Memuat...

Akibat Pengeboman Brutal 'Israel', 35.000 Warga Gaza Tuli Total

Hanoum
Sabtu, 10 Januari 2026 / 21 Rajab 1447 12:16
Akibat Pengeboman Brutal 'Israel', 35.000 Warga Gaza Tuli Total
Siswa tunarungu berkomunikasi di sekolah tunarungu di Palestina. [Foto: Majdi Fathi/NurPhoto/Getty Images]

GAZA (Arrahmah.id) -- Diperkirakan 35.000 anak dan orang dewasa sebagian atau sepenuhnya kehilangan pendengaran mereka akibat pemboman selama serangan genosida 'Israel' selama dua tahun di Gaza, menurut survei organisasi nirlaba lokal yang dikutip Le Monde.

“Gangguan pendengaran dapat disebabkan oleh cedera pada kepala atau leher, trauma otak yang menyebabkan gendang telinga pecah dan kerusakan pada sistem pendengaran. Tetapi juga dapat disebabkan oleh paparan gelombang suara, bahkan jika seseorang tidak mengalami cedera fisik,” ungkap Dr. Ramadan Hussein, seorang audiolog yang bekerja dengan Atfaluna Society for the Deaf, dikutip dari Pritzen Post (9/1/2026).

“Gangguan pendengaran ini, paling sering, tidak dapat dipulihkan,” tegasnya.

Salah satu anak yang pendengarannya terpengaruh oleh pemboman adalah seorang gadis berusia 12 tahun bernama Dana.

Ia sedang beristirahat di kamarnya di Gaza ketika satu rudal 'Israel' menghantam gedung tepat di seberang kamarnya, menurut laporan tersebut.

Ayah Dana menekankan ledakan itu sangat dahsyat, dengan pintu kamarnya terlepas dan jendela-jendela hancur. Meskipun selamat dari ledakan, Dana kehilangan pendengarannya.

Para spesialis di organisasi Atfaluna mengkonfirmasi Dana menderita “gangguan pendengaran yang sangat parah”.

Mereka mengatakan, “Karena kekuatan ledakan, saraf pendengaran rusak parah, bahkan mungkin hancur total.”

Dalam kasus lain, seorang bayi yang baru berusia lima hari terlempar dan terkubur di bawah pasir ketika satu rudal 'Israel' menghantam satu meter dari tenda keluarganya di daerah al-Mawassai, Khan Yunis, menurut laporan tersebut.

Ibunya, Safa al-Qara, mengatakan, “Kami menemukannya berkat kakinya yang mencuat. Ia dalam keadaan yang mengerikan; kami pikir ia akan meninggal.” Empat bulan setelah kelahirannya, ibunya menyadari “ada sesuatu yang salah.”

Ia mengatakan hanya gerakan yang “menarik perhatiannya, bukan suara.” Ia kemudian didiagnosis memiliki tingkat pendengaran nol.

Laporan tersebut menyatakan ia sangat membutuhkan alat bantu dengar atau implan koklea untuk menghindari keterlambatan perkembangan yang parah –tugas yang mustahil di wilayah yang terkepung tersebut karena Israel telah memblokir masuknya beberapa peralatan medis dan obat-obatan.

“Selama hampir setahun, tidak satu pun alat bantu dengar yang masuk ke Jalur Gaza,” ujar Dr. Hussein memperingatkan, menambahkan, “Bahkan mereka yang sudah memilikinya pun akan segera tidak dapat menggunakannya, karena baterai juga dilarang.” (hanoum/arrahmah.id)

 

 

HeadlineIsraelPalestinaGazatuli