Netanyahu agar bertindak lebih tenang dan berhenti menghancurkan bangunan hanya karena keberadaan anggota Hizbullah.
Meskipun Trump masih mengakui Netanyahu sebagai orang baik, ia secara blak-blakan menyebut sang perdana menteri kerap bertindak emosional, sebuah sentimen yang diperparah oleh pernyataan Trump bahwa 'Israel' tidak akan ada tanpa dukungan Amerika Serikat, yang memicu kemarahan publik di 'Israel' dan mencerminkan keretakan narasi politik yang semakin dalam.
Ketegangan ini sejatinya merupakan dampak langsung dari kegagalan kalkulasi politik Netanyahu terkait Iran, yang menurut penulis Financial Times, Edward Luce, telah menempatkan hubungan keduanya dalam fase tersulit.
Netanyahu sebelumnya bertaruh bahwa serangan militer besar-besaran akan memicu keruntuhan rezim di Teheran melalui tekanan domestik, namun realitas justru berbalik arah, alih-alih mendapatkan dukungan untuk perubahan rezim, Amerika Serikat kini justru kembali menempuh jalur negosiasi dengan Iran demi menjamin stabilitas regional dan arus navigasi di Selat Hormuz.
Langkah pemerintahan Trump yang memprioritaskan kesepakatan regional ini secara nyata telah mengabaikan banyak garis merah strategis yang selama ini menjadi prasyarat keamanan vital bagi Tel Aviv.
Para analis politik menilai bahwa perbedaan visi ini kini menjadi jurang pemisah yang nyata. Sementara 'Israel' tetap bersikeras pada opsi eskalasi militer total, administrasi Trump justru tengah berakselerasi untuk menuntaskan konflik regional melalui jalur diplomasi.
Situasi ini semakin rumit mengingat posisi hukum Netanyahu, yang saat ini menjadi subjek permintaan penangkapan oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan perang di Gaza. Di tengah tekanan internasional dan isolasi diplomatik, sikap Trump yang terbuka terhadap negosiasi dengan musuh bebuyutan 'Israel' di Teheran menjadi pukulan telak bagi narasi politik yang selama ini dibangun oleh Netanyahu. (zarahamala/arrahmah.id)
