Memuat...

Tuding 'Israel' Intervensi Pemilu Kolombia, Presiden Petro Tuntut Penghitungan Ulang

Zarah Amala
Selasa, 23 Juni 2026 / 8 Muharam 1448 13:24
Tuding 'Israel' Intervensi Pemilu Kolombia, Presiden Petro Tuntut Penghitungan Ulang
Presiden Kolombia Gustavo Petro. (Foto: Cuplikan video)

BOGOTA (Arrahmah.id) - Suasana politik di Kolombia memanas setelah Presiden Gustavo Petro melontarkan tuduhan mengejutkan bahwa 'Israel' telah melakukan intervensi dalam pemilihan presiden putaran kedua. Melalui X, Petro mengklaim adanya manipulasi sistem elektronik pada saat penghitungan suara, yang ia duga melibatkan perubahan alamat IP pada server milik Kantor Pendaftaran Nasional.

Petro menyatakan bahwa ia telah berulang kali memperingatkan kerentanan perangkat lunak yang digunakan otoritas pemilu Kolombia dan mengklaim bahwa hanya negara dengan kemampuan teknologi tingkat tinggi seperti 'Israel' yang mampu melakukan operasi tersebut. "Terdapat perubahan pada alamat IP di sejumlah server milik Kantor Pendaftaran Nasional," tulis Petro.

Tuduhan ini muncul setelah hasil penghitungan sementara menunjukkan keunggulan tipis bagi kandidat konservatif, Abelardo de la Espriella, atas kandidat yang didukung pemerintah, Ivan Cepeda. Dengan 99,99 persen suara masuk, data awal menunjukkan Abelardo de la Espriella: 49,66 persen suara dan Ivan Cepeda: 48,70 persen suara.

Selisih antara kedua kandidat kurang dari satu persen, memicu ketidakpastian politik yang mendalam. Tak lama setelah hasil tersebut diumumkan, de la Espriella langsung mendeklarasikan kemenangan di hadapan pendukungnya di Barranquilla. Namun, kubu Ivan Cepeda menegaskan bahwa mereka akan menantang hasil di ribuan tempat pemungutan suara (TPS) selama proses verifikasi resmi berlangsung.

Menanggapi hasil sementara, Presiden Petro menyerukan apa yang ia sebut sebagai "pertempuran demi demokrasi." Ia menuntut penghitungan ulang menyeluruh, penyelidikan mendalam terhadap perangkat lunak pemilu yang sebelumnya sudah ia minta untuk diaudit secara independen, namun ditolak oleh otoritas terkait serta pemeriksaan terhadap laporan-laporan kecurangan di berbagai TPS.

Petro juga merujuk pada putusan Dewan Negara 2018 yang mendesak penggantian sistem perangkat lunak pemilu dengan alternatif yang bersifat publik, namun implementasinya hingga kini masih menjadi perdebatan.

Protes Meluas di Berbagai Kota

Ketegangan hasil pemilu ini memicu aksi unjuk rasa di sejumlah kota besar, termasuk Bogota dan Cali. Di Cali, demonstrasi yang awalnya berlangsung damai di lingkungan Puerto Resistencia berubah menjadi bentrokan setelah pidato kemenangan de la Espriella. Massa dilaporkan membakar bendera Amerika Serikat dan terlibat konfrontasi dengan polisi antihuru-hara yang merespons dengan gas air mata.

Di Bogota, ratusan demonstran berkumpul di depan Universitas Nasional. Beberapa kelompok mendirikan barikade dan melakukan protes atas dugaan praktik politik uang serta pengaruh asing dalam proses pemilihan. Sementara itu, pihak keamanan nasional tetap bersiaga tinggi seiring dengan dimulainya proses pengawasan resmi yang akan menentukan hasil akhir dan legitimasi pemerintahan Kolombia ke depan. (zarahamala/arrahmah.id)