Memuat...

30 Juta Warga Diperkirakan Hadiri Pemakaman Khamenei, Iran Kirim Pesan Keras kepada AS dan "Israel"

Samir Musa
Ahad, 5 Juli 2026 / 20 Muharam 1448 21:13
30 Juta Warga Diperkirakan Hadiri Pemakaman Khamenei, Iran Kirim Pesan Keras kepada AS dan "Israel"
Warga Iran memadati kawasan Musala Imam Khomeini di Teheran menjelang prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. (Reuters)

TEHERAN (Arrahmah.id) – Pemerintah Iran memperkirakan antara 20 hingga 30 juta warga akan menghadiri prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam rangkaian upacara yang berlangsung di Teheran. Kehadiran massa dalam jumlah besar itu dipandang bukan sekadar penghormatan terakhir, tetapi juga menjadi pesan politik dan strategis kepada dunia, terutama Amerika Serikat dan "Israel".

Menurut laporan koresponden Al Jazeera di Teheran, Omar Hawash, pemerintah Iran berupaya menunjukkan persatuan nasional di tengah meningkatnya ketegangan regional. Melalui prosesi tersebut, Teheran ingin menegaskan bahwa rakyat tetap mendukung kebijakan negara, baik dalam menghadapi tekanan militer maupun jalur diplomasi yang sebelumnya ditempuh melalui perundingan dengan Amerika Serikat.

Iran juga ingin menyampaikan bahwa negara itu tetap berdiri kuat setelah konflik dengan "Israel" dan Amerika Serikat, serta masih memiliki kemampuan untuk menghadapi konfrontasi baru jika diperlukan. Besarnya partisipasi rakyat dan kehadiran delegasi resmi dari berbagai negara dinilai menjadi bagian dari pesan tersebut.

Seruan untuk mengikuti prosesi pemakaman disampaikan oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen, Ketua Lembaga Peradilan, hingga pimpinan militer. Dalam pernyataannya, Pezeshkian menyebut pemakaman Khamenei bukan sekadar prosesi duka, melainkan awal babak baru bagi Iran, dengan Khamenei diposisikan sebagai simbol perlawanan dan keteguhan menghadapi musuh.

Sementara itu, mantan diplomat Iran Hadi Afaqhi menyatakan prosesi tersebut menunjukkan persatuan rakyat Iran di bawah kepemimpinan baru. Ia mengatakan rakyat telah memberikan baiat kepada pemimpin baru, Mojtaba Khamenei, yang disebut telah dipilih oleh Majelis Ahli Kepemimpinan sesuai konstitusi.

Afaqhi juga memperingatkan pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh Iran agar berpikir berulang kali sebelum mengambil langkah yang dapat memicu konfrontasi baru. Ia menambahkan, lebih dari 100 negara mengirimkan delegasi resmi untuk menghadiri prosesi tersebut.

Menurutnya, jenazah Khamenei selanjutnya akan dibawa ke Kota Qom sebelum diteruskan ke Irak untuk melewati kota-kota suci seperti Karbala, Najaf, dan Kadhimiyah. Ia juga menegaskan pemerintahan Presiden Pezeshkian tetap melanjutkan kebijakan sebelumnya, termasuk membuka peluang kelanjutan perundingan dengan Amerika Serikat.

Di sisi lain, mantan Ketua Komite Partai Republik di Washington, Patrick Mara, menilai simbolisme pemakaman tidak menjadi perhatian utama Washington. Menurutnya, Amerika Serikat lebih menitikberatkan pada langkah konkret Iran, termasuk kebijakan terkait Selat Hormuz, kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), serta dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok sekutunya di kawasan.

Mara mengungkapkan adanya optimisme di Washington untuk mencapai kesepakatan baru dengan Iran, seiring tetap terbukanya jalur komunikasi melalui para mediator.

Sementara itu, koresponden Al Jazeera di Washington, Ihab Al-Absi, melaporkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump tetap memantau prosesi pemakaman Khamenei meski sedang mengikuti peringatan Hari Kemerdekaan AS.

Dalam keterangannya kepada media Axios, Trump mengaku menyaksikan prosesi tersebut dan mempertanyakan tangisan para pelayat Iran. Ia bahkan menyindir bahwa air mata yang terlihat "mungkin saja palsu".

Trump juga mengklaim telah memberikan waktu sekitar sepekan kepada Iran agar prosesi pemakaman dapat berlangsung sebelum pembicaraan kembali dilanjutkan. Meski melontarkan pernyataan keras mengenai kepemimpinan Iran, ia menegaskan tetap ingin mempertahankan jalur negosiasi.

Menurut laporan tersebut, Trump kembali menyatakan bahwa setiap putaran perundingan mendatang akan dilakukan dari posisi yang menurutnya lebih menguntungkan bagi Amerika Serikat.

Di saat yang sama, Trump mengungkapkan bahwa Perdana Menteri "Israel" Benjamin Netanyahu meminta pertemuan di Gedung Putih. Pertemuan itu diperkirakan berlangsung setelah agenda Konferensi Tingkat Tinggi NATO, meski hingga kini belum ada jadwal resmi yang diumumkan.

Laporan juga menyebut masih terdapat perbedaan pandangan antara Washington dan Tel Aviv mengenai pendekatan terhadap Iran serta berbagai isu regional lainnya, termasuk perkembangan situasi di Lebanon.

(Samirmusa/arrahmah.id)