ALQUDS (Arrahmah.id) – Seorang penulis "Israel" mengungkap kemerosotan serius kualitas pendidikan di "Israel" setelah hasil tes terbaru menunjukkan para siswa negara itu berada di posisi terbawah di antara negara-negara anggota Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dalam kemampuan matematika dan pemahaman bacaan.
Dalam dua artikel yang dimuat harian Haaretz, penulis "Israel" Lior Dattil menyoroti penurunan kemampuan berpikir dan akademik di kalangan pelajar maupun orang dewasa "Israel". Salah satu artikelnya bahkan diberi judul provokatif, "Kurang Cerdas dari Anak Usia 10 Tahun: Apakah Siswa 'Israel' Sebegitu Bodohnya?"
Menurut Dattil, "Israel" menempati peringkat terakhir dari 15 negara anggota OECD dalam kemampuan matematika dan menjadi negara dengan performa terburuk kedua dalam pemahaman bacaan, setelah Polandia.
Ia menjelaskan bahwa tes OECD mengukur keterampilan dasar yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti memahami petunjuk pada kemasan obat, membaca instruksi tertulis, hingga menghitung kebutuhan material untuk pekerjaan sederhana.
Hasilnya menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Sebanyak 40 persen warga dewasa "Israel" gagal dalam tes pemecahan masalah, jauh di atas rata-rata negara OECD yang berada di angka 29 persen.
Pada kelompok usia 25–65 tahun, sekitar 34 persen responden "Israel" tidak lulus tes matematika, dibanding rata-rata OECD sebesar 25 persen. Hanya 8 persen yang mampu mencapai tingkat kemampuan tertinggi, sementara rata-rata negara OECD mencapai 14 persen.

Dalam tes pemahaman bacaan, sebanyak 36 persen orang dewasa di "Israel" dinyatakan gagal, sedangkan rata-rata OECD berada di angka 26 persen. Adapun mereka yang mencapai tingkat kemampuan tertinggi hanya 7 persen, lebih rendah dibanding rata-rata OECD sebesar 12 persen.
Dattil juga menyoroti bahwa kemampuan orang dewasa di "Israel" terus mengalami penurunan sejak 2015. Dalam tes pemecahan masalah, 40 persen peserta dari "Israel" gagal, sementara hanya 3 persen yang mencapai tingkat kemampuan tinggi, lebih rendah dibanding rata-rata OECD sebesar 5 persen.
Secara keseluruhan, sekitar 24 persen orang dewasa di "Israel" gagal dalam ketiga tes sekaligus, yakni matematika, pemahaman bacaan, dan pemecahan masalah. Angka tersebut lebih tinggi dibanding rata-rata OECD yang mencapai 18 persen.
Sementara itu, analisis yang diterbitkan Biro Pusat Statistik "Israel" pada Mei lalu mengungkap adanya kesenjangan kemampuan di dalam negeri. Sebanyak 54 persen peserta yang gagal dalam tes membaca adalah laki-laki.
Data tersebut juga menunjukkan bahwa warga Arab mencakup 43 persen dari kelompok berkemampuan rendah, meski hanya sekitar 22 persen dari total populasi. Adapun komunitas Haredi menyumbang sekitar 16 persen.
Biro Pusat Statistik "Israel" juga menyebutkan bahwa sekitar sepertiga pekerja dengan kemampuan rendah justru menempati pekerjaan yang membutuhkan kualifikasi pendidikan tinggi, termasuk di bidang teknis dan administrasi. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kemampuan nyata dan tuntutan dunia kerja.
Sebanyak 82 persen warga dengan kemampuan rendah merupakan kelahiran "Israel", bukan imigran baru. Selain itu, kelompok usia 16–24 tahun mencatat tingkat kegagalan sebesar 18 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata OECD yang hanya 11 persen.

Menurut Dattil, salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap kemerosotan tersebut adalah meningkatnya ketergantungan remaja pada layar digital dan permainan video.
Ia menyerukan pentingnya memperkuat peran guru dalam menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan serta mengajarkan kemampuan belajar mandiri. Dattil juga memperingatkan bahwa menurunnya kemampuan berpikir kritis dapat berdampak buruk terhadap masa depan masyarakat "Israel", di tengah semakin meluasnya sikap apatis dan kecenderungan melarikan diri dari realitas.
(Samirmusa/arrahmah.id)
